I’tiqod Ahlussunnah Wal Jama’ah

Copy of gse_multipart62273LEBIH JAUH MENGENAL AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

Bismillahirrohmanirrohim, puji dan syukur senantiasa terhaturkan kehadirat Allah SWT, yang tak henti­ hentinya melimpahkan anugerah­Nya kepada kita sekalian baik yang bersifat dzahir maupun bathin. Adapun sebesar-besar nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita adalah nikmat Islam dan Iman, berkata Al-Habib Abdullah bin Alawi Al-Haddad r.a.

Kita berada dalam kesenangan dan ketenangan

Dalam kebahagiaan dan ketentraman

Nikmat Islam, nikmat yang paling besar

Telah menetap dalam hati kita

Semoga Allah senantiasa menjaga nikmat yang agung itu dalam diri kita. Sholawat serta Salam semoga tetap tercurahkan keharibaan junjungan Nabi Besar Muhammad s.a.w. beserta keluarga, sahabat dan para pengikut­nya.

Para pembaca yang budiman, Seyogyanya sebagai seorang mukmin yang menginginkan kebaikan dan keselamatan dunia dan akherat, kita selalu menjaga dengan baik sesuatu yang paling berharga dalam diri kita,yaitu Iman dari berbagai hal yang dapat merusak dan melemahkannya.

Atas dasar itulah kami Pemuda Nabawiy melalui rubrik ruang tauhid kali ini, ingin mengetengahkan kehadapan para pembaca berbagai hal yang berkaitan dengan pemahaman tentang aqidah AHLUS SUNNAH WALJAMAAH dan berbagai penyimpangan aqidah yang terjadi ditengah-tengah umat ini, dengan harapan kita akan dapat memperkokoh aqidah AHLUS SUNNAH WALJAMAAH serta menghindarkan diri dari segala bentuk ajaran yang menyesatkan. Berkata para ulama : “Barang siapa yang tidak mengetahui suatu keburukan, maka dikhawatirkan ia akan terjerumus ke dalamnya”.

Sebelum kami membahas lebih lanjut tentang tema diatas, terlebih dahulu akan kami sampaikan sebuah hadits Nabi s.a.w., Beliau bersabda “Orang Yahudi terpecah menjadi 71 golongan dan orang Nasrani terpecah menjadi 72 golongan, adapun umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. (HR: Bukhori – Muslim – Abu Daud -Turmudzi-Nasai’ dan IbnuMajah)

Dalam riwayat lain ditambahkan “kesemuanya berada dalam neraka kecuali golongan yang tetap berpegang teguh pada ajaran-ku dan ajaran para sahabat-ku”

72 golongan yang dinyatakan oleh Nabi s.a.w. berada dalam neraka adalah kelompok-kelompok sesat, namun jumlah mereka belum seberapa jika dibandingkan dengan satu golongan yang selamat yang disebut dengan Assawadul A’dhom (kelompok mayoritas).

Berikut ini akan kami sampaikan kepada para pembaca tentang macam ­macam dari kelompok tersebut. Mengutip dari apa yang disampaikan oleh Al-Allamah Al-Habib Ali bin Abubakar Assegaf Al-Alawy dalam kitabnya Ma’arijul Hidayah, yang juga dikutip dalam kitab Bughyatul Mustarsyidin.

“Berhati-hatilah engkau wahai saudaraku dari segala bentuk bid’ah dan orang-orangnya, dan jauhilah olehmu untuk berkumpul dengan mereka. Ketahuilah bahwa sumber­sumber bid’ah dalam masalah aqidah sebagaimana dituturkan oleh para ulama kembali kepada 7 kelompok

· Al-Mu’tazilah, yang berpendapat bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri, mereka juga menafikan ru’yah (melihat Allah) bagi orang-orang mukmin dan mewajibkan kepada Allah untuk memberi pahala bagi yang beribadah serta dosa bagi yang bermaksiat. Karena jika tidak, mereka akan menyatakan bahwa Allah tidak adil atau dzolim. Mereka ada 20 golongan.

