Dan Yang Merasa Paling Benar Itupun Bertaubat. Alhamdulillah..

Ada seorang pengunjung Blog Salafytobat bernama Abu Salman bertanya: “saya mau tanya? apakah anda benar pernah ikut salafy? mengapa keluar? karena tobat? atau karena pendapat anda tidak dipakai oleh yang lain? sehingga akhirnya anda “purik” dan membuat blog ini? saya cuma tanya, tidak usah emosi…..semoga Alloh menunjuki kita jalan yang lurus…amin.”

Bagaimana Slafytobat menjawab pertanyaan dari Abu Salman? Inilah kisahperjalanan spiritual Pemilik Blog Salafytobat yang namanya sangat terkenal di dunia internet. Baca terus dialognya yang  sedemikian menarik berikut ini dan Anda akan menemukan jawaban dari pertanyaan Abu Salman. Pertanyaan ‘iseng dan nakal’  itu akhirnya menyingkap  kisah taubatnya Salaytobat dari “faham Salafy Wahhabi”. Nama aslinya  ternyata Dibyochemeng….

  • saya di yogyakarta. gimana cara saya kalao mau bertobat dan ikut tarekat???

    Reply
  • insyaAllah tobat dimana saja….
    silahkan anda ke ponpes sirajul mukhlasin payaman-magelang.

    jumpa dgn KH Mukhlisun,
    anda bisa mengambil ijasah tharekat dan belajar ilmu-ilmu agama dgn beliau…

    Reply
  • Assalamu’alaikum

    Wah parah… untuk tobat saja mesti pake Ijazah? Gelarnya apa?

    Tarekat?

    Wassalamu’alaikum

    Reply
  • Tobat dimana saja boleh. Tobat kepada Allah (jika kita berdosa kpd sesama manusia tidak cukup bertobat kpd Allah tapi juga minta maaf kpd manusia tsb).

    _________
    Dalam Thareqat bukan hanya diajarkan wirid saja. Tapi diajar banyak sekali ilmu-ilmu utk mendekatkan diri kepada Allah.

    Karena ilmu dan dzikir adalah dua perkara yang tak boleh dipisahkan, keduanya sama2 untuk mendekatkan diri kpd Allah.

    Tharekat adalah untuk mengangkat ilmu2 islam (aqidah, fiqh, muamalat, mu’asyarat, ahlaq) dari teori kedalam amal perbuatan yang dilakukan secara istiqamah, ikhlas dan ikut sunnah nabi sehingga menjadi sifat hakikat dalam dirinya….

    Harus pake ijazah/izin dari guru dalam thareqat ini…..untuk membimbing kita dan agar tidak tersesat…

    Ini juga disebut bai’ah sufiyah (kita berbaiat kepad mursyid untuk memegang teguh ajaran islam yg diajarkan kepadanya).

    ini sangat penting dlm belajar thareqat, selain utk menjaga sanad thareqat (jika sanad ilmu terputus berarti ia tidak sambung lagi)…..juga sunnah.

    ingat Nabi memberikan macam2 ba’iah. dalam kitab asyari’ah wa thareqah syaikul hadits maulana zakariya alkhandahlawi rah berkata : Bai’ah thareqat bukanlah bai’ah untuk jihad tapi bai’ah untuk mengamalkan ajaran islam dengan sempurna.

    Dengan ikut thareqat bukan berarti kita berhenti menuntut ilmu, justru dgn ikut thareqat kita tingkatkan belajar kita. Karena klo kita ikut thareqat hati akan menjadi bersih shg ilmu akan begitu mudah masuk kedalam hati.

    ingat nasihat imam maliki dan imam syafei :

    1. Nasihat imam syafei :

    فقيها و صوفيا فكن ليس واحدا * فإني و حـــق الله إيـــاك أنــــصح
    فذالك قاس لم يـــذق قـلــبه تقى * وهذا جهول كيف ذوالجهل يصلح
    Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.
    Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu. Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik?
    [Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, hal. 47]
    sayang bait dari diwan ini telah dihilangkan oleh wahabi laknatullah dalam kitab diwan safei yg dicetak oleh percetakan wahabi…..
    2. . Nashihat IMAM MALIK RA:
    و من تصوف و لم يتفقه فقد تزندق
    من تفقه و لم يتصوف فقد تفسق
    و من جمع بينهما فقد تخقق
    “ dia yang sedang Tasawuf tanpa mempelajari fikih rusak keimanannya , sementara dia yang belajar fikih tanpa mengamalkan Tasawuf rusaklah dia . hanya dia siapa memadukan keduannya terjamin benar .

    wallahu a’lam
    admin

    • neyha., on January 12, 2010 at 4:09 am Said:

      jelaskan seperti apa orang yang mati bisa menerima amalan yang kita kirim untuknya? seperti ketika membeca al-qur’an kita berharap pahala tersebut dapat diterima untuk mayat? dalil sekalian

      jawab :
      assalamu’alaikum warrah matullahi wabarakatuh

      alhamdulillah, amalan mengirimkan pahala bacaan alqur’an merupakan ijma mayority ulama salaf dari madzab hanafi, hambali, syafii bahkan ibnu taymiyah dan ibnu qayyim (katanya imamnya wahhaby).

      silahkan lihat penjelasan detail dengan dalil-dalilnya juga scan kitab aslinya :
      Ibnu qayyim (scan kitab arruh) : sampainya bacaan alqur’an untuk orang muslim yg sudah mati
      http://salafytobat.wordpress.com/2009/10/23/ibnul-qayyim-scan-kitab-ar-ruh-sampainya-hadiah-bacaan-alqur%E2%80%99an-dan-bolehnya-membaca-al-qur%E2%80%99an-diatas-kuburan/

      sedikit saya copy paste dari link tersebut :
      Membaca Al-qur’an Diatas Kubur Dan Mengadiahkan Pahalanya bagi Mayyit (Muslim)

      Tarjamahannnya :

      Pernah disebutkan daripada setengah para salaf, bahwa mereka mewasiatkan supaya dibacakan diatas kubur mereka di waktu penguburannya. Telah berkata abdul haq, diriwayatkan bahwa Abdullah bin umar pernah menyuruh supaya diabacakan diatas kuburnya surah al-baqarah. Pendapat ini dikuatkan oleh mu’alla bin hanbal, pada mulanya mengingkari pendapat ini kerana masih belum menemui sesuatu dalil mengenainya, kemudian menarik balik pengingkarannya itu setelah jelas kepadanya bahwa pendapat itu betul.

      Berkata Khallal di dalam kitabnya ‘Al-jami’ : Telah berkata kepadaku Al-Abbas bin Muhammad Ad-dauri, berbicara kepadaku Abdul Rahman bin Al-Ala’ bin Lajlaj, daripada ayahnya, katanya : Ayahku telah berpesan kepadaku, kalau dia mati, maka kuburkanlah dia di dalam lahad, kemudian sebutkanlah : Dengan Nama Allah, dan atas agama Rasulullah !, Kemudian ratakanlah kubur itu dengan tanah, kemudian bacakanlah dikepalaku dengan pembukaan surat albaqarah, kerana aku telah mendengar Abdullah bin Umar ra. Menyuruh membuat demikian. Berkata Al-Abbas Ad-Dauri kemudian : Aku pergi bertanya Ahmad bin Hanbal, kalau dia ada menghafal sesuatu tentang membaca diatas kubur. Maka katanya : Tidak ada ! kemudian aku bertanya pula Yahya bin Mu’in, maka dia telah menerangkan kepadaku bicara yang menganjurkan yang demikian.

      Berkata Khallal, telah memberitahuku Al-Hasan bin Ahmad Al-Warraq, berbicara kepadaku Ali bin Muwaffa Al-Haddad, dan dia adalah seorang yang berkata benar, katanya :Sekalai peristiwa saya bersama-sama Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari menghadiri suatu jenazah. Setelah selesai mayit itu dikuburkan, maka telah duduk seorang yang buta membaca sesuatu diatas kubur itu. Maka ia disangkal oleh Imam Ahmad, katanya : Wahai fulan ! Membaca sesuatu diatas kubur adalah bid’ah !. Apa bila kita keluar dari pekuburan itu, berkata Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari kepada Imam Ahmad bin Hanbal : Wahai Abu Abdullah ! Apa pendapatmu tentang si Mubasysyir Al-Halabi ? Jawab Imam Ahmad : Dia seorang yang dipercayai. Berkata Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari seterusnya : Aku menghafal sesuatu daripadanya ! Sangkal Imam Ahmad bin Hanbal : Yakah, apa dia ? Berkata Muhammad bin Qudamah : Telah memberitahuku Mubasysyir, daribada Abdul Rahman Bin Al-Ala’ bin Lajlaj, daripada ayahnya, bahwasanya ia berpesan, kalau dia dikuburkan nanti, hendaklah dibacakan dikepalanya ayat-ayat permulaan surat Al-Baqarah, dan ayat-ayat penghabisannya, sambil katanya : Aku mendengar Abdullah bin Umar (Ibnu Umar) mewasiatkan orang yang membaca demikian itu.

      Mendengar itu, maka Imam Ahmad bin Hanbal berkata kepada Muhammad bin Qudamah : Kalau begitu aku tarik tegahanku (Bhs Ind : penolakanku ) itu. Dan suruhlah orang buta itu membacakannya.

      Berkata Al- Hasan bin As-sabbah Az-za’farani pula : Saya pernah menanyakan hal itu kepada Imam Syafi’i, kalau boleh dibacakan sesuatu diatas kubur orang, maka Jawabnya : Boleh, Tidak mengapa !

      Khalal pun telah menyebutkan lagi dari As-sya’bi, katanya : Adalah Kaum Anshor, apabila mati seseorang diantara mereka, senantiasalah mereka mendatangi kuburnya untuk membacakan sesuatu daripada Al-Qur’an.

      Asy-sya’bi berkata, telah memberitahuku Abu Yahya An-Naqid, katanya aku telah mendengar Al-Hasan bin Al-Haruri berkata : Saya telah mendatangi kubur saudara perempuanku, lalu aku membacakan disitu Surat Tabarak (Al-Mulk), sebagaimana yang dianjurkan. Kemudian datang kepadaku seorang lelaki danmemberitahuku, katanya : Aku mimpikan saudara perempuanmu, dia berkata : Moga-moga Allah memberi balasan kepada Abu Ali (yakni si pembaca tadi) dengan segala yang baik. Sungguh aku mendapat manfaat yang banyak dari bacaannya itu.

      Telah memberitahuku Al-Hasan bin Haitsam, katanya aku mendengar Abu Bakar atrusy berkata : Ada seorang lelaki datang ke kubur ibunya pada hari jum’at, kemudian ia membaca surat Yasin disitu. Bercerita Abu Bakar seterusnya : Maka aku pun datang kekubur ibuku dan membaca surah Yasiin, kemudian aku mengangkat tangan : Ya Allah ! Ya Tuhanku ! Kalau memang Engkau memberi pahala lagi bagi orang yang membaca surat ini, maka jadikanlah pahala itu bagi sekalian ahli kubur ini !

      Apabila tiba hari jum’at yang berikutnya, dia ditemui seorang wanita. Wanita itu bertanya : Apakah kau fulan anak si fulanah itu ? Jawab Abu Bakar : Ya ! Berkata wanita itu lagi : Puteriku telah meninggal dunia, lalu aku bermimpikan dia datang duduk diatas kuburnya. Maka aku bertanya : Mengapa kau duduk disini ? Jawabnya : Si fulan anak fulanah itu telah datang ke kubur ibunya seraya membacakan Surat Yasin, dan dijadikan pahalanya untuk ahli kuburan sekaliannya. Maka aku pun telah mendapat bahagian daripadanya, dan dosaku pun telah diampunkan karenanya.

      (Tarjamah Kitab Ar-ruh Hafidz Ibnuqayyim jauziyah, ‘Roh’ , Ustaz Syed Ahmad Semait, Pustaka Nasional PTE LTD, Singapura, 1990, halaman 17 – 19)

      D. Dalil-dalil orang yang membantah adanya hadiah pahala dan jawabannya

      1. Hadis riwayat muslim :

      “Jika manusia, maka putuslah amalnya kecuali tiga : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang selalu mendoakan orang tuanya”

      Jawab : Tersebut dalam syarah Thahawiyah hal. 456 bahwa sangat keliru berdalil dengan hadist tersebut untuk menolak sampainya pahala kepada orang yang sudah mati karena dalam hadits tersebut tidak dikatakan : “inqata’a intifa’uhu (terputus keadaannya untuk memperoleh manfaat). Hadits itu hanya mengatakan “inqatha’a ‘amaluhu (terputus amalnya)”. Adapun amal orang lain, maka itu adalah milik (haq) dari amil yakni orang yang mengamalkan itu kepadanya maka akan sampailah pahala orang yang mengamalkan itu kepadanya. Jadi sampai itu pahala amal si mayyit itu. Hal ini sama dengan orang yang berhutang lalu dibayarkan oleh orang lain, maka bebaslah dia dari tanggungan hutang. Akan tetapi bukanlah yang dipakai membayar utang itu miliknya. Jadi terbayarlah hutang itu bukan oleh dia telah memperoleh manfaat (intifa’) dari orang lain.

