Kirim Hadiah Surat Al Fatihah

Ini adalah cerita tentang Kiai Fatah yang cerdik dan sering disebut sebagai “Godfather kelompok mafia intelektual” di sebuah daerah di Jawa Tengah. Dia cerdik dalam membuat pendapatnya paling unggul, disimak, dan seperti merangkum semua pembicara lain dalam setiap pertemuan, dengan cara bicara paling akhir.

Merek dagang Kiai Fatah yang sudah diketahui semua orang adalah angkat telunjuk dengan berkata, “Apa masih ada waktu buat saya? persis ketika acara akan diakhiri.

Suatu kali orang NU dan Muhammadiyah mengadakan pertemuan dan sempat bergurau memperdebatkan soal “hadiah” membacakan surat Al Fatihah kepada orang yang sudah meninggal.  Apakah “kiriman” itu bisa sampai kepada sang arwah, seperti pos kilat yang menyampaikan paket ke suatu alam dalam kehidupan dunian? Apa dasar pendapat yang diikuti masing-masing pihak?

Yang dari Muhammadiyah tidak melihat “dalil yang dapat dipegang” dari Al Quran maupun hadis Nabi Muhammad, untuk menunjang kemungkinan kiriman via “pos akhirat” sampai ke tujuan di alam sana. Yang NU berpegang pada pendapat para ulama madzab yang empat, yang menerima kemungkinan seperti itu.

Pandangan Kiai Fatah? “Hadiah Fatihah tidak sampai ke alamatnya menurut Imam Syafii,” kata Kiai Fatah. “Hadiah itu sampai menurut ketiga imam yang lain. Jadi kita ikuti suara mayoritas sajalah.”

Gus Dur pun ikut komentar. “Sudah tentu kirimannya tidak segera sampai secepat pos kilat khusus karena tidak didukung oleh Imam Syafii,” kata Gus Dur, “Tapi mereka toh sudah biasa dengan pola alon-alon asal kelakon? (pelan-pelan asal tercapai tujuannya). (ahm)

About these ads

13 thoughts on “Kirim Hadiah Surat Al Fatihah

  1. Seseorang yang tidak menguasai persoalan agama tidak boleh melakukan penafsiran terhadap Al-Qur’an. Sehingga kalau saja kesimpulannya benar, ia tetap berdosa. Karena ia tidak memiliki kapasitas untuk berbicara tentang Al-Qur’an. Sebab, Islam melarang orang berbicara tentang Allah, agama dan ayat-ayat-Nya tanpa ilmu.

    قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

    “Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) berbicara terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”.” (QS. Al-A’raf: 33)

    Sementara Syetan di antara godaan terbesarnya agar manusia berbicara tentang Allah tanpa ilmu (semaunya sendiri). Allah Ta’ala berfirman,

    إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

    “Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 169)

    Seseorang yang senantiasa membaca surat al-Fatihah yang di dalamnya terdapat doa permohonan hidayah kepada Shiratal Mustaqim adalah orang yang tau akan kelemahan dirinya dan besarnya kebutuhan dirinya dalam menjalani kehidupan ini supaya sesuai dengan keridhaan Allah Ta’ala. Ia sangat butuh kepada pengetahuan terhadap perintah-perintah dan larangan-larangan yang telah Allah tetap atas dirinya, yang jumlahnya sebanyak bintang di langit. Lalu ia butuh agar Allah ilhamkan semangat dan keinginan untuk mengerjakannya. Kemudian ia juga butuh kepada qudrah (kemampuan) untuk mengerjakan semua itu. Jika ini terpenuhi, selanjutnya ia butuh agar bisa istiqamah dan teguh melaziminya hingga akhir hayat. Dan terakhir kesempurnaan hidayah di dunia tersebut berlanjut di akhriat,

  2. ya tidak semua yg mayoritas itu benar bahkan dalam al-quran sendiri Allah swt menyebutkan semua yang kata-kata kebanyakan (mayoritas) pasti konotasinya nigatif ex.” kebanyakan dari mereka kufur, kebanyakan dari mereka tiadak berfikir, kebanyakan dari mereka lalai dsb. Allah juga berfirman ” kalo kalian mengikuti kebanyakan apa yang ada didunia ini, niscaya ia akan menyesatkan kalian dari jalan Allah swt” Nabi juga bersabda ” berbahagialah wahai orang yang terasing ” meninggalkan sesuatu karena kita tidak tau ilmunya itu lebih selamat daripada mengamalkan sesuatu tanpa ilmu,

  3. Tidak semua yang banyak benar, dan tidak semua yang sedikit salah. setahu saya keempat imam rata-rata berpesan, jangan ikuti pendapat saya kalau pendapat saya ternyata bertentangan dengan Alquran dan sunah rasul.