· Ar-Rowafid, yang mengkultuskan Imam Ali bin Abi Thalib k.w. dan membenci bahkan mengkafirkan mayoritas sahabat Nabi s.a.w. Mereka ada 22 golongan.

· Al-Khowarij, kelompok yang antipati kepada Imam Ali k.w., bahkan mengkafirkan beliau, juga mengkafirkan orang-orang yang melakukan dosa besar. Mereka terpecahmenjadi20golongan.

· Al-Murji’ah, yang berpendapat bahwa kemaksiatan tidak mempengaruhi iman dan ketaatan, tak dapat bermanfaat dengan kekufuran. Mereka ada 5 golongan.

· An-Nijjariah, mereka sepakat dengan ahlus sunnah dalam hal bahwa Allah yang menciptakan perbuatan manusia. Disisi lain mereka setuju dengan muktazilah dalam menafikkan sifat-sifat Allah yang azali, dan menyatakan bahwa Al-quran itu sesuatu yang hadist (bukan qodim), dengan kata lain Al-quran adalah makhluk bukan kalamullah. Mereka ada 3 golongan.

· Al-Jabariyah, yang menyatakan bahwa setiap hamba tidak boleh / tidak perlu untuk berikhtiar. Mereka hanya satu golongan.

· Al-Musyabbihah, yang menyamakan Allah dengan makhluk dalam hal memiliki anggota badan, dan bertempat disuatu tempat. Mereka juga disebut ahlul khulul, dan hanya satu kelompok.

Dengan demikian jumlah mereka ada 72 golongan, adapun kelompok yang ke 73 adalah AHLUS SUNNAH WALJAMAAH yang berisikan ajaran-ajaran dzahir yang menjadi syari’at bagi umat, dan ajaran-ajaran yang bersifat bathin yang disebut dengan tharigoh yang diperuntukkan bagi kalangan tertentu (khowass), dan memiliki qulasoh yang dikhususkan bagi suatu haqiqoh yang menjadi tangga kenaikan derajad bagi kalangan yang tertinggi (akhossul khossoh).

Syariat menjadi bagian bagi aggota badan kita untuk berkhidmat kepada Allah SWT, adapun tharigoh akan menjadi bagian bagi hati yang berisikan ilmu, makrifah, dan hikmah. Sedangkan haqiqoh adalah bagian bagi arwah untuk mendapatkan musyahadah dan ru’yah (menyaksikan keagungan Allah).

Kini kami akan mencoba untuk menjelaskan lebih lanjut tentang latar belakang lahirnya AHLUS SUNNAH WALJAMAAH .

Para pembaca yang budiman, sesungguhnya kaum muslimin pada masa hidup Nabi Muhammad s.a.w. Adalah umat yang satu (umatun wahidah), mereka tak pernah berselisih baik dalam akidah maupun amaliyah yang dzohir dengan perselisian yang menyebabkan perpecahan dan pertikaian (tahazzub & taassub). Kalaupun ada perbedaan hanyalah sebatas masalah-masalah furu’iyah (non aqidah), dan itu dikarenakan terjadi perbedaan antara satu orang dengan yang lain dalam memahami sabda-sabda Nabi s.a.w. Inilah yang disebut dengan ikhtilafat­ijtihadiah.

Adapun sepeninggal Nabi s.a.w., maka Sayyidina Abubakar r.a. menjadi khalifah, sekalipun dimasa kekhalifaan beliau sempat terjadi perselisisn-perselisihan kecil tentang beberapa hal. Namun itu semua tiada berarti, karena kepemimpinan Abubakar r.a. mampu meredam perselisian yang terjadi.

Demikian juga ketika jabatan khalifah berada pada tangan Sayyidina Umar bin Khattob r.a.

Dan pada saat Sayyidina Ustman bin Afan r.a. tampil sebagai khalifah, perselisihan diantara sahabat mulai muncul kepermukaan. Sudah barang tentu orang-orang yang membenci Ustman bin Affan r.a. selalu berusaha untuk melengserkan beliau dari jabatannya dengan melemparkan tuduhan-tuduhan jahat. Sehingga pada puncaknya Sayyidina Ustman r.a. wafat karena dibunuh sebagaimana pembunuhan yang menimpa Sayyidina Umar bin Khattob r.a.