      2. Firman Allah surat an-najm ayat 39 :

      “ Atau belum dikabarkan kepadanya apa yang ada dalam kitab nabi musa dan nabi Ibrahim yang telah memenuhi kewajibannya bahwa seseorang tidak akan memikul dosa orang lain dan bahwasanya tiada yang didapat oleh manusia selain dari yang diusahakannya”.

      Jawab : Banyak sekali jawaban para ulama terhadap digunakannya ayat tersebut sebagai dalil untuk menolak adanya hadiah pahala. Diantara jawaban-jawaban itu adalah :

      a. Dalam syarah thahawiyah hal. 1455 diterangkan dua jawaban untuk ayat tersebut:

      1. Manusia dengan usaha dan pergaulannya yang santun memperoleh banyak kawan dan sahabat, melahirkan banyak anak, menikahi beberapa isteri melakukan hal-hal yang baik untuk masyarakat dan menyebabkan orang-orang cinta dan suka padanya. Maka banyaklah orang-orang itu yang menyayanginya. Merekapun berdoa untuknya dan mengahadiahkan pula pahala dari ketaatan-ketaatan yang sudah dilakukannya, maka itu adalah bekas dari usahanya sendiri. Bahkan masuknya seorang muslim bersama golongan kaum muslimin yang lain didalam ikatan islam adalah merupakan sebab paling besar dalam hal sampainya kemanfaatan dari masing-masing kaum muslimin kepada yang lainnya baik didalam kehidupan ini maupun sesudah mati nanti dan doa kaum muslimin yang lain. Dalam satu penjelasan disebutkan bahwa Allah SWT menjadikan iman sebagai sebab untuk memperoleh kemanfaatan dengan doa serta usaha dari kaum mukminin yang lain. Maka jika seseorang sudah berada dalam iman, maka dia sudah berusaha mencari sebab yang akan menyampaikannya kepada yang demikian itu. (Dengan demikian pahala ketaatan yang dihadiahkan kepadanya dan kaum mukminin sebenarnya bagian dari usahanya sendiri).

      2. Ayat al-qur’an itu tidak menafikan adanya kemanfaatan untuk seseorang dengan sebab usaha orang lain. Ayat al-qur’an itu hanya menafikan “kepemilikan seseorang terhadap usaha orang lain”. Allah SWT hanya mengabarkan bahwa “laa yamliku illa sa’yah (orang itu tidak akan memiliki kecuali apa yang diusahakan sendiri). Adapun usaha orang lain, maka itu adalah milik bagi siapa yang mengusahakannya. Jika dia mau, maka dia boleh memberikannya kepada orang lain dan pula jika ia mau, dia boleh menetapkannya untuk dirinya sendiri. (jadi huruf “lam” pada lafadz “lil insane” itu adalah “lil istihqaq” yakni menunjukan arti “milik”).

      Demikianlah dua jawaban yang dipilih pengarang kitab syarah thahawiyah.

      b. Berkata pengarang tafsir Khazin :

      “Yang demikian itu adalah untuk kaum Ibrahim dan musa. Adapun ummat islam (umat Nabi Muhammad SAW), maka mereka bias mendapat pahala dari usahanya dan juga dari usaha orang lain”.

      Jadi ayat itu menerangkan hokum yang terjadi pada syariat Nabi Musa dan Nabi Ibrahim, bukan hukum dalam syariat nabi Muhammad SAW. Hal ini dikarenakan pangkal ayat tersebut berbunyi :

      “ Atau belum dikabarkan kepadanya apa yang ada dalam kitab nabi musa dan nabi Ibrahim yang telah memenuhi kewajibannya bahwa seseorang tidak akan memikul dosa orang lain dan bahwasanya tiada yang didapat oleh manusia selain dari yang diusahakannya”.

      c. Sahabat Nabi, Ahli tafsir yang utama Ibnu Abbas Ra. Berkata dalam menafsirkan ayat tersebut :

      “ ayat tersebut telah dinasakh (dibatalkan) hukumnya dalam syariat kita dengan firman Allah SWT : “Kami hubungkan dengan mereka anak-anak mereka”, maka dimasukanlah anak ke dalam sorga berkat kebaikan yang dibuat oleh bapaknya’ (tafsir khazin juz IV/223).

      Firman Allah yang dikatakan oleh Ibnu Abbas Ra sebagai penasakh surat an-najm ayat 39 itu adalah surat at-thur ayat 21 yang lengkapnya sebagai berikut :

      “Dan orang-orang yang beriman dan anak cucu mereka mengikuti mereka dengan iman, maka kami hubungkan anak cucu mereka itu dengan mereka dan tidaklah mengurangi sedikitpun dari amal mereka. Tiap-tiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya”.

      Jadi menurut Ibnu abbas, surat an-najm ayat 39 itu sudah terhapus hukumnya, berarti sudah tidak bias dimajukan sebagai dalil.

      d. Tersebut dalam Nailul Authar juz IV ayat 102 bahwa kata-kata : “Tidak ada seseorang itu…..” Maksudnya “tidak ada dari segi keadilan (min thariqil adli), adapun dari segi karunia (min thariqil fadhli), maka ada bagi seseorang itu apa yang tidak dia usahakan.

      Demikianlah penafsiran dari surat An-jam ayat 39. Banyaknya penafsiran ini adalah demi untuk tidak terjebak kepada pengamalan denganzhahir ayat semata-mata karena kalau itu dilakukan, maka akan banyak sekali dalil-dalil baik dari al-qur’an maupun hadits-hadits shahih yang ditentang oleh ayat tersebut sehingga menjadi gugur dan tidak bias dipakai sebagai dalil.

      3. Dalil mereka dengan Surat al-baqarah ayat 286 :

      “Allah tidak membebani seseorang kecuali dengan kesanggupannya. Baginya apa yang dia usahakan (daripada kebaikan) dan akan menimpanya apa yang dia usahakan (daripada kejahatan)”.

      Jawab : Kata-kata “laha maa kasabat” menurut ilmu balaghah tidak mengandung unsur hasr (pembatasan). Oleh karena itu artinya cukup dengan : “Seseorang mendapatkan apa yang ia usahakan”. Kalaulah artinya demikian ini, maka kandungannya tidaklah menafikan bahwa dia akan mendapatkan dari usaha orang lain. Hal ini sama dengan ucapan : “Seseorang akan memperoleh harta dari usahanya”. Ucapan ini tentu tidak menafikan bahwa seseorang akan memperoleh harta dari pusaka orang tuanya, pemberian orang kepadanya atau hadiah dari sanak familinya dan para sahabatnya. Lain halnya kalau susunan ayat tersebut mengandung hasr (pembatasan) seperti umpamanya :

      “laisa laha illa maa kasabat”

      “Tidak ada baginya kecuali apa yang dia usahakan atau seseorang hanya mendapat apa yang ia usahakan”.

      4. Dalil mereka dengan surat yasin ayat 54 :

      “ Tidaklah mereka diberi balasan kecuali terhadap apa yang mereka kerjakan”.

      Jawab : Ayat ini tidak menafikan hadiah pahala terhadap orang lain karena pangkal ayat tersebut adalah :

      “Pada hari dimana seseorang tidak akan didhalimi sedikitpun dan seseorang tidak akan diberi balasan kecuali terhadap apa yang mereka kerjakan”

      Jadi dengan memperhatikan konteks ayat tersebut dapatlah dipahami bahwa yang dinafikan itu adalah disiksanya seseorang sebab kejahatan orang lain, bukan diberikannya pahala terhadap seseorang dengan sebab amal kebaikan orang lain (Lihat syarah thahawiyah hal. 456).

      (ringkasan dari Buku argumentasi Ulama syafi’iyah terhadap tuduhan bid’ah,Al ustadz haji Mujiburahman, halaman 142-159, mutiara ilmu)

      Semoga menjadi asbab hidayah bagi Ummat

      Admin

      http://salafytobat.wordpress.com/

      Reply
  • mazhab
    bagaimana pemahaman ahlussunnah mengenai mazhab yang empat?
    dizaman rasullullah banyak ulama dikalangan shahabat, tapi rasullullh tidak memerintahkan utk mengikuti salah satu diantara mereka.
    kalau kita mengikuti satu mazhab , apa tidak menafikan yang tiga lainnya?

    Reply
  • InsyaAllah sudah saya jawab pertanyaan saudara di point 51. Kenapa kita bermadzab?

    Karena dalam alqur’an dan hadits disebutkan agar kita mengikuti ulama. Tidak semua ulama boleh berijtihad, hanya mereka yg keilmuannya yang mencukupi sahaja yg boleh berijtihad.

    Dalam mengamalkan ajaran islam harus berpegang pada 1 madzab?
    Karena tidak mungkin mengamalkan ke 4 madzab sekaligus, dan orang yang menggunakan 4 madzzab sekaligus berarti dia bukan bermadzab karena ia akan menghakimi fatwa ulama madzab sekehendak nafsunya sendiri (sedangkan ia belum maqam mujtahid). Maka yang tepat ialah mengikuti fatwa 1 madzhab dan menghormati madzab lain. Hanya saja ada golongan sesat yang menyebar khilaf dikalangan 4 madzab. Hati-hati jangan terpancing.

    untuk faham lagi insyaAllah tambah korban kita untuk agama Allah…..wallahu a’lam

    Bermadzab dgn madzab shahabat/salafy?

    Alim besar Syria yang tidak perlu diperkenalkan lagi, al-Sheikh Prof. Dr. Muhammad Said Ramadhan al-Bouthi menerangkan dengan panjang lebar sebuah ajaran baru yang dinamakan “al-Salafiyyah” selepas ditukar jenama daripada “al-Wahhabiyyah” kerana pengamal ajaran ini tidak mahu ajaran ini dinisbahkan kepada Muhammad Ibn Abdul Wahhab semata-mata. [Rujuk m/s 235 & 236 daripada kitab dibawah]

    Beliau menyatakan bahawa MENGIKUT GENERASI SALAF adalah satu perkara yang sangat-sangat berbeza berbanding BERMAZHAB DENGAN MAZHAB AL-SALAFIYYAH yang digembar-gemburkan oleh pengamal Wahhabi pada hari ini.[Rujuk m/s 221 sehingga 242 daripada kitab di bawah].

    Beliau berkata bahawa istilah yang digunakan oleh para ulama’ untuk menamakan kedudukan para ulama’ yang benar adalah Ahli Sunnah dan Jama’ah. Istilah Ahli Sunnah dan Jama’ah adalah istilah yang telah diijmak oleh para ulama’ generasi Salaf untuk menamakan golongan yang benar. Manakala istilah al-Salafiyyah yang digunakan oleh golongan Wahhabi pada hari ini untuk melambangkan dan menamakan golongan yang benar [menurut sangkaan mereka] adalah satu bid’ah yang tercela bahkan tidak pernah digunakan oleh generasi Salafus Soleh untuk menamakan golongan yang benar. Sila lihat petikan dan terjemahan kata-kata beliau di bawah [Semoga anda diberi hidayah oleh Allas SWT]. Kitab ini bertajuk:
    [السلفية: مرحلة زمنية مباركة لا مذهب إسلامي]

    “Al-Salafiyyah: Satu Tempoh Masa Yang Diberkati dan bukanlah Sebuah Mazhab Islam.”

    Kitab ini adalah satu penerangan dan kritikan yang penuh ilmiah terhadap ajaran Wahhabi yang dikarang oleh seorang alim seperti beliau.
    “Cukuplah pujian bagi kitab ini dengan disebutkan nama penulisnya.”

    Terjemahan:

    “Dan manakala apabila seorang Muslim mentakrifkan / memperkenalkan dirinya dengan menyatakan bahawa dia disandarkan kepada sebuah mazhab yang dikenali pada hari ini dengan al-Salafiyyah, maka tanpa ragu-ragu lagi dia adalah seorang ahli bid’ah.

    Ini adalah kerana sekiranya istilah “al-Salafiyyah” boleh memberi maksud yang sama seperti “Ahli Sunnah dan Jamaah”, maka sesungguhnya dia telah melakukan bid’ah dengan mencipta nama yang berbeza dengan nama yang telah disepakati oleh generasi Salaf [Semoga keredhaan Allah dilimpahkan ke atas mereka].

    Dan nama yang bid’ah lagi tidak diperlukan ini telah cukup untuk menimbulkan ketidakstabilan dan perpecahan di dalam saf-saf [perpaduan] umat Islam.

