Tahlil Jadi Bahan Diskusi dalam Daurah Kader Pembela Aswaja

Surabaya, NU Online.

Daurah Kader Pembela Ahlussunnah Waljamaah (Aswaja) yang dilaksanakan PWNU Jawa Timur berlangsung sesuai dengan rencana. Daurah bertema ‘meneguhkan tradisi Islam Aswaja, membendung penyimpangan faham’ itu dibuka pada Jum’at (7/10) malam oleh Rais Syuriah PWNU Jawa Timur KH Miftachul Akhyar.  Setelah membuka secara resmi, Kiai Miftah sekaligus menjadi narasumber yang pertama dalam acara tersebut, baru dilanjutkan oleh KH Abdurrahman Navis (Wakil Katib Syuriah, Direktur Aswaja NU Center yang bertindak sebagai penanggung jawab acara tersebut. Setelah Kiai Navis.

Disusul kemudian oleh Ustadz Idrus Ramli, ahli bahtsul masail dari PCNU Jember, yang banyak menulis buku-buku amaliah dan keyakinan warga NU. Namun untuk acara yang berakhir sekitar pukul 23.00 itu Ustadz Idrus hanya memberikan pengantar.

Pada Ahad (8/10) pagi daurah diisi oleh KH Muhyiddin Abdush Shomad. Rais PCNU Jember yang juga penulis buku-buku tentang dalil amaliah kaum nahdliyin itu memberikan materi tentang firqah-firqah dalam Islam.  Setelah Kiai Muhyiddin, penyaji selanjutnya Ustadz Idrus Ramli dengan materi amaliah nahdliyah, sementara Kiai Navis, H Faris Choirul Anam (pemateri selanjutnya), dan beberapa kiai yang lain turut menyimak di kursi bagian belakang.
Suasana daurah berlangsung cukup komunikatif. Para peserta bisa langsung bertanya manakala ada persoalan yang belum ditemui jawabnya. Seperti halnya yang dilakukan oleh Gus Ali Maghfur.
Ketika Ustadz Idrus sedang menyampaikan materi tentang tahlil berikut rangkaian tradisi yang mengkutinya, aktifis bahtsul masail PWNU itu menanyakan secara terbuka soal potongan-potongan ayat yang diselingi bacaan lain, siapa penyusun redaksional tahlil dan sanad tahlil itu sendiri.
“Sebab pertanyaan-pertanyaan ini seringkali menjatuhkan mental kaum nahdliyin ketika ada orang bertanya dan mereka tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan,” kata Gus Ali Maghfur.
Tidak hanya persoalan itu yang muncul dalam daurah. Persoalan kalimat ‘adrikni ya rasulallah’ dalam bacaan istighosah juga dipertanyakan, sebab dalam istighosah PWNU kalimat itu ada dan masih utuh, sedangkan dalam istighosah yang di PBNU sudah tidak ada lagi.
Masalah lain yang menjadi bahan diskusi adalah tentang selamatan tujuh hari kematian, hidangan ketika ada orang meninggal, tahlil dalam tinjauan guru besar penganut faham Hambali (yang banyak dianut kaum wahabi) dan lain-lain.
Alumnus Pesantren Sidogiri Pasuruan itupun dapat memberikan jawaban dengan sangat bagus. Semuanya berdasar Hadits yang ditampilkan dalam slide proyektor. Para peserta pun boleh menyangga ataupun membela. Sebagai penyejuk suasana, Ustadz Idrus kadang menyelinginya dengan humor ringan. Seperti halnya ketika ditanyakan tentang sedekah saat ada kematian, aktifis bahtsul masail PCNU Jember itu menyebut sebuah Hadits tentang anjuran orang memberikan makanan.
Hadits itu menyebutkan, ketika ditanyakan kepada Rasulullah SAW: apakah Islam itu? Dijawab oleh Rasul: Islam ialah memberikan makanan, berbicara yang baik dan mengucapkan salam.
“Tidak ada itu ketika Rasul ditanya: apakah Islam itu, lalu dijawab: Al-Khilafah. Tidak ada itu,” tutur Ustadz Idrus dengan nada bercanda.

 

Walhasil, suasana daurah menjadi komunikatif kembali.

http://nu.or.id/

About these ads

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s