Barulah setelah itu Imam Ali bin Abi Thalib k.w. di Baiat sebagai khalifah ke empat. Namun naiknya Imam Ali k.w. kekursi khilafah diganjal oleh Muawiyah dan kelompoknya. Ketika itu Muawiyah r.a. didaulat oleh kelompoknya untuk menjadi khalifah keempat, dan bagi mereka pembunuhan terhadap Sayyidina Ustman r:a. harus diusut dengan tuntas sebelum pengangkatan khalifah. Namun tampaknya sosok Imam Ali bin Abi Thalib lah yang lebih mendapat dukungan mayoritas untuk menjadi khalifah .Bagi Imam Ali k.w. dan para pendukungnya, dalam masalah pengangkatan khalifah dan pembentukan sebuah pemerintahan harus didahulukan sebelum mengusut pembunuhan Sayyidina Ustman r.a., hal ini guna menghindari kevakuman.

Rupanya perselisihan kedua pihak ini dimanfaatkan oleh para provokator yang ingin memancing di airkeruh, hinggaterjadilahbentrokan fisik antara kedua kelompok yang disebut dengan peperangan siffin.

Adapun Muawiyah dan kelompoknya dianggap sebagai kelompok bughot (kelompok yang menentang pemerintaan yang sah) pada saat pasukan Muawiyah terdesak mereka mengangkat Al­Qur’an dengan tombak sebagai tanda menyerah.

Ketika itu Imam Ali k.w. segera menghentikan peperangan. Akan tetapi sebagian dari pengikut beliau ingin agar perang diteruskan sampai darah penghabisan. Karena adanya dua pendapat inilah beliau k.w. memutuskan untuk melibatkan dua orang dari masing-masing kelompok yang dianggap layak menjadi penengah, yaitu : Abu Musa Al­Asy’ari (dari kelompok Imam All k.w.) dan Amr bin Ash (dari kelompok Muawiyah). Pada akhirnya perdamaianlah yang menjadi keputusan final.

Sebagian orang yang tadinya menginginkan agar perang diteruskan merasa aspirasinya tidak tertampung, lalu mereka membelot dari Imam Ali k.w.dengan membentuk kelompok sendiri, dan mereka menamakan diri sebagai kelompok khowarij yang dikenal sebagai kelompok yang antipati terhadap Iman Ali bin Abi Thalib k.w. Mereka tidak segan-segan menghujat, bahkan mengkafirkan Iman Ali k.w. serta pengikutnya. Dalam situasi inilah muncul si raja provokator yang bernama Abdullah bin Saba’. Tanpa henti-hentinya ia memprovokasi dan menghasut para pengikut Imam Ali k.w. agar melakukan pembelaan sebagai reaksi atas kelompok Khowarij. Rupanya usaha dari Abdullah bin Saba’ ini membawa hasil hingga akhirnya ia dan para pengikutnya yang mengaku sebagai pembela Iman Ali k.w. membentuk kelompok sendiri yang menamakan diri sebagai kelompok Saba’iyyah. Mereka bukannya membela Imam Ali k.w. dalam artian yang positif, akan tetapi mereka justru melakukan penyimpangan aqidah dengan menuhankan Iman Ali k.w.

Kelompok inilah yang menjadi cikal bakal munculnya kelompok Rowafid.

Imam Ali k.w. pun tidak tinggal diam, beliau lalu memerangi kelompok tersebut hingga Ibnu Saba’ diasingkan oleh beliau ke sebuah tempat. Sepeninggal Imam Ali k.w., kelompok ini berkembang dan terpecah menjadi beberapa kelompok, diantaranya adalah Zaidiyah, Imamiyah, Kaisaniyah, dan Ghulah, hingga menjadi 22 golongan. Mereka saling mengkafirkan antara yang satu dengan lainnya.