    Dan manakala sekirannya nama al-Salafiyyah ini memberi maksud yang berbeza dengan dengan hakikat Ahli Sunnah dan Jama’ah – dan inilah kebenarannya – maka bid’ah ini telah berlaku dengan nama rekaan tersebut [al-Salafiyyah] serta kandungannya yang bathil, dan istilah ini cuba menegakkan benderanya dan mengangkat kedudukannya sebagai ganti kepada kebenaran yang telah disepakati oleh generasi Salaf dan [generasi Salafus Soleh pada hakikatnya] telah berijma’ menggunakan nama “Ahli Sunnah dan Jama’ah” [bagi golongan yang benar].”

    Maka telah terbuktilah bid’ah [golongan Salafi Wahhabi ini] dalam menggunakan istilah “al-Salafiyyah” di samping maksudnya yang juga bid’ah untuk digunakan sebagai jenama/nama bagi sebuah kumpulan baru [Salafi Wahhabi] yang memisahkan diri mereka dari jemaah umum Umat Islam yang bersatu dalam menggunakan istilah “Ahli Sunnah dan Jama’ah” serta berpegang dengan hakikat [Ahli Sunnah dan Jama’ah] yang benar.”

    Dapat difahami daripada kata-kata di atas bahawa al-Sheikh al-Bouthi:

    1.
    Menerangkan bahawa istilah al-Salafiyyah adalah satu istilah yang bid’ah dan bertentangan dengan kesepakatan ulama’ generasi Salaf.
    2.
    Menolak istilah al-Salafiyyah untuk digunakan sebagai ganti Ahli Sunnah dan Jama’ah.
    3.
    Berterus-terang bahawa kandungan ajaran yang dibawa oleh kelompok Salafiyyah Wahhabiyyah adalah bukan merupakan pegangan Ahli Sunnah dan Jama’ah.

    Semoga nasihat beliau ini mampu melembutkan hati yang keras, menghidupkan hati yang mati, menyedarkan hati yang lalai, mengubati hati yang berpenyakit dan meluruskan hati yang terpesong dengan izin Allah SWT dan berkat kasih sayang-Nya kepada Rasulullah SAW.

    Wassalam.

    Reply
  • abdulkadir, on November 6, 2008 at 9:06 pm Said:

    Assalamu’alaikum,
    Disamping keterangan diatas izinkan saya ingin menambah saran kepada saudara abusaqila agar membaca keterangan mengenai “Kewajiban bertaqlid bagi yang tidak mampu berijtihad” pada kolom categoris di website ini yang telah dikutip dari websitehttp://www.everyoneweb.com/tabarruk. Semoga bermanfaat.

    Reply
  • mas, sekarang kalau pengajian gabung di mana? mas keluar dari salafi, apakah sekarang sudah menemukan yang lebih baik? mohon jawab

    Reply
  • saya sebelum terkena virus wahaby, saya pernah ngaji di KH khusnul hidayat – pondok pesantren jamiurrahman (sukun -malang jawa timur)….

    kemudian : tobatnya setelah konsultasi dengan ustaz syabab ahlusunnah waljamaah (ustaz kholil muhyidin LC, MAg) – ponpes al itqan – cengkareng jakarta….

    kemudian saya belajar intensif dipondok darussa’adah (Kyai Muhammad fakhrurrijal) – Jl Purnawirawan 7 bandar lampung…

    alhamdulillah terbuka hijab “kebatilan wahaby/salafy” ternyata dalil2 mereka adalah salah….

    saya sekarang berakidah ahlusunnah, madzab syafei, dengan keyakinan dan dalil yang kuat…..dan berusaha mengamalkan sunnah dan dakwah sampai mati

    amin…Lihat di “page ulama mursyid”

    Reply
  • jazakumullah, atas jawaban saudara semua,
    di daerah saya padang panjang, rata2 bermazhab syafi`i, tapi saya lihat umumnya sholat subuh ngak pakai qunut dan berdoa pun infirodi, ngak ada tahlilan dan ngak ada makan2 ketika takziyah, kebetulan pengaruh muhammadiyyah agak kuat, bagaimana menurat mas, kalau mas bermukim disana?

    Reply
    • salam
      Blog ini hanya ajang mudzakarah…..tapi dalam masyarakat tetap dakwah dengan adab dan tertib……
      pesan saya untuk (juga saya pribadi):
      tetap istiqamah dalam dakwah….
      tetap dakwah dengan tertib ….lemah lembut…..
      dakwah sampaikan fadhilah-fadhilah bukan ancaman maupun khilafiah
      dakwah ingatkan alam-alam ahirat (kubur mahsyar sirat) bukan kampanyae partai….

      dekati 4 pilar agama (ulama dan pondok pesantren sunni, mushanif , ahli thareqat/dzikir, ahli dakwah /da’i)…..
      doakan saya agar istiqamah

      Reply
  • ridwan, on December 16, 2008 at 10:13 am Said:

    saya baru belajar tentang agama mohon bantuan untuk istiqomah dalam beribadah ?

    Reply
    • salam….

      ulama hikmah mengatakan :
      Barakatul ‘ilmi bissanad (berkahnya ilmu dgn sanad)

      saran saya : carilah guru ulama sunni yang berpegang teguh pada salah satu 4 madzab, belajar dgn ikhlas jgn melihat kekurangan pada guru…

      wa barakatul dzikri birrabithah (berkahnya dzikir dgn rabithah (hubungan dan bimbingan guru mursyid)

      jaga berdzikir pagi petang, jika belum punya guru mursyid :
      -minimal 100 kali istighfar,
      – 100 kali shalawat (allhumma shali’ala sayyidina muhammad wa’ala ali sayyidina muhammad )

      – 100 kali tasbihat (subhanallah walhamdulillah walaa ilah illallah)

      wa barakatul da’wah bil ijtima’iyyat (Berkahnya dakwah dengan ijtima’iyyat/jamaah)

      selagi belajar ilmu dan belajar dzikir…..luangkan waktu untuk mengajak saudara-saudara kita ber iman dan beramal shalih….sampaikan fadhilah jagn ancaman, dengan lembut bukan paksaan….bagus lagi anda mengikuti “jamaah-jamaah dakwah” dan ikut beri’tikaf selama yang anda mampu ( 3 hari, 1 minggu, …semampu anda)

      Reply
  • fadli, on December 17, 2008 at 3:08 pm Said:

    Ass. Wr. Wb.
    Saya ingin bertanya, bagaimana seharusnya posisi jari telunjuk, ketika tahyat, karena dilingkungan kami banyak terjadi perbedaan pendapat perihal masalah tersebut.
    mohon penjelasannya dengan dalil yang kuat.
    Terima kasih, Wass, Wr. Wb

    Reply
  • Assalamu”alykum,
    Boleh tau, antum tinggal dimana? trus dulu belajarnya dimana? apa pernah belajar ke arab?terus terang ana mau belajar sama antum?

    Jazakumullah,

    Haris

    Reply
  • anto, on January 14, 2009 at 6:12 am Said:

    siapakah ahlu sunnah wal jamaah itu? karena saya lihat banyak gol.memakai nama ini dengan berbeda prinsip tetapi saling menisbatkan pada ahlu sunnah?

    Reply
    • AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH: GOLONGAN YANG SELAMAT

      (al Firqah an-Najiyah)

      وإنَّ هذه الملَّةَ ستفترِ  ق علَى ثَلاَث وسبعين ثنتان وسبعونَ فى النارِ وواحدةٌ فى الجَنة وهي ” :r قَالَ ر  سو ُ ل اللهِ

      الجَماعُة” (رواه أبوداود)

      Maknanya: “…dan sesungguhnya ummat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, 72 di

      antaranya di neraka dan hanya satu yang di surga yaitu al-Jama’ah”. (H.R. Abu Dawud)

      Akal adalah syahid (saksi dan bukti) akan kebenaran syara’. Inilah sebenarnya yang dilakukan oleh ulama tauhid atau ulama al-kalam (teologi). Yang mereka lakukan adalah taufiq (pemaduan) antara kebenaran syara’ dengan kebenaran akal, mengikuti jejak nabi Ibrahim -seperti dikisahkan al-Quran- ketika membantah raja Namrud dan kaumnya, di mana beliau menundukkan mereka dengan dalil akal. Fungsi akal dalam agama adalah sebagai saksi bagi kebenaran syara’ bukan sebagai peletak dasar bagi agama itu sendiri. Berbeda dengan para filosof yang berbicara tentang Allah, malaikat dan banyak hal lainnya yang hanya berdasarkan penalaran akal semata. Mereka menjadikan akal sebagai dasar agama tanpa memandang ajaran yang dibawa para nabi.

      Tuduhan kaum Musyabbihah; kaum yang sama sekali tidak memfungsikan akal dalam agama, terhadap Ahlussunnah sebagai ’Aqlaniyyun (kaum yang hanya mengutamakan akal) atau sebagai kaum Mu’tazilah atau Afrakh al-Mu’tazilah (anak bibitan kaum Mu’tazilah) dengan alasan karena lebih mengedepankan akal, adalah tuduhan yang salah alamat. Ini tidak ubahnya seperti seperti kata pepatah arab “Qabihul Kalam Silahulliam” (kata-kata yang jelek adalah senjata para pengecut). Secara singkat namun komprehensif, kita ketengahkan bahasan tentang Ahlissunnah sebagai al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat), asal-usulnya, dasar-dasar ajaran dan sistematikanya.

      PEMBAHASAN

      Sejarah mencatat bahwa di kalangan umat Islam dari mulai abad-abad permulaan (mulai dari masa khalifah sayyidina Ali ibn Abi Thalib) sampai sekarang terdapat banyak firqah (golongan) dalam masalah aqidah yang faham satu dengan lainnya sangat berbeda bahkan saling bertentangan. Ini fakta yang tak dapat dibantah. Bahkan dengan tegas dan gamblang Rasulullah telah menjelaskan bahwa umatnya akan pecah menjadi 73 golongan. Semua ini tentunya dengan kehendak Allah dengan berbagai hikmah tersendiri, walaupun tidak kita ketahui secara pasti. Dia-lah yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Namun Rasulullah juga telah menjelaskan jalan selamat yang harus kita

      tempuh agar tidak terjerumus dalam kesesatan. Yaitu dengan mengikuti apa yang diyakini oleh al-Jama’ah; mayoritas umat Islam. Karena Allah telah menjanjikan kepada Rasul-Nya, Muhammad , bahwa umatnya tidak akan tersesat selama mereka berpegang teguh kepada apa yang disepakati oleh kebanyakan mereka. Allah tidak akan menyatukan mereka dalam kesesatan. Kesesatan akan menimpa mereka yang menyempal dan memisahkan diri dari keyakinan mayoritas. Mayoritas umat Muhammad dari dulu sampai sekarang adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah. Mereka adalah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam Ushul al-I’tiqad (dasar-dasar aqidah); yaitu Ushul al-Iman al-Sittah (dasar-dasar iman yang enam) yang disabdakan Rasulullah dalam hadits Jibril:

      “الإيما ُ ن أنْ تؤمن بِاللهِ وملائكَته و ُ كتبه و  ر  سله واليومِ الآخرِ والقَدرِ خيرِه وش  ره” ( رواه البخارِي ومسلم)

      Maknanya: “Iman adalah engkau mempercayai Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab- kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir serta Qadar (ketentuan Allah); yang baik maupun buruk”.(H.R. al Bukhari dan Muslim)

      Perihal al-Jama’ah dan pengertiannya sebagai mayoritas umat Muhammad yang tidak lain adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah tersebut dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya :

      “أوصي ُ كم بِأصحابِي ثمَّ الذين يُلون  هم ثمَّ اّلذين يُلون  هم“، وفيه “عَلي ُ كم بِالجَماعة وإيا ُ كم والُفرقة فإنَّ ال  شيطانَ

      مع الواحد و  هو من الاثْنينِ أبع  د فَمن أراد بحبوحة الجَنةَ فلْيلْزمِ الجَماعة”. (رواه الترمذ  ي وقَالَ حسن

      صحيح وص  ححه الحَاك  م)

      Maknanya: “Aku berwasiat kepada kalian untuk mengikuti sahabat-sahabatku, kemudian –mengikuti– orang-orang yang datang setelah mereka, kemudian mengikuti yang dating setelah mereka“. Dan termasuk rangkaian hadits ini: “Tetaplah bersama al-Jama’ah dan jauhi perpecahan karena syaitan akan menyertai orang yang sendiri. Dia (syaitan) dari dua orang akan lebih jauh, maka barang siapa menginginkan tempat lapang di surga hendaklah ia berpegang teguh pada (keyakinan) al-Jama’ah”. (H.R. at-Turmudzi, ia berkata hadits ini Hasan Shahih juga hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim).