  4. “Hadiah Fatihah tidak sampai ke alamatnya menurut Imam Syafii,” kata Kiai Fatah. “Hadiah itu sampai menurut ketiga imam yang lain. Jadi kita ikuti suara mayoritas sajalah.”

    ya itulah yang dinamakan demokrasi, jadi beribadahpun demokraqsi.
    tapi sebagai moslim yang ikhsan kta ikiuti yang benar. jangan sekali-kali kita mengikuti kebanyakan orang, kalau kebanyakan orang itu membawa kita keneraka.
    Aallahu’alam

  5. Ass. Bukankah kt beribadah mengikuti al-quran n assunnah (petunjuk nabi Muhammad n para sahabat) bukan petunjuk para imam, maka ibadah yang sahih menurut saya adalah ibadah mencontoh ibadah nabi Muhammad dan para sahabat.

    • Ass. memang benar kita beribadah wajib mengikuti al-quran n assunnah (petunjuk nabi Muhammad n para sahabat). Yang jadi pertannyaan, pernahkah anda bertemu dengan nabi dan para sahabat?seberapa dalam pemahaman anda atau saya, tentang makna dari isi yang terkandung dalam Al-Qur’an, sudah berapa banyak pengetahuan kita tentang asbabun nuzul setiap ayat yang turun. sudah berapa ratus/ribu hadist yang sudah kita hafal beserta sanadnya?…. Sebagai gambaran, anda tentunya tidak asing mendengar nama imam Bukhari dan imam Muslim, mereka mempelajari & hafal Al-Qur’an sejak usia dini, mereka ahli dalam berbagai ilmu khususnya ilmu agama, dan karya terbesar mereka adalah berhasil mengumpulkan jutaan, sekali lagi jutaan hadist yang tersebar, mereka mempelajarinya,menelaah,dan menyaringnya mana hadist yang shoheh,lemah,dan palsu, hingga hanya tinggal beberapa ribu hadist yang benar-benar shoheh yang menjadi acuan seluruh umat islam didunia saat ini. Lalu apa hubunganya dengan imam yang anda sebutkan diatas?, asal anda tahu, bahwa kedua imam ini(bukhari muslim), yang hafal ratusan ribu hadist, dalam hal hukum dan ibadah masih bermahdzab pada salah satu dari keempat imam besar, yaitu imam Syafi’i, Maliki, Hanafi, dan Hambali. Lalu kita berada dimana? baru hafal Al-Qur’an dan hafal puluhan hadist, sudah berani menyimpulkan tata cara ibadah dan hukum menurut kita sendiri…… Moga Allah selalu memberi Ampunan pada kita semua. Amin.

    • Walah, anda blng ibadah mencontoh nabi…nulis salam aja nda benar…gma mau nyalahin yang benar, mbok ya mikir dari hal yang kecil…makasih, Ass=(W)

    • Imam 4 selalu berpesan” jangan ikuti pendapat saya jika pendapat sya bertentangan dengan alqur’an ” : beliau 4 imam ini orang yang paling dekat dengan alqur’andan paling paham dengan alqur’an dibanding dengan kita-kita orang awam terhadap alqur’an, kita tahu tentang isinya alqur’an juga hanya sebatas terjemahan yang ada, itu pun bukan hasil karya kita, kita kadang sok tahu, kalau kirim fatihah mungkin tidak nyampe, tetapi kalau mendoakan orang yang sudah meninggal itu dianjurkan , baik menurut alqur’an ataupun hadits dan itu jelas manfaat dari doa’a itu dapat dirasakan oleh yang meninggal.

    • Bagi yg gak percaya..sialahkan mati aja dulu entar ana kirim Alfateha..sampai kagaknya entr kasi kbr sama ana..itu ja kq repoott amat…

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s