Demikian pula yang terjadi dengan kelompok Khawarij. Mereka terpecah menjadi 20 sempalan.

Hal ini terus berlangsung sampai munculnya kelompok Qadariyah pada zaman Muta’akhirin dari sahabat. Kelompok mereka ini telah dinyatakan oleh Nabi s.a.w. sebelumnya sebagai Majusi umat ini. Para sahabat yang ada pada saat itu, seperti Ibnu Umar, Jabir Al-Anshari, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Anas bin Malik Radhiallahu’anhum. Mereka mewasiatkan pada para penerusnya agar tidak memberi salam kepada kelompok Qadariyah, juga melarang mensholati jenazah mereka, serta mengunjungi orang yang sakit dari mereka.

Pada zaman para tabi’in tepatnya pada masa Imam Hasan Al-Basri r.a., muncullah orang yang bernama Wasil bin Atho’ dan Amr bin Ubeid bin Babin yang membawa khilaf dalam masalah takdir. Diantara pendapat mereka adalah bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri, juga menyatakan orang yang fasiq (melakukan dosa besar), mereka dinyatakan bukan sebagai mukmin bukan pula sebagai orang kafir. Ini yang disebut dengan manzilah bainal manzilatain . Mereka berdua diusir oleh Imam Hasan Al-Basri r.a. dari majlisnya, lalu membentuk kelompok Mu’tazilah (Ahlul adlwattauhid).

Maka sejak itu lahirlah nama Ahlus Sunnah Wal Jamaah untuk membedakan dari kelompok­kelompok yang lain, dan sebagai satu­satunya kelompok yang tetap berpegang teguh padaAssunnah,juga mengikuti serta melestarikan ajaran para salaf (sahabat). Baik dalam aqidah maupun amaliyah. Sebagai kelompok mayoritas Ahlus SunnahWaljama’ah memiliki ciri tersendiri dalam ajaranya yang jauh dari kedengkian dan kesesatan.

Sebagai Alfirqotun-najiyah, banyak sekali tokoh-tokoh yang membina lahirnya Ahli Sunnah Waljamaah, diantaranya adalah para Ashabul Madzahib, seperti : Iman Syafi’i, Iman Malik, Imam Ahmad bin Hambal, dan Imam Abu Hanifah.

Ahlus Sunnah Waljamaah berada dalam satu naungan aqidah, sedang dalam segi syari’ah (masalah ­masalah furu’iah) sekalipun ada perbedaan disana-sini, hanyalah sebatas perbedaan ijtihad sesuai dengan madzhab yang diikuti dari empat macam madzhab tersebut diatas. Dengan tetap berpegang pada sumber-sumber hukum Islam (Al­Quran, Assunnah, Ijma’, Qiyas para Mujtahidin) bukan perbedaan yang menimbulkan perpecahan, apalagi sampai mengkafirkan dan menganggap sesat golongan yang berbeda, seperti yang terjadi pada kelompok-kelompok selain Ahlus Sunnah Walj amaah.

Dari sekian banyak tokoh-tokoh Ahlus Sunnah Waljamaah ada yang menyibukkan dirinya dalam urusan Fiqhiyah, dan mereka disebut para Fuqoha seperti empat iman diatas, sekalipun mereka orang-orang yang memiliki andil yang cukup besar dalam masalah-masalah aqidah dan tasawuf, akan tetapi tuntutan zaman pada saat itu membuat mereka memberikan perhatian yang besar terhadap urusan-urusan syar’i.

Adapun diantara mereka yang lebih menitik beratkan pada masalah­masalah aqidah disebut sebagai mutakalimin (ahlul kalam). Adapula yang lebih berkompeten dalam masalah-masalah bathiniyah / pembenahan hati, dan mereka itulah yang disebut Sufi (ahli tasawuf), ada juga yang disebut Ahlul Hadits dan Ahlul Tafsir (Muhaditsin dan Mufassirin).