      Al-Jama’ah dalam hadits ini tidak boleh diartikan dengan orang yang selalu menjalankan shalat dengan berjama’ah, jama’ah masjid tertentu atau dengan arti ulama hadits, karena tidak sesuai dengan konteks pembicaraan hadits ini sendiri dan bertentangan dengan hadits-hadits lain. Konteks pembicaraan hadits ini jelas mengisyaratkan bahwa yang dimaksud al-Jama’ah adalah mayoritas umat Muhammad dari sisi kuantitas.

      Penafsiran ini diperkuat juga oleh hadits yang kita tulis di awal pembahasan. Yaitu hadits riwayat Abu Dawud yang merupakan hadits Shahih Masyhur, diriwayatkan oleh lebih dari 10 orang sahabat. Hadits ini memberi kesaksian akan kebenaran mayoritas umat Muhammad bukan kebenaran firqah-firqah yang menyempal. Jumlah pengikut firqah-firqah yang menyempal ini, dibanding pengikut Ahlussunnah Wal Jama’ah sangatlah sedikit.

      Selanjutnya di kalangan Ahlussunnah Wal Jama’ah dikenal istilah “ulama salaf”. Mereka adalah orang-orang yang terbaik dari kalangan Ahlusssunnah Wal Jama’ah yang hidup pada 3 abad pertama hijriyah sebagaimana sabda nabi:

      “خي  ر الُق  رون قَرنِي ثُ  م الذين يُلون  هم ثُ  م الذين يُلون  هم” (رواه الترمذ  ي)

      Maknanya: “Sebaik-baik abad adalah abadku kemudian abad setelah mereka kemudian abad setelah mereka”. (H.R. Tirmidzi)

      Pada masa ulama salaf ini, di sekitar tahun 260 H, mulai menyebar bid’ah Mu’tazilah, Khawarij, Musyabbihah dan lainnya dari kelompok-kelompok yang membuat faham baru. Kemudian dua imam agung; Abu al-Hasan al-Asy’ari (W. 324 H) dan Abu Manshur al-Maturidi (W. 333 H) –semoga Allah meridlai keduanya– dating dengan menjelaskan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang diyakini para sahabat nabi dan orang-orang yang mengikuti mereka, dengan mengemukakan dalil-dalil naqli (nash-nash al-Quran dan Hadits) dan dalil-dalil aqli (argumen rasional) disertai dengan bantahan-bantahan terhadap syubhat-syubhat (sesuatu yang dilontarkan untuk mengaburkan hal yang sebenarnya) Mu’tazilah, Musyabbihah, Khawarij tersebut di atas dan ahli bid’ah lainnya. Sehingga Ahlussunnah dinisbatkan kepada keduanya. Mereka; Ahlussunnah Wal Jamaah akhirnya dikenal dengan nama al-Asy’ariyyun (para pengikut imam Abu al-Hasan Asy’ari) dan al-Maturidiyyun (para pengikut imam Abu Manshur al-Maturidi). Hal ini tidak menafikan bahwa mereka adalah satu golongan yaitu al-Jama’ah. Karena sebenarnya jalan yang ditempuh oleh al-Asy’ari dan al-Maturidi dalam pokok aqidah adalah sama dan satu.

      Adapun perbedaan yang terjadi di antara keduanya hanya pada sebagian masalah-masalah furu’ (cabang) aqidah. Hal tersebut tidak menjadikan keduanya saling menghujat atau saling menyesatkan, serta tidak menjadikan keduanya lepas dari ikatan golongan yang selamat (al-Firqah al-Najiyah). Perbedaan antara al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah ini adalah seperti halnya perselisihan yang terjadi antara para sahabat nabi, perihal apakah Rasulullah melihat Allah pada saat Mi’raj?. Sebagian sahabat, seperti ‘Aisyah dan Ibn Mas’ud mengatakan bahwa Rasulullah r tidak melihat Tuhannya pada waktu Mi’raj. Sedangkan Abdullah ibn ‘Abbas mengatakan bahwa Rasulullah r melihat Allah dengan hatinya. Allah memberi kemampuan melihat kepada hati Nabi Muhammad r sehingga dapat melihat Allah. Namun demikian al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah ini tetap sepaham dan sehaluan dalam dasar-dasar aqidah. Al-Hafizh Murtadla az-Zabidi (W. 1205 H) mengatakan:

      إذَا أطْلق أهلُ ال  سنة والجَماعة فاُلمرا  د بِهِم الأشاعرُة والمَاترِيديُة

      “Jika dikatakan Ahlussunnah wal Jama’ah, maka yang dimaksud adalah al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah “. (al-Ithaf, juz 2 hlm 6)

      Jadi aqidah yang benar dan diyakini oleh para ulama salaf yang shalih adalah aqidah yang diyakini oleh al-Asy’ariyyah dan al-Maturidiyyah. Karena sebenarnya keduanya hanyalah meringkas dan menjelaskan aqidah yang diyakini oleh para nabi dan rasul serta para sahabat. Aqidah Ahlusssunnah adalah aqidah yang diyakini oleh ratusan juta umat Islam, mereka adalah para pengikut madzhab Syafi’i, Maliki,

      Hanafi, serta orang-orang yang utama dari madzhab Hanbali (Fudhala’ al-Hanabilah). Aqidah ini diajarkan di pesantren-pesantren Ahlussunnah di negara kita, Indonesia. Dan al-Hamdulillah, aqidah ini juga diyakini oleh ratusan juta kaum muslimin di seluruh dunia seperti Indonesia, Malaysia, Brunei, India, Pakistan, Mesir (terutama al-Azhar), negara-negara Syam (Syiria, Yordania, Lebanon dan Palestina), Maroko, Yaman, Irak, Turki, Daghistan, Checnya, Afghanistan dan masih banyak lagi di negara-negara lainnya. Maka wajib bagi kita untuk senantiasa penuh perhatian dan keseriusan dalam mendalami aqidah al- Firqah al-Najiyah yang merupakan aqidah golongan mayoritas.

      Karena ilmu aqidah adalah ilmu yang paling mulia, sebab ia menjelaskan pokok atau dasar agama. Abu Hanifah menamakan ilmu ini dengan al-Fiqh al-Akbar. Karenanya, mempelajari ilmu ini harus lebih didahulukan dari mempelajari ilmuilmu lainnya. Setelah cukup mempelajari ilmu ini baru disusul dengan ilmu-ilmu yang lain. Inilah metode yang diikuti para sahabat nabi dan ulama rabbaniyyun dari kalangan salaf maupun khalaf dalam mempelajari agama ini. Tradisi semacam ini sudah ada dari masa Rasulullah, sebagaimana dikatakan sahabat Ibn ‘Umar dan sahabat Jundub:

      “كُنا ونح  ن فتيانٌ حزاوِرةٌ مع ر  سولِ اللهِ صلَّى اللهُ علَيه وسّلم تعّلمنا الإيمانَ ولَم نتعلّمِ القرءَانَ ثُ  م تعلَّمنا

      الُقرءَانَ فَا  زددنا بِه إيمانا” (رواه ابن ماجه وصححه الحافظ البوصيرِ  ي)

      Maknanya: “Kami -selagi remaja saat mendekati baligh- bersama Rasulullah mempelajari

      iman (tauhid) dan belum mepelajari al-Qur’an. Kemudian kami mempelajari al-Qur’an maka bertambahlah keimanan kami”. (H.R. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh al-Hafidz al-Bushiri).

      Ilmu aqidah juga disebut dengan ilmu kalam. Hal tersebut dikarenakan banyaknya golongan yang mengatas namakan Islam justru menentang aqidah Islam yang benar dan banyaknya kalam (adu argumentasi) dari setiap golongan untuk membela aqidah mereka yang sesat.

      Tidak semua ilmu kalam itu tercela, sebagaimana dikatakan oleh golongan Musyabbihah (kelompok yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Akan tetapi ilmu kalam terbagi menjadi dua bagian: ilmu kalam yang terpuji dan ilmu kalam yang tercela. Ilmu kalam yang kedua inilah yang menyalahi aqidah Islam karena sengaja dikarang dan ditekuni oleh golongan-golongan yang sesat seperti Mu’tazilah, Musyabbihah (golongan yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, sepeti kaum Wahabiyyah) dan ahli bid’ah lainnya. Adapun ilmu kalam yang terpuji ialah ilmu kalam yang dipelajari oleh Ahlussunah untuk membantah golongan yang sesat. Dikatakan terpuji karena pada hakekatnya ilmu kalam Ahlussunnah adalah taqrir dan penyajian prinsip-prinsip aqidah dalam formatnya yang sistematis dan argumentatif; dilengkapi dengan dalil-dalil naqli dan aqli.

      Dasar-dasar ilmu kalam ini telah ada di kalangan para sahabat. Di antaranya, sahabat ‘Ali ibn Abi Thalib dengan argumentasinya yang kuat dapat mengalahkan golongan Khawarij, Mu’tazilah juga dapat membantah empat puluh orang yahudi yang meyakini bahwa Allah adalah jism (benda). Demikian pula sahabat ‘Abdullah ibn Abbas, al-Hasan ibn ‘Ali ibn Abi Thalib dan ‘Abdullah ibn Umar juga membantah kaum Mu’tazilah. Sementara dari kalangan tabi’in; imam al-Hasan al-Bashri, imam al-Hasan ibn Muhamad ibn al-Hanafiyyah; cucu sayyidina Ali ibn Abi Thalib dan khalifah Umar ibn Abdul Aziz juga pernah membantah kaum Mu’tazilah. Kemudian juga para imam dari empat madzhab; imam Syafi’i, imam Malik, imam Abu Hanifah, dan imam Ahmad juga menekuni dan menguasai ilmu kalam ini. Sebagaimana dituturkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi (W 429 H) dalam kitab Ushul ad-Din, al-Hafizh Abu al-Qasim ibn ‘Asakir (W 571 H) dalam kitabTabyin Kadzib al Muftari, al-Imam az-Zarkasyi (W 794 H) dalam kitab Tasynif al- Masami’ dan al ‘Allamah al Bayyadli (W 1098 H) dalam kitab Isyarat al-Maram dan lain-lain.

      Allah berfirman:

      ( (فَاعلَم أنه لاَ إله إلاَّ اللهُ واست غفر لذَنبِك) (مح  مد: 19

      Maknanya: “Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak

      disembah) kecuali Allah dan mohonlah ampun atas dosamu”. (Q.S. Muhammad :19)

      Ayat ini dengan sangat jelas mengisyaratkan keutamaan ilmu ushul atau tauhid.

      Yaitu dengan menyebut kalimah tauhid (la ilaha illallah) lebih dahulu dari pada

      perintah untuk beristighfar yang merupakan furu’ (cabang) agama. Ketika Rasulullah r ditanya tentang sebaik-baiknya perbuatan, beliau menjawab:

      “إيمانٌ بِاللهِ ور  سوله” (رواه البخارِ  ي)

      Maknanya: “Iman kepada Allah dan rasul-Nya”. (H.R. Bukhari)

      Bahkan dalam sebuah hadits Rasulullah r mengkhususkan dirinya sebagai orang

      yang paling mengerti dan faham ilmu tauhid, beliau bersabda:

      “أنا أعلَ  م ُ كم بِاللهِ وأخشا ُ كم لَه” (رواه البخارِ  ي)

      Maknanya: “Akulah yang paling mengerti di antara kalian tentang Allah dan paling takut kepada-Nya”. (H.R. Bukhari)

      Karena itu, sangat banyak ulama yang menulis kitab-kitab khusus mengenai penjelasan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah ini. Seperti Risalah al-’Aqidah ath- Thahawiyyah karya al-Imam as-Salafi Abu Ja’far ath-Thahawi (W 321 H), kitab al‘Aqidah an-Nasafiyyah karangan al Imam ‘Umar an-Nasafi (W 537 H), al-‘Aqidah al-Mursyidah karangan al-Imam Fakhr ad-Din ibn ‘Asakir (W 630 H), al ‘Aqidah ash-Shalahiyyah yang ditulis oleh al-Imam Muhammad ibn Hibatillah al-Makki (W 599H); beliau menamakannya Hadaiq al-Fushul wa Jawahir al Uqul, kemudianmenghadiahkan karyanya ini kepada sultan Shalahuddin al-Ayyubi (W 589 H).Tentang risalah aqidah yang terakhir disebutkan, sultan Shalahuddin sangat tertarik dengannya hingga beliau memerintahkan untuk diajarkan sampai kepada anakanak kecil di madrasah-madrasah, yang akhirnya risalah aqidah tersebut dikenal

      dengan nama al ‘Aqidah ash-Shalahiyyah. Sulthan Shalahuddin adalah seorang ‘alim yang bermadzhab Syafi’i, mempunyai perhatian khusus dalam menyebarkan al ‘Aqidah as-Sunniyyah. Beliau memerintahkan para muadzdzin untuk mengumandangkan al ‘Aqidah as-Sunniyyah di waktu tasbih (sebelum adzan shubuh) pada setiap malam di Mesir, seluruh negara Syam (Syiria, Yordania, Palestina dan Lebanon), Mekkah, Madinah, dan Yaman sebagaimana dikemukakan oleh al Hafizh as-Suyuthi (W 911 H) dalam al Wasa-il ila Musamarah al Awa-il dan lainnya. Sebagaimana banyak terdapat buku-buku yang telah dikarang dalam menjelaskan al ‘Aqidah as-Sunniyyah dan senantiasa penulisan itu terus berlangsung.

      Kita memohon kepada Allah semoga kita meninggal dunia dengan membawa aqidah Ahlissunah Wal Jamaah yang merupakan aqidah para nabi dan rasul Allah. Amin.

      KOMENTAR PARA ULAMA TENTANG AQIDAH ASY’ARIYYAH; AQIDAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

      As-Subki dalam Thabaqatnya berkata: “Ketahuilah bahwa Abu al-Hasan al-Asy’ari tidak membawa ajaran baru atau madzhab baru, beliau hanya menegaskan kembali madzhab salaf, menghidupkan ajaran-ajaran sahabat Rasulullah. Penisbatan nama kepadanya karena beliau konsisten dalam berpegang teguh ajaran salaf, hujjah (argumentasi) yang beliau pakai sebagai landasan kebenaran aqidahnya juga tidak keluar dari apa yang menjadi hujjah para pendahulunya, karenanya para pengikutnya kemudian disebut Asy’ariyyah. Abu al-Hasan al-Asy’ari bukanlah ulama yang pertama kali berbicara tentang Ahlussunnah wal Jama’ah, ulama-ulama sebelumya juga banyak berbicara tentang Ahlussunnah wal Jama’ah. Beliau hanya lebih memperkuat ajaran salaf itu dengan argumen-argumen yang kuat. Bukankah penduduk kota Madinah banyak dinisbatkan kepada Imam Malik, dan pengikutnya disebut al Maliki. Ini bukan berarti Imam Malik membawa ajaran baru yang sama sekali tidak ada pada para ulama sebelumnya, melainkan karena Imam Malik menjelaskan ajaran-ajaran lama dengan penjelasan yang lebih rinci dan sistematis..demikian juga yang dilakukan oleh Abu al-Hasan al-Asy’ari”.

      Habib Abdullah ibn Alawi al-Haddad menegaskan bahwa “kelompok yang benar adalah kelompok Asy’ariyah yang dinisbatkan kepada Imam Asy’ari. Aqidahnya juga aqidah para sahabat dan tabi’in, aqidah ahlul haqq dalam setiap masa dan tempat, aqidahnya juga menjadi aqidah kaum sufi sejati. Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Imam Abul Qasim al-Qusyayri. Dan alhamdulillah aqidahnya juga menjadi aqidah kami dan saudara-saudara kami dari kalangan habaib yang dikenal dengan keluarga Abu Alawi, juga aqidah para pendahulu kita. Kemudian beliau melantunkan satu bait sya’ir:

      وكن أشعريا في اعتقادك إنه هو المنهل الصافي عن الزيغ والكفر

      “Jadilah pengikut al Asy’ari dalam aqidahmu, karena ajarannya adalah sumber yang

      bersih dari kesesatan dan kekufuran“.

      Ibnu ‘Abidin al Hanafi mengatakan dalam Hasyiyah Radd al Muhtar ‘ala ad-Durr al Mukhtar : “Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah al Asya’irah dan al Maturidiyyah“. Dalam kitab ‘Uqud al Almas al Habib Abdullah Alaydrus al Akbar mengatakan :

      “Aqidahku adalah aqidah Asy’ariyyah Hasyimiyyah Syar’iyyah sebagaimana aqidah

      para ulama madzhab syafi’i dan Kaum Ahlussunnah Shufiyyah”.

      Bahkan jauh sebelum mereka ini Al Imam al ‘Izz ibn Abd as-Salam mengemukakan bahwa aqidah al Asy’ariyyah disepakati oleh kalangan pengikut madzhab Syafi’i, madzhab Maliki, madzhab Hanafi dan orang-orang utama dari madzhab Hanbali (Fudlala al Hanabilah). Apa yang dikemukakan oleh al ‘Izz ibn Abd as-Salam ini disetujui oleh para ulama di masanya, seperti Abu ‘Amr Ibn al Hajib (pimpinan ulama Madzhab

      Maliki di masanya), Jamaluddin al Hushayri pimpinan ulama Madzhab Hanafi di masanya, juga disetujui oleh al Imam at-Taqiyy as-Subki sebagaimana dinukil oleh putranya Tajuddin as-Subki.

      GARIS BESAR AQIDAH ASY’ARIYYAH

      Secara garis besar aqidah asy’ari yang juga merupakan aqidah ahlussunnah wal jama’ah adalah meyakini bahwa Allah ta’ala maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, Allah bukanlah benda yang bisa digambarkan juga bukan benda yang berbentuk dan berukuran. Allah tidak serupa dengan sesuatupun dari makhluk-Nya (laysa kamitslihi syai’). Allah ada dan tidak ada permulaan atau penghabisan bagi ada-Nya, Allah maha kuasa dan tidak ada yang melemahkan-Nya, serta Ia tidak diliputi arah. Ia ada sebelum menciptakan tempat tanpa tempat, Iapun ada setelah menciptakan tempat tanpa tempat. tidak boleh ditanyakan tentangnya kapan, dimana dan bagaimana ada-Nya. Ia ada tanpa terikat oleh masa dan tempat. Maha suci Allah dari bentuk (batasan), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar dan anggota badan yang kecil. Ia tidak diliputi satu arah atau enam arah penjuru. Ia tidak seperti makhluk-Nya. Allah maha suci dari duduk, bersentuhan, bersemayam, menyatu dengan makhluk-Nya, berpindah-pindah dan sifat-sifat makhluk lainnya.

      Ia tidak terjangkau oleh fikiran dan Ia tidak terbayang dalam ingatan, karena apapun yang terbayang dalam benakmu maka Allah tidak seperti itu. Ia maha hidup, maha mengetahui, maha kuasa, maha mendengar dan maha melihat. Ia berbicara dengan kalam-Nya yang azali sebagaimana sifat-sifat-Nya yang lain juga azali, karena Allah berbeda dengan semua makhluk-Nya dalam dzat, sifat dan perbuatan-Nya. Barang siapa menyifati Allah dengan sifat makhluknya sungguh ia telah kafir.

      Allah yang telah menciptakan makhluk dan perbuatan-perbuatan-Nya, Ia juga yang mengatur rizki dan ajal mereka. Tidak ada yang bisa menolak ketentuan-Nya dan tidak ada yang bisa menghalangi pemberian-Nya. Ia berbuat dalam kerajaan-Nya ini apa yang Ia kehendaki. Ia tidak ditanya perihal perbuatan-Nya melainkan hamba-Nyalah yang akan diminta pertanggungjawaban atas segala perbuatan-Nya. Apa yang Ia kehendaki pasti terlaksana dan yang tidak Ia kehendaki tidak akan terjadi. Ia disifati dengan kesempurnaan yang pantas bagi-Nya dan Ia maha suci dari segala bentuk kekurangan. Nabi Muhammad adalah penutup para nabi dan penghulu para rasul. Ia diutus Allah ke muka bumi ini untuk semua penduduk bumi, jin maupun manusia. Ia jujur dalam setiap apa yang disampaikannya. []

      Tidak Semua Yang Baru Itu Sesat Pemberian titik dan syakal pada mushaf itu tidak ada pada masa Rasul dan Rasul tidak pernah memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk melakukan itu, tapi sampai saat ini tidak ada yang berani mengatakan itu sesat dan yang sesat masuk neraka. Demikian juga adzan kedua pada hari jum’at yang dirintis pertama kali oleh sahabat Utsman ibn Affan karena melihat umat Islam sudah semakin banyak. Pada masa Rasul, Abu Bakar dan Umar adzan pada hari jum’at hanya dilakukan sekali ketika khatib naik mimbar, kemudian pada masa Utsman adzan ditambah sebelum khatib naik mimbar. Adzan yang pertama ditujukan untuk memperingatkan umat bahwa waktu dzuhur sudah masuk dan bersegera untuk meninggalkan aktifitas duniawinya dan datang ke masjid. Apakah kemudian Utsman disebut ahli bid’ah?! Bukankah Rasulullah telah memberikan keleluasan (rukhshah) kepada umatnya untuk berinovasi dalam hal kebaikan?! dalam haditsnya Rasul bersabda: “Barang siapa merintis perkara baru yang baik dalam Islam maka ia mendapatkan pahala dari upayanya serta pahala orang yang menjalankannya” .

      Seiring dengan perkembangan zaman tentu kebutuhan umat manusia semakin banyak lebih banyak dari masa Rasul dan sahabat, tidak ada salahnya kalau kita memanfaatkan fasilitas-fasilitas teknologi yang telah tercipta itu untuk mempermudah kepentingan kita beribadah kepada Allah. Karena tidak semua yang baru itu salah dan menyesatkan.

      Selamat membaca.

      Kenali aqidah ahlusunnah aqidah mayoriti ummat islam selama 15 abad, di Page Aqidah blog ini…

      Reply
  • woworya, on February 1, 2009 at 8:52 am Said:

    ass wr wb,
    mohon kiranya dapat dikirim info buat saya, dimanakah Mursyid yang kamil di Kalimantan Barat, khususnya di Pontianak yang dapat kami jadikan pembimbing, dalam mewujudkan niat saya menempuh tarikat,
    terima kasih atas bantuannya semoga Allah ridha, amin Ya Rabbal alamin. ws wr wb

    Reply
  • woworya, on February 1, 2009 at 8:59 am Said:

    web yang anda online kan ni membantu kami yang awam soal Islam, semoga menjadi sarana utk bekal akhirat kita yang mengaku sebagai ummat Rasulullah SAW.

    Reply
  • Abu Hafiz, on February 4, 2009 at 10:43 pm Said:

    Assalamualaikum wrh. wbt.,
    Saya pun baru perasan dah termakan virus Wahabi ni.
    Saya berminat dengan pandangan Imam Nawawi rh. kenapa beliau (berserta Imam Bayhaqi dan as-Suyuthi) memilih mazhab Syafie.
    Soalan saya: Berdasarkan petikan kata Imam Nawawi di atas, kenapakah pula kita tidak mengikut mazhab Hanbali sebab (dari sudut masa) mazhab ini disusun kemudian daripada mazhab Syafie? Tambahan pula Imam Ahmad rh. adalah murid kepada Imam Shafie dan mendapat pujian pula daripadanya.
    Soalan kedua berkenaan pendapat qadim dan jadid Imam Shafie. Kenapakah kadangkala dipakai juga pendapat qadim tidak yang jadid. Atau bagaimana?
    Dan ketiga: Apakah pandangan Imam Nawawi terhadap hadith A’ishah ra. dalam Sunan Abi Daud bab Taharah 1:179. Adakah dipandang sahih atau ada hadith lain yang lebih kuat?
    Payah juga nak cari website yang sebegini, syukran ya akhi barakallahufik! Wasalam.

    Reply
  • Abu Hafiz, on February 5, 2009 at 3:39 pm Said:

    Assalamualaikum wrh wbt.

    Soalan 2 selesai terima kasih, tapi maaf saya belum berapa faham jawapan untuk Soalan 3. Harap jika tidak keberatan mohon Tuan perincikan lagi. Punca kemusykilan saya adalah Hadith daripada Siti A’ishah ra. iaitu
    “Narrated Aisha:
    The Prophet (may peace be upon him) kissed one of his wives and went out for saying prayer. He did not perform ablution… (Sunan Abu Dawood Vol. 1 Chapter No. 70 Hadith No. 179)
    Pada fikiran naif orang awam seperti saya, berkemungkinan (possible) juga Imam Shafi’i rhm. (d. 204h) tidak berjumpa hadith ini, sebab beliau tidak sezaman dengan Imam Abu Daud rhm. (202-275h). Jadinya sebagai menghormati ilmu bersanad saya ingin mengetahui pendapat Imam Nawawi rhm. (b. 631h) berkenaan hadith ini kerana beliau menulis Syarah kepada Sunan Abi-Daud maka sudah semestinya beliau sudah lama merungkai jawapan kepada persoalan ini.

    Maaf saya tidak punya access kepada karya agung Imam Nawawi kecuali terjemahan Arbain, lebih-lebih lagi tidak mahir pula berbahasa arab. Harap tidak melanggar adab bertanya. Terima kasih.