Mereka semua adalah aset terbesar bagi umat ini dan bagi Ahlus Sunnah Walj ama’ ah khususnya. Mereka telah berjasa dalam memperkaya khasanah keilmuan bagi agama ini, mereka juga telah mengabdikan diri dalam meluruskan penyimpangan­penyimpangan yang terjadi ditengah­tengah umat ini, hingga keberadaan mereka telah meminimalisir perpecahan umat.

Kebesaran Ahlus Sunnah Waljama’ah semakin kokoh dengan munculnya dua orang tokoh, yaitu Abul Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansyur Al-Maturidi. Kedua tokoh inilah yang telah berjasa dalam menetapkan pokok-pokok ajaran Ahlus Sunnah Waljamaah.

Pengikut Al-Asy’ari adalah para penganut madzhab Sayafii, sedangkan pengikut Al-Maturidi adalah para penganut madzhab Abu Hanifah, tidak ada perbedaan yang berarti diantara mereka.

Bagi kita umat Islam Indonesia mayoritas adalah para penganut madzhab Syafii dalam syari’ah dan Asy’ari dalam aqidah. Demikian juga dengan mayoritas para Habaib (Alawiyyin) yang ada di Hadramaut. Sebagian dari mereka ada yang datang ke Indonesia guna berda’wah dengan menanamkan pokok-pokok ajaran dari kedua Imam tersebut. Dapat kita lihat dari berbagai kitab hasil karya mereka yang telah memperkenalkan kepada kita madzhab Syafii dalam Fiqh dan Asy’ari dalam tauhid.

Dengan menyesal kami belum dapat menguraikannya pada edisi kali ini, dan Insya Allah Pemuda Nabawiy akan mengulasnya pada edisi mendatang, sebagai upaya menjaga aqidah kita dari hal-hal yang menyesatkan. Semoga Allah senantiasa menjaga diri dan keluarga kita dari para-para Ahlul Bid’ah Waddolalah.

Sumber: (Ust. Abubakar Hasan Ass.)-Pemuda Nabawiy Vol.1, No.5, September 2002 / Rajab 1423 H.

About these ads

One thought on “I’tiqod Ahlussunnah Wal Jama’ah

  1. Siapakah yang digolongkan ke dalam firqah Ahli’s-Sunnah wal-Jama’ah itu? Antara mereka yang dinyatakan tennasuk ke dalam firqah Ahli’s-Sunnah itu ialah sebagaimana yang dicatitkan oleh al-Baghdadi dalam al-Farq baina’lFiraq nya.’-3 Dinyatakan bahawa mereka itu terdiri daripada lapan golongan.

    Pertamanya mereka yang mempunyai dan berkeyakinan tentang bab-bab mengesakan Allah, nubuwwah, hukum-hukum wa’d Oanjl memberi balasan baik kepada mereka yang melakukan kebaikan) dan wa’id (iaitu janji memberi balasan jahat kepada mereka yang melakukan kejahatan jika tidak diampunkan), pahala, balasan azab, syarat-syarat ijtihad dan imamah, serta mereka menjalani jalan agama yang demikian ini. Mereka ini termasuk daripada golongan mutakallimin yang bebas daripada tashbih dan ta’til daripada perkara-perkara bid’ah Rawafid, Khawarij, Jahmiyah, Najjariyah dan lain-lain golongan sesat yang mengikuti hawa nafsu.

    Keduanya mereka yang terdiri daripada imam-imam dalam ilmu fiqh yang terdiri daripada dua golongan pula, laitu mereka yang berpegang kepada hadith (dan tidak begitu berpegang kepada fikiran, ra’y) dan yang berpegang kepada hadith (selepas daripada berpegang kepada Qur’an); mereka ini terdiri daripada golongan yang beri’tikad tentang dasar-dasar agama (usulu’d-din) mazhab yang percaya kepada sifat-sifat Allah, ZatNya dan mereka yang bersih daripada pegangan Qadariyah dan Mu’tazilah. Mereka percaya kepada harusnya memandang Wajah Allah di akhirat dengan pandangan mata tanpa tashbih dan ta’til, serta mereka mempercayai bangkit dari kubur serta soalan Munkar dan Nakir di dalamnya, juga percaya kepada Kolam Nabi, Sirat, Shafa’at dan keampunan dosa dan mereka tidak mensyirikkan Allah. Mereka percaya kepada kekalnya ni’mat syurga kepada ahlinya dan kekalnya azab neraka kkepada ahlinya. Na,udhi billahi min dhalik. Mereka percaya kepada Imamah Abu Bakar, ‘Umar, ‘Uthinan dan ‘Ali serta mereka memuji golongan salaf as-Salih dengan pujian yang baik dan mereka berpegang kepada wajibnya sembahyang juma’at di belakang para imam Jumu’at bersih diri mereka daripada bid’ah ahli hawa nafsu yang mengikut keinginan mereka dalam Pegangan itu. Mereka ini juga berpegang kepa da wajibnya istinbat hukum hukum Syari’at daripada Qur’an dan Sunnah dan ijma’ para Sahabat, serta mereka memegang kepada ajaran harus menyapu kasut panjang (dalam wudhu’) dan berlakunya tiga talak, dan juga mereka mengharamkan mut’ah serta berpegang kepada wajibnya taatnya kepada Sultan di dalam perkara yan bukan ma’siat terhadap Allah.

    Termasuk ke dalam golongan ini ialah para pengikut imam-imam Malik, Syafi’i, Auza’i, al-Thauri Abu Hanifah, Ibn Abi Laila juga para pengikut Abi Thaur, Ahmad b. Hanbal dan ahli zahir dan lain-lain ulama fiqh yang berpegang kepada Perkara-perkara yang boleh dicapai dengan akal dan berpegang kepada asal usul sifat Allah serta tidak mencampurkan fiqhnya dengan suatu daripada bid’ah-bid’ah sesat daripada mereka yang mengikut hawa nafsu yang sesat.

    Golongan Ahlis-Sunah Yang ketiga ialah mereka yang mempunyai ilmu yang cukup tentang jalan-jalan riwayat hadith-hadith Nabi S.A.W. serta sunnah-sunnah yang datang daripada Baginda S.A.W. serta mereka boleh membezakan antara riwayat-riwayat yang sahih, yang ‘sakit’, dan mereka tahu tentang sebab-sebab ‘cedera’nya para periwayat, dan ‘adil’nya mereka (dan oleh itu riwayat mereka boleh diterima) dan mereka tidak mencampuradukkan ilmu mereka itu dengan sesuatu daripada ahli hawa nafsu yang sesat.

    Golongan yang keempat ialah mereka yang mempunyai ilmu mencukupi tentang sastera dan nahu serta tasrif serta mereka Yang mengikuti perjalanan imam-imam dalam ilmu bahasa seperti al-Khali’l, Abu ‘Amru bin al-‘Ala, Sibawaih, al-Farra’, al-Akhfash, al-Asma’i, al-Mazini dan Abi ‘Ubaid, dan lain-lain imam dalam nahu yang terdiri daripada golongan orang-orang Kufah dan Basrah Yang tidak mencampuradukkan ilmu mereka dengan bid’ah-bid’ah sesat daripada kaum-kaum sesat itu, seperti kaum Qadariyah, Rafidah atau Khawarij. Sesiapa daripada mereka yang cenderung kepada sesuatu daripada aliran bid’ah sesat kaum sesat itu, maka mereka tidak termasuk ke dalam golongan Ahli’s-Sunnah wal-Jama’ah dan pendapatnya dalam lughat dan nahu tidak menjadi hujjah lagi.

    Golongan yang kelima ialah mereka yang mempunyai ilmu yang mencukupi berkenaan dengan segi-segi pembacaan Qur’an (qira’at) serta segi-segi tafsir ayat-ayat Qur’an dan ta’wil-ta’wilnya yang sesuai dengan mazhab Ahli’s Sunnah wal-Jama’ah, dan bukan ta’wil-ta’wil mengikut ahli-ahli aliran-aliran yang sesat itu.