    Reply
  • Imam syafei lahir Tahun 150 H, pada zaman 4 imam madzab, dasar hukum islam tidak hanya diambil dr al-qur’an dan hadis tapi juga ra’yi atau amalan para tabi’in di madinah (karena mereka adalah murid para sahabat) dan imam syafei adalah imam yang menggabungkan dua madzab hadis dan madzab ahlu ra’yi shg fatwa imam syafei pasti berdasarkan al-qur’an hadis di dukung oleh ra’yi para ulama zaman tabi’in (termasuk ijma dan qiyas para tabi’in yang bersanad pada sahabat).

    para muhadis spt imam tirmidzi, abu dawud, imam Bukhary dsb adalah generasi yang jauh dr zaman sahabat dan tabi’in dan mereka bukan mujtahid. karena menurut qaul imam ahmad : seorang mujtahid harus hafal minimal 600 ribu hadis dgn sanad. Diantara imam hadis yg mencapai hafalan 600 ribu hadis hanya imam Bukhary tapi imam Bukhari sendiri dalam mukadimah shahihnya mengatakan : “adapun fiqh kami, kami mengikut kepada syaikhuna (imam syafei)”..hanya beberapa furu’ dimana imam Bukhary berijtihad sendiri.

    http://salafytobat.wordpress.com/2008/12/07/dalil-batalnya-wudhu-karena-menyentuh-wanita/

    Hadits-hadits yang berlawanan dengan hadits diatas dan penjelasannya

    1) Aisyah istri Nabi saw. berkata, “Saya tidur di depan Rasulullah dengan kedua kakiku berada di arah kiblatnya. Apabila beliau sujud, beliau mendorongku. Lalu, aku menarik kedua kakiku. Apabia beliau berdiri, aku memanjangkan kembali kedua kakiku.” Aisyah menambahkan, “Pada waktu itu tidak ada lampu di rumah.” (Hadits dhoif)

    keterangan :
    hadits itu dhoif, dan sebagian pendapat menafsirkan bahwa saat itu Rasul saw menyingkirkan kaki Aisyah ra dengan menyentuh bajunya dan bukan kulit terbuka,

    2) hadits Aisyah ra yg mengatakan bahwa nabi saw mencium diantara istrinya lalu keluar menuju shalat tanpa berwudhu lagi”. (Tapi Hadits ini dhoif, hadis ini didhoifkan oleh Imam Bukhari, dan hadits lainnya yg riwayat Attaimiy adalah mursal, ia telah tertolak untuk dijadikan hujjah.)

    keterangan :
    ada pula yang menshahihkan hadits ini mengatakan bahwa Rasul saw mencium istrinya, tetapi penafsiran para Muhaddits berbeda beda, sebagian pendapat mengatakan itu adalah kekhususan Rasul saw sebagaimana beberapa kekhususan Nabi saw yg boleh menikah hungga 9 istri, karena beliau saw ma;shum, dan tidak diizinkan bagi selain beliau saw,

    pendapat lainnya bahwa hal itu untuk umum, bersentuhan dengan wanita tidak membatalkan wudhu, pendapat lainnya mengatakan bahwa bersentuhan dg syahwat membatalkan wudhu jika tidak maka tidak,. pendapat lain mengatakan bahwa jika menyentuh maka batal, jika disentuh (bukan kemauannya atau tanpa sengaja) maka tidak batal.

    namun Madzhab Syafii mengatakan bersentuhannya pria dan wanita yg bukan muhrimnya dan keduanya dewasa dan sentuhan itu tanpa penghalang berupa kain atau lainnya maka membatalkan wudhu, bersentuhan suami dan istri batal wudhu, demikian dalam madzhab kita.

    berikut ini hadis dan tafsir dalam kitab al-umm

    Reply
  • Abu Hafiz, on February 6, 2009 at 12:00 am Said:

    Ya Allah, ada lagi entry lain rupanya. Minta maaf akhi, saya akan cuba semak keseluruhan blog sebelum mengemukakan soalan. Namun terima kasih atas penjelasan yang diberikan. Terima kasih kerana mengeluarkan mutiara-mutiara ilmu daripada kitab-kitab berkat untuk dikongsi bersama dengan orang yang belum berpeluang menikmatinya.

    Pada perkiraan saya dulu, ulama yang datang kemudian semestinya lebih hebat kerana dapat manfaat dan dapat membandingkan hasil fiqh ulama terdahulu. Tetapi jelas sekarang ini tidak semestinya, kerana faktor keutamaan dan berkat dapat hidup sezaman dan belajar daripada para tabi’in yg merupakan murid para sahabat ra. yg in turn diajar langsung oleh baginda Rasullullah s.a.w. sendiri juga perlu diambilkira. Ini semua berpunca kerana tidak mengenali benar-benar siapa dia para Imam mazhab. Jadi nasihat Tuan iaitu “insyaAllah kalau kita ikut salah satu dari imam para mujtahid (4 madzab) kita akan selamat” bagi saya adalah sound dan memadai.

    Manakan mungkin anak murid mengatasi gurunya? Guru terhebat (tertinggi, teratas) ialah Muhammad Rasulullah s.a.w.!

    Yakin saya sekarang betapa hebatnya ilmu Imam-imam Mujtahidin dalam memahami walau sebahagian khazanah ilmu Allah. Bila ditelah baik-baik apa maksud menghafal enam Ratus Ribu hadith itu (matan+sanadnya sekali) maka sahlah bukan level saya nak mengangkat diri sebanding dengan mujtahid dan cuba pula pandai-pandai mengeluarkan hukum daripada Hadith. Moga menjadi pengajaran juga buat saudaraku lain yang termakan sama fahaman tak guna Wahabi ini.

    Walhasil kesimpulan saya ialah carilah ilmu bersanad daripada guru yang mursyid. Jazakallahu khairan kathira! Barakallahufikum!

    Reply
  • Noval, on February 7, 2009 at 10:58 am Said:

    Apakah Tasawwuf bid’ah dan sesat?
    mohon dijawab!!!
    (ini adalah maksud pertanyaan saudara Noval, copas anda saya hapus karena hanya artikel wahaby yang penuh dengan rujukan palsu dan anda juga tidak mengetahui kitab asal yang dijadikan rujukan oleh wahaby laknatullah- admin)

    SILAHKAN ANDA MENDOWNLOAD KITAB RUJUKAN SEBAGAI BUKTI PEMALSUAN KITAB SALAF OLEH ZIONIST- WAHABY
    scan kitab dapat dilihat di :
    http://salafytobat.wordpress.com/2009/02/04/kitab-al-itisham-imam-syatibi-vs-wahaby-tasawwuf-bukan-bidah/

    Jawaban :
    1. Tasawwuf bukan bi’dah
    Agama wahaby tidak henti-hentinya menebar fitnah dan kerusakan dengan mengatakan “tasawwuf adlah bida’ah dan sesat” dengan membuat artikel yang berisi rujukan Palsu. Berikut ini adalah bukti dari kitab al-i’tisham (Imam Syatibi) bahwa Tasawwuf bukan Bid’ah, kitab ini sering diselewengkan oleh wahaby laknatullah.

    Tarjamah Kitab Al-tisam tentang Delik-delik tasawwuf:

    “3. Delik-delikTasawuf
    Tasawuf bukan termasuk perkara bid’ah dan bukan pula permasalahan yang dapat dipecahkan dengan dalil secara mutlak, karena perkara ini terbagi-bagi.
    Untuk lebih mudah dipahami, lafazh tasawuf harus diterangkan terlebih dahulu, agar hukumnya menjadi jelas dan terperinci, karena menurut para ulama mutakhkhirin tasawuf adalah perkara yang global. Kesimpulan tentang pengertian lafazh tasawuf, menurut mereka ada dua, yaitu:
    1. Berakhlak dengan akhlak yang terpuji dan meninggalkan akhlak yang tercela.
    2. Melupakan hal-hal yang berkaitan dengan dirinya dan selalu bersama Allah.
    Kedua pengertian tersebut pada hakikatnya memiliki satu arti, namun yang satunya diartikan sebagai awal perjalanan dan yang satunya lagi diartikan sebagai akhir perjalanan.
    Kedua pengertian tersebut adalah sifat tasawuf, namun pengertian yang pertama tidak berhubungan dengan keadaan {Al Hal), sedangkan yang kedua berhubungan dengan keadaan.

    Ada juga yang mengartikannya dengan pengertian lain, yaitu bahwa yang pertama adalah perkara-perkara taklif (pembebanan yang berisi perintah dan larangan) dan yang kedua adalah hasil dari pelaksanaan tak/if tersebut Jadi, pengertian yang pertama merupakan sifat-sifat zhahir dan pengertian yang kedua merupakan sifat-sifat batin, sedangkan penggabungan keduanya disebut tasawuf.
    Menurut pendapat yang ada, bila pengertian ini telah disepakati maka lafazh tasawuf dengan pengertian yang pertama bukan termasuk bid’ah, karena ia bersandar kepada pemahaman ilmu fikih yang berdasarkan pada perbuatan, pembahasan secara terperinci tentang kendala dan rintangan-rintangannya serta mencarikan solusi dari segi kerusakan yang terjadi dengan perbaikan. Ia adalah ilmu fikih yang benar, yang dasar-dasamya sangat jelas, ada di dalam Al Qur’an dan Sunnah. Dengan demikian, perkara tersebut tidak dapat disebut bid’ah, kecuali bila disebutkan atas cabang-cabang ilmu fikih yang belum digolongkan bid’ah oleh ulama-ulama salaf, seperti terdapat pada cabang-cabang pembahasan tentang salam, sewa menyewa, perawat, perkara-perkara lupa, menarik kesaksian, dan jual-beli dengan uang muka.
    Tidak ada wewenang bagi para ulama untuk menyebutkan lafazh bid’ah terhadap cabang-cabang ilmu fikih yang telah ditetapkan hukumnya dan tidak tercantum sebelumnya, meski perkara-perkaranya samar dan sulit dimengerti. Begitu pula akhlak yang zhahir dan batin, tidak lantas digolongkan sebagai bid’ah, sebab semua perkara tersebut kembali pada dasar-dasar yang telah disyariatkan.” (Kitab Tarjamah Al-i’tisham -halaman 237-23). anda bisa download dan search di :http://www.scribd.com/doc/4445499/AlItisham-jilid-12-Imam-AsySyatibi

    2. Tasawwuf bukan sesat bahkan dianjurkan
    salah satu Nasihat imam Syafei yang disembunyikan dan coba untuk dihilangkan oleh wahaby laknatullah.

    BAIT YANG HILANG DARI DIWAN IMAM SYAFI’I !

    فقيها و صوفيا فكن ليس واحدا * فإني و حـــق الله إيـــاك أنــــصح
    فذالك قاس لم يـــذق قـلــبه تقى * وهذا جهول كيف ذوالجهل يصلح

    Berusahalah engkau menjadi seorang yang mempelajari ilmu fiqih dan
    juga menjalani tasawuf, dan janganlah kau hanya mengambil salah satunya.
    Sesungguhnya demi Allah saya benar-benar ingin memberikan nasehat padamu.

    Orang yang hanya mempelajari ilmu fiqih tapi tidak mahu menjalani tasawuf, maka hatinya tidak dapat merasakan kelazatan takwa. Sedangkan orang yang hanya menjalani tasawuf tapi tidak mahu mempelajari ilmu fiqih, maka bagaimana bisa dia menjadi baik?

    [Diwan Al-Imam Asy-Syafi’i, hal. 47]

    COBA DOWNLOAD DARI :

    http://www.almeshkat.net/books/open.php?cat=17&book=16

    MAKA KALIMAT DI ATAS SUDAH HILANG !

    BANDINGKAN DENGAN TERBITAN BEIRUT DAN DAMASKUS:

    Dar al-Jil Diwan (Beirut 1974) p.34

    Dar al-Kutub al-`Ilmiyya (Beirut 1986) p.48

    Bait tersebut dapat dilihat di Diwan assafii terbitan Dar el-mareefah halaman 42:
    http://www.4shared.com/file/37064910/c3ad321/Diwan_es-Safii.html?s=1

    Reply
  • abu salman, on February 7, 2009 at 1:04 pm Said:

    saya mau tanya? apakah anda benar pernah ikut salafy? mengapa keluar? karena tobat? atau karena pendapat anda tidak dipakai oleh yang lain?sehingga akhirnya anda “purik” dan membuat blog ini? saya cuma tanya, tidak usah emosi…..semoga Alloh menunjuki kita jalan yang lurus…amin
    —-
    Jawaban admin :
    1. maaf saya bukan keluar dari salafy tapi keluar dari AGAMA WAHABY LAKNATULLAH.
    wahaby bukanlah salafy….