    Golongan yang keenam ialah golongan ahli-ahli zuhud dan sufiyah (al-zuhhad al-sufiyah) yang mempunyai pandangan yang tajam, serta mereka mengawal diri daripada apa yang tidak sepatutnya, dan mereka menguji diri dan mendapat pengalaman dalam bidang rohaniah (absaru fa aqsaru wa’khtabaru) serta mereka mengambil i’tibar sebaiknya dan mereka redha dengan apa yang ditakdirkan oleh Allah. Mereka rasa memadai dengan rezeki yang sedikit (yang dikurniakan oleh Allah kepada mereka), dan mereka ini tahu bahawasanya pendengaran, pemandangan dan fu’ad atau hati, itu semuanya akan ditanya tentang kebaikan dan kejahatan yang dilakukan. Mereka itu menghisab diri mereka di atas amalan yang dilakukan walau sebesar zarrah, dan mereka mempersiapkan bagi diri mereka persiapan yang sebaiknya bagi hari yang penghabisan itu iaitu Akhirat. Mereka menghuraikan ilmu mereka dengan menggunakan jalan ‘ibarat dan isyarat mengikut perjalanan ahli-ahli ilmu hadith, bukan mengikut mereka yang mengeluarkan kata-kata kosong dan tidak melakukan apa yang baik kerana ria’ dan mereka tidak meninggalkan apa yang baik itu kerana malu kepada sesiapa. Agama golongan sufiyah ini adalah agama tauhid yang menolak tashbih dan mazhab mereka ialah menyerah diri tunduk (tafivid) kepada Allah, bertawakkal kepadanya serta tunduk taslim bagi perintahnya serta merasai memadai dengan apa yang direzekikan olehnya serta berpaling daripada menentang apa yang ditentukan Allah. Mereka itu adalah sebagaimana yang digambarkan dalam Qur’an.

    Maksudnya: “Itulah pemberian daripada Allah yang dikurniakan kepada sesiapa vang dikehendakinya dan Allah mempunyai pemberian yang amat besar’.

    Golongan yang ketujuh ialah mereka yang bersiap sedia menjaga kubu-kubu Muslimin (di sempadan Negeri Islam) dalam menghadapi orang-orang kafir, berjuang melawan seteru Muslimin dan mereka menjaga kawasan Muslimin dan juga memberi perlindungan kepada para wanita maeremkuasiltiumminaz dan rumah tangga mereka serta menzahirkan pada kubu-kubu mereka itu mazhab Ahli’s-Sunnah wal-Jama’ah. Dalam hubungan dengan mereka inilah Allah turunkan firmannya:

    Maksudnya: “Dan mereka yang berjihad untuk (mencari keredaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami”.

    Mudah-mudahan Allah kurniakan kepada mereka itu taufik dengan pemberian dan kemurahannya.

    Golongan kelapan ialah negeri-negeri yang mendokong mazhab Ahli’s-Sunnah wal-Jama’ah, bukannya mendokong tempat-tempat yang merupakan syi’ar-syi’ar bagi golongan-golongan yang sesat dan mengikut hawa nafsu. Yang dimaksudkan dengan golongan ini ialah golongan orang ramai di mana-mana yang beri’tikad tentang benarnya ulama’ Ahli’s-Sunnah wal-Jama’ah yang berpegang kepada bab-bab keadilan Tuhan dan TauhidNya, wa’d, wa’id, dan mereka merujuk kepada ulama’ Ahli’s-Sunnah dalam bimbingan ajaran-ajaran agama mereka serta mereka mengikuti Para ulama’ dalam perkara-perkara furu’ berkenaan dengan halal dan haram. Mereka tidak beri’tikad suatupun daripada perkara yang ada dalam pegangan golongan-golongan ahli kesesatan itu. Inilah golongan-golongan yang berada dalam kalangan Ahli’s-Sunnah wal-Jama ah. Merekalah pemegang agama yang benar dan mereka berada di atas Sirat al-Mustaqim. Moga-moga Allah tetapkan mereka di atas kalimah yang hak dan tetap di atas dunia ini dan akhirat. Allahumma amin.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s