    2. alasan saya keluar?
    karena saya mengecek di kitab ahlusunnah yang asli dan tidak hanya taklid dengan artikel atau ocehan ustaz wahaby. Khususnya di bidang ta’wil ayat mutasyabihat. Coba ande cek di kitab tafsir mu’tabar apakah dalam kitab itu mengambil makna dhahir lafadz istiwa, yadd (tangan), wajh (wajah), nur (cahaya) dsb….

    saya sarankan anda membeli kitab asli (bahasa arab ) tafsir jalalain, ibnu katsir, qurtubi, annasafi, …beli dulu kitabnya kemudian klo anda tidak bisa baca, minta diartikan tiap katanya oleh ustadz yang mahir ‘arabiyah.
    ahlusunnah menta’wil ayat mutasyabihat

    Ta’wil bererti menjauhkan makna dari segi zahirnya kepada makna yang lebih layak bagi Allah, ini kerana zahir makna nas al-Mutasyabihat tersebut mempunyai unsur jelas persamaan Allah dengan makhluk. Dalil melakukan ta’wil ayat dan hadis mutasyabihat:

    Rasulullah berdoa kepada Ibnu Abbas dengan doa: J لكتا  يل  تأ  لحكمة  لهم علمه – ل
    Maknanya: “Ya Allah alimkanlah dia hikmah dan takwil Al quran” H.R Ibnu Majah. (Sebahagian ulamak salaf termasuk Ibnu Abbas
    mentakwil ayat-ayat mutasyabihah)

    Ta’wilan pula ada dua,
    Pertama: Ta’wilan Ijmaliyy iaitu ta’wilan yang dilakukan secara umum dengan menafikan makna zahir nas al-Mutasyabihat tanpa diperincikan maknanya.

    sebagai contoh perkataan istawa dikatakan istawa yang layak bagi Allah dan waktu yang sama dinafikan zahir makna istawa kerana zahirnya bererti duduk dan bertempat, Allah mahasuci dari bersifat duduk dan bertempat.

    Manakala kedua adalah: Ta’wilan Tafsiliyy iaitu ta’wilan yang menafikan makna zahir nas tersebut kemudian meletakkan makna yang layak bagi Allah.
    seperti istawa bagi Allah bererti Maha Berkuasa kerana Allah sendiri sifatkan dirinya sebagai Maha Berkuasa.

    A. Tafsir Makna istiwa Menurut Kitab Tafsir Mu’tabar
    lihat dalam tafsir berikut :

    Sekarang akan disebutkan sebahagian penafsiran lafaz istawa dalam surah ar Ra’d:

    1- Tafsir Ibnu Kathir:
    (ثم استوى على العرش ) telah dijelaskan maknanya sepertimana pada tafsirnya surah al Araf, sesungguhnya ia ditafsirkan tanpa kaifiat(bentuk) dan penyamaan

    Disini Ibnu Katsir mengunakan ta’wil ijtimalliy iaitu ta’wilan yang dilakukan secara umum dengan menafikan makna zahir nas al-Mutasyabihat tanpa diperincikan maknanya. sebenarnya memahami makna istiwa ini sebenarnya.

    وأما قوله تعالى: {ثم استوى على العرش} فللناس في هذا المقام مقالات كثيرة جداً، ليس هذا موضع بسطها، وإنما نسلك في هذا المقام مذهب السلف الصالح مالك والأوزاعى والثوري والليث بن سعد والشافعي و أحمد وإسحاق راهويه وغيرهم من أئمة المسلمين قديما وحديثا وهو إمرارها كما جاءت من غير تكييف ولا تشبيه ولا تعطيل، والظاهر المتبادر إلى أذهان المشبهين منفي عن اللّه فإن اللّه لا يشبهه شيء من خلقه و{ليس كمثله شيء وهو السميع البصير}، بل الأمر كما قال أئمة منهم نعيم بن حماد الخزاعي شيخ البخاري قال: من شبَّه اللّه بخلقه كفر، ومن جحد ما وصف اللّه به نفسه فقد كفر، وليس فيما وصف اللّه به نفسه ولا رسوله تشبيه فمن أثبت للّه تعالى ما وردت به الآيات الصريحة والأخبار الصحيحة على الوجه الذي يليق بجلال اللّه ونفي عن الله تعالى النقائص قد سلك سبيل الهدى

    “Dan adapun firman-Nya: “Kemudian Dia istiwa di atas ‘arsy”, Orang-orang mempunyai berbagai pendapat yang sangat banyak dalam hal ini, dan bukan ini tempatnya perinciannya. Hanyasaja dalam hal ini kami menapaki (meniti) cara yang dipakai oleh madzhab Salaf al-Shalih, (seperti) Malik, al-Auza’i, al-Laits bin Sa’ad, al-Syafi’i, Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan selain mereka dari para imam kaum muslimin yang terdahulu maupun kemudian, yakni membiarkan (lafadz)nya seperti apa yang telah datang (maksudnya tanpa memperincikan maknanya)tanpa takyif (bagaimana, gambaran), tanpa tasybih (penyerupaan), dan tanpa ta’thil (menafikan). Zhahirnya apa yang mudah ditangkap oleh musyabbih (orang yang melakukan tasybih) adalah hal yang tidak ada bagi Allah, karena sesungguhnya Allah tidak ada sesuatupun dari makhluk-Nya yang menyerupai-Nya, dan “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” [al-Syura: 11]. Bahkan perkaranya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh para imam, diantaranya Nu’aim bin Hammad al-Khuza’i, guru al-Bukhari, ia berkata: “Siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, ia telah kafir, dan siapa yang mengingkari apa yang Allah mensifati diri-Nya, maka ia kafir, dan bukanlah termasuk tasybih (penyerupaan) orang yang menetapkan bagi Allah Ta’ala apa yang Dia mensifati diri-Nya dan Rasul-Nya dari apa yang telah datang dengannya ayat-ayat yang sharih (jelas/ayat mukamat) dan berita-berita (hadits) yang shahih dengan (pengertian) sesuai dengan keagungan Allah dan menafikan dari Allah sifat-sifat yang kurang; berarti ia telah menempuh hidayah.”

    Inilah selengkapnya dari penjelasan Ibnu Katsir.Berdasarkan penjelasan ibnu katsir :

    – ibnu katsir mengakui ayat ‘istiwa’ adalah ayat mutasyabihat yang tidak boleh memegang makna dhahir dari ayat mutasyabihat tapi mengartikannya dengan ayat dan hadis yang jelas (muhkamat) bukan mengartikannya dengan ayat-dan hadis mutasyabihat.

    وقَالَ الإِما م َأحمد الرفَاعي الْمتوفَّى سنةَ 578 ه : “صونوا
    عقَائدكُم من التمسك ِبظَاهرِ ما تشابه من الْكتابِ والسنة فَإِنَّ
    ذلك من ُأصولِ الْكُفْرِ”.
    Al Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H) dalam al Burhan al Muayyad berkata: “Jagalah aqidah kamu sekalian dari berpegang kepada zhahir ayat al Qur’an dan hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam yang mutasyabihat sebab hal ini merupakan salah satu pangkal kekufuran”.

    – jadi ibnu katsir tidak memperincikan maknanya tapi juga tidak mengambil makna dhahir ayat tersebut.

    – disitu imam ibnu katsir, imam Bukhari dan imam ahlsunnah lainnya tidak melarang ta’wil.

    “…dan selain mereka dari para imam kaum muslimin yang terdahulu maupun kemudian, yakni membiarkan (lafadz)nya seperti apa yang telah datang (maksudnya tanpa memperincikan maknanya)tanpa takyif (bagaimana, gambaran), tanpa tasybih (penyerupaan), dan tanpa ta’thil (menafikan)….”

    sedangkan wahaby melarang melakukan tanwil!

    Bukti imam Bukhari, imam Ahmad dan lainnya melakukan ta’wil ayat mutasyabihat akan dijelaskan pada point E.

    2- Tafsir al Qurtubi

    (ثم استوى على العرش ) dengan makna penjagaan dan penguasaan

    3- Tafsir al-Jalalain
    (ثم استوى على العرش ) istiwa yang layak bagi Nya

    4- Tafsir an-Nasafi Maknanya:

    makna ( ثم استوى على العرش) adalah menguasai Ini adalah sebahagian dari tafsiran , tetapi banyak lagi tafsiran-tafsiran ulamak Ahlu Sunnah yang lain…

    B. Makna istiwa yang dikenal dalam bahasa arab dan dalam kitab-kitab Ulama salaf

    Di dalam kamus-kamus arab yang ditulis oleh ulama’ Ahlu Sunnah telah menjelaskan istiwa datang dengan banyak makna, diantaranya:

    1-masak (boleh di makan) contoh:

    قد استوى الطعام—–قد استوى التفاح maknanya: makanan telah masak—buah epal telah masak

    2- التمام: sempurna, lengkap

    3- الاعتدال : lurus

    4- جلس: duduk / bersemayam,

    contoh: – استوى الطالب على الكرسي : pelajar duduk atas kerusi -استوى الملك على السرير : raja bersemayam di atas katil

    5- استولى : menguasai,

    contoh: قد استوى بشر على العراق من غير سيف ودم مهراق

    Maknanya: Bisyr telah menguasai Iraq, tanpa menggunakan pedang dan penumpahan darah.

    Al Hafiz Abu Bakar bin Arabi telah menjelaskan istiwa mempunyai hampir 15 makna, diantaranya: tetap,sempurna lurus menguasai, tinggi dan lain-lain lagi, dan banyak lagi maknannya. Sila rujuk qamus misbahul munir, mukhtar al-Sihah, lisanul arab, mukjam al-Buldan, dan banyak lagi. Yang menjadi masalahnya, kenapa si penulis memilih makna bersemayam. Adakah makna bersemayam itu layak bagi Allah?, apakah dia tidak tahu bersemayam itu adalah sifat makhluk? Adakah si penulis ini tidak mengatahui bahawa siapa yang menyamakan Allah dengan salah satu sifat daripada sifat makhluk maka dia telah kafir?

    sepertimana kata salah seorang ulama’ Salaf Imam at Tohawi (wafat 321 hijrah):

    ومن وصف الله بمعنى من معانى البشر فقد كفر

    Maknanya: barang siapa yang menyifatkan Allah dengan salah satu sifat dari sifat-sifat manusia maka dia telah kafir. Kemudian ulama’-ulama’ Ahlu Sunnah telah menafsirkan istiwa yang terkandung di dalam Al quran dengan makna menguasai arasy kerana arasy adalah makhluk yang paling besar, oleh itu ia disebutkan dalam al Quran untuk menunjukkan kekuasaan Allah subhanahu wata’ala sepertimana kata-kata Saidina Ali yang telah diriwayatkan oleh Imam Abu Mansur al-Tamimi dalam kitabnya At-Tabsiroh:

    ان الله تعالى خلق العرش اظهارا لقدرته ولم يتخذه مكان لذاته

    Maknanya: Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mencipta al-arasy untuk menzohirkan kekuasaanya, bukannya untuk menjadikan ia tempat bagi Nya.

    Allah ada tanpa tempat dan arah adalah aqidah salaf yang lurus.
    Hukum Orang yang meyakini Tajsim; bahwa Allah adalah Benda

    Syekh Ibn Hajar al Haytami (W. 974 H) dalam al Minhaj al
    Qawim h. 64, mengatakan: “Ketahuilah bahwasanya al Qarafi dan lainnya meriwayatkan perkataan asy-Syafi’i, Malik, Ahmad dan Abu Hanifah – semoga Allah meridlai mereka- mengenai pengkafiran mereka terhadap orangorang yang mengatakan bahwa Allah di suatu arah dan dia adalah benda, mereka pantas dengan predikat tersebut (kekufuran)”.

    Al Imam Ahmad ibn Hanbal –semoga Allah meridlainyamengatakan:
    “Barang siapa yang mengatakan Allah adalah benda, tidak seperti benda-benda maka ia telah kafir” (dinukil oleh Badr ad-Din az-Zarkasyi (W. 794 H), seorang ahli hadits dan fiqh bermadzhab Syafi’i dalam kitab Tasynif al Masami’ dari pengarang kitab al Khishal dari kalangan pengikut madzhab Hanbali dari al Imam Ahmad ibn Hanbal).

    Al Imam Abu al Hasan al Asy’ari dalam karyanya an-Nawadir mengatakan : “Barang siapa yang berkeyakinan bahwa Allah adalah benda maka ia telah kafir, tidak mengetahui Tuhannya”.

    As-Salaf ash-Shalih Mensucikan Allah dari Hadd, Anggota badan, Tempat, Arah dan Semua Sifat-sifat Makhluk

    الْموُلود سنةَ 227 ه t  16 . قَالَ اْلإِمام َأبو جعفَرٍ الطَّحاوِي
    والْمتوفَّى سنةَ 321 ه : “تعالَى (يعنِي الله) عنِ الْحدود
    والْغايات والأَركَان والأَعضاءِ والأَدوات لاَ تحوِيه الْجِهات
    الست كَسائرِ الْمبتدعات”.

    Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -semoga Allah meridlainya- (227-321 H) berkata:
    “Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya). Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan,
    kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arah penjuru tersebut”.

    Perkataan al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi di atas merupakan Ijma’ (konsensus) para sahabat dan Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah).

    C. ulamak 4 mazhab tentang aqidah

    1- Imam Abu hanifah:

    لايشبه شيئا من الأشياء من خلقه ولا يشبهه شيء من خلقه

    Maknanya:: (Allah) tidak menyerupai sesuatu pun daripada makhlukNya, dan tidak ada sesuatu makhluk pun yang menyerupaiNya.Kitab Fiqh al Akbar, karangan Imam Abu Hanifah, muka surat 1

    2-Imam Syafie:

    انه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفته الأزلية كما كان قبل خلقه المكان لايجوز عليه التغيير

    Maknanya: sesungguhnya Dia Ta’ala ada (dari azali) dan tempat belum dicipta lagi, kemudian Allah mencipta tempat dan Dia tetap dengan sifatnnya yang azali itu seperti mana sebelum terciptanya tempat, tidak harus ke atas Allah perubahan. Dinuqilkan oleh Imam Al-Zabidi dalam kitabnya Ithaf al-Sadatil Muttaqin jilid 2 muka surat 23

    3-Imam Ahmad bin Hanbal :

    -استوى كما اخبر لا كما يخطر للبشر

    Maknanya: Dia (Allah) istawa sepertimana Dia khabarkan (di dalam al Quran), bukannya seperti yang terlintas di fikiran manusia. Dinuqilkan oleh Imam al-Rifae dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, dan juga al-Husoni dalam kitabnya Dafu’ syubh man syabbaha Wa Tamarrad.

    وما اشتهر بين جهلة المنسوبين الى هذا الامام المجتهد من أنه -قائل بشىء من الجهة أو نحوها فكذب وبهتان وافتراء عليه

    Maknanya: dan apa yang telah masyhur di kalangan orang-orang jahil yang menisbahkan diri mereka pada Imam Mujtahid ini (Ahmad bin Hanbal) bahawa dia ada mengatakan tentang (Allah) berada di arah atau seumpamanya, maka itu adalah pendustaan dan kepalsuan ke atasnya(Imam Ahmad) Kitab Fatawa Hadisiah karangan Ibn Hajar al- Haitami

    4- Imam Malik :

    الاستواء غير المجهول والكيف غير المعقول والايمان به واجب و السؤال عنه بدعة

    Maknannya: Kalimah istiwa’ tidak majhul (diketahui dalam al quran) dan kaif(bentuk) tidak diterima aqal, dan iman dengannya wajib, dan soal tentangnya bidaah.

    lihat disini : imam malik menulis kata istiwa (لاستواء) bukan jalasa atau duduk atau bersemayam atau bertempat (istiqrar)…..

    lihat bagaimana wahaby membodohi pengikutnya :

    Wahaby tulis :
    Imam Malik berkata “Allah bersemayam“ (padahal aslinya hanya tertulis lafadaz istiwa) telah jelas kita ketahui. Bagaimana dia bersemayam (padahal aslinya hanya tertulis lafadaz istiwa) tidak akan terjangkau oleh Akal. Beriman tentang hal tsb adalah suatu kewajiban bagi kita sedangkan menanyakan bagaimana hakikatnya/kaifiyyatnya adalah termasuk bid’ah “.

    D. Dalil -dalil Allah tidak bertempat dan Berarah

    Mengenai aqidah ahlusunnah yang sangat penting dalam Bab 5 kitab al-Farq baina al-Firaq ialah mengenai aqidah sunni “Allah ada Tanpa Tempat /Allah Maujud Bilaa Makan)
    كَانَ اللهُ ولَم ي ُ كن شىءٌ غَي  ره ” (رواه ” :r 2. قال رسول الله
    البخاري والبيهقي وابن الجارود)
    Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al Bukhari, al Bayhaqi dan Ibn al Jarud).

    Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘Arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).

    Al Imam Abu Hanifah dalam kitabnya al Fiqh al Absath berkata:
    “Allah ta’ala ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada tempat, Dia ada sebelum menciptakan makhluk, Dia ada dan belum ada tempat, makhluk dan sesuatu dan Dia pencipta segala sesuatu”.

    Maka sebagaimana dapat diterima oleh akal, adanya Allah tanpa tempat dan arah sebelum terciptanya tempat dan arah, begitu pula akal akan menerima wujud-Nya tanpa tempat dan arah setelah terciptanya tempat dan arah. Hal ini bukanlah penafian atas adanya Allah. Al Imam al Bayhaqi (W. 458 H) dalam kitabnya al Asma wa ash-Shifat, hlm. 506, mengatakan: “Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah shalllallahu ‘alayhi wa sallam:

    َأنت الظَّا  ه  ر فَلَيس فَوقَك شىءٌ وأَنت ” :r 3. قال رسول الله
    الْبا  ط  ن فَلَيس دونك شىءٌ ” (رواه مسلم وغيره)

    Maknanya: “Engkau azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah alBathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu di bawah-Mu” (H.R. Muslim dan lainnya).
    Jika tidak ada sesuatu di atas-Nya dan tidak ada sesuatu di bawah-Nya berarti Dia tidak bertempat”.

    Tidak Boleh dikatakan Allah ada di atas ‘Arsy atau ada di mana-mana
    Seperti dengan hadits yang diriwayatkan oleh al Bukhari, perkataan sayyidina Ali ibn Abi Thalib -semoga Allah meridlainya-:
    كَانَ اللهُ ولاَ مكَانَ وهو الآنَ علَى ما علَيه ” :t  5. قَالَ سيدنا علي
    ( كَانَ” (رواه أبو منصور البغدادي في الفرق بين الفرق / ص: 333

    Maknanya: “Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat” (Dituturkan oleh al Imam Abu Manshur alBaghdadi dalam kitabnya al Farq bayna al Firaq h. 333).
    Karenanya tidak boleh dikatakan Allah ada di satu tempat atau di mana-mana, juga tidak boleh dikatakan Allah ada di satu arah atau semua arah penjuru. Syekh Abdul Wahhab asy-Sya’rani (W. 973 H) dalam kitabnya al Yawaqiit Wa al Jawaahir menukil perkataan Syekh Ali al Khawwash: “Tidak boleh dikatakan bahwa Allah ada di mana-mana”. Aqidah yang mesti diyakini bahwa Allah ada tanpa arah dan tanpa tempat.

    ِإنَّ اللهَ خلَق الْعرش ِإظْهارا لقُدرته وَلم ” :t  6. وقَالَ سيدنا علي
    يتخذْه مكَانا لذَاته” (رواه أبو منصور البغدادي في الفرق بين
    ( الفرق/ ص : 333
    Al Imam Ali -semoga Allah meridlainya- mengatakan yang maknanya: “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untukmenjadikannya tempat bagi Dzat-Nya” (diriwayatkan oleh Abu Manshur al Baghdadi dalam kitab al Farq bayna al Firaq, hal. 333)

    ِإنَّ الَّذي َأين اْلأَين لاَ يقَا ُ ل َله َأين وِإنَّ “: t  7. قَالَ سيدنا علي
    الَّذي كَيف الْكَيف لاَ يقَا ُ ل َله كَيف” (رواه أبو المظفّر الإسفراييني
    ( في كتابه التبصير في الدين/ ص: 98
    Sayyidina Ali -semoga Allah meridlainya- juga mengatakan yang maknanya: “Sesungguhnya yang menciptakan ayna (tempat) tidak boleh dikatakan bagi-Nya di mana (pertanyaan tentang tempat), dan yang menciptakan kayfa (sifat-sifat makhluk) tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana” (diriwayatkan oleh Abu al Muzhaffar al Asfarayini dalam kitabnya at-Tabshir fi ad-Din, hal. 9

    A llah Maha suci dari Hadd

    َالْمحدود عند علَماءِ التوحيد ما َله حجم صغيرا كَانَ َأو كَبِيرا
    والْحد عندهم هو الْحجم ِإنْ كَانَ صغيرا وِإنْ كَانَ كَبِيرا، َالذَّرةُ
    محدودةٌ والْعرش محدود والنور والظَّلاَم والريح كُلٌّ محدود.
    Maknanya: Menurut ulama tauhid yang dimaksud al mahdud (sesuatu yang berukuran) adalah segala sesuatu yang memiliki bentuk baik kecil maupun besar. Sedangkan pengertian al hadd (batasan) menurut mereka adalah bentuk baik kecil maupun besar. Adz-Dzarrah (sesuatu yang terlihat dalam cahaya matahari yang masuk melalui jendela) mempunyai ukuran demikian juga ‘Arsy, cahaya, kegelapan dan angin masing-masing mempunyai ukuran.
    من زعم َأنَّ ِإلهَنا محدود فَقَد جهِلَ الْخالق ” :t  9. قَالَ اْلإِما م علي
    الْمعبود” (رواه أبو نعيم)

    Al Imam Sayyidina Ali -semoga Allah meridlainya- berkata yang maknanya: “Barang siapa beranggapan (berkeyakinan) bahwa Tuhan kita berukuran maka ia tidak mengetahui Tuhan yang wajib disembah (belum beriman kepada-Nya)” (diriwayatkan oleh Abu Nu’aym (W. 430 H) dalam Hilyah al Auliya’, juz I hal. 72).

    Maksud perkataan sayyidina Ali tersebut adalah sesungguhnya berkeyakinan bahwa Allah adalah benda yang kecil atau berkeyakinan bahwa Dia memiliki bentuk yang meluas tidak berpenghabisan merupakan kekufuran. Semua bentuk baik Lathif maupun Katsif, kecil ataupun besar memiliki tempat dan arah serta ukuran. Sedangkan Allah bukanlah benda dan tidak disifati dengan sifat-sifat benda, karenanya ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah mengatakan: “Allah ada tanpa tempat dan arah serta tidak mempunyai ukuran, besar maupun kecil”. Karena sesuatu yang memiliki tempat dan arah pastilah benda. Juga tidak boleh dikatakan tentang Allah bahwa tidak ada yang mengetahui tempat-Nya kecuali Dia. Adapun tentang benda Katsif bahwa ia mempunyai tempat, hal ini jelas sekali. Dan mengenai benda lathif bahwa ia mempunyai tempat, penjelasannya adalah bahwa ruang kosong yang diisi oleh benda lathif, itu adalah tempatnya. Karena definisi tempat adalah ruang kosong yang diisi oleh suatu benda.
    قَالَ اْلإِمام ال  سجا  د علي بن الْحسينِ بنِ علي بنِ َأِبي طَالبٍ
    َأنت اللهُ الَّذي لاَ يحوِيك ” : t  الْمعروف ِبزينِ الْعابِدين
    مكَانٌ”، وقَالَ: “َأنت اللهُ الَّذي لاَ تحد فَتكُونَ محدودا”، وقَالَ:
    “سبحانك لاَ تحس ولاَ تجس ولاَ تمس”. (رواه الحافظ
    الزبيدي)

    Al Imam As-Sajjad Zayn al ‘Abidin ‘Ali ibn al Husain ibn ‘Aliibn Abi Thalib (38 H-94 H) berkata : “Engkaulah Allah yang tidak diliputi tempat”, dan dia berkata: “Engkaulah Allah yang Maha suci dari hadd (benda, bentuk, dan ukuran)”, beliau juga berkata : “Maha suci Engkau yang tidak bisa diraba maupun disentuh” yakni bahwa Allah tidak menyentuh sesuatupun dari makhluk-Nya dan Dia tidak disentuh oleh sesuatupun dari makhluk-Nya karena Allah bukan benda. Allah Maha suci dari sifat berkumpul, menempel, berpisah dan tidak berlaku jarak antara Allah dan makhluk-Nya karena Allah bukan benda dan Allah ada tanpa arah. (Diriwayatkan oleh al Hafizh az-Zabidi dalam al Ithaf dengan rangkaian sanad muttashil mutasalsil yang kesemua perawinya adalah Ahl al Bayt; keturunan Rasulullah). Hal ini juga sebagai bantahan terhadap orang yang berkeyakinan Wahdatul Wujud dan Hulul.

    E. Bukti imam -imam (imam Bukhari, Ahmad, Nawawi dsb) ahlusunnah menta’wil ayat Mutasyabihat

    1. LAFADZ “MAN FISSAMA-I DALAM ALMULK 16 “

    [ [ءََأ�…نت�… �…ن في ال  س�…اءِ َأن�’ يخسِف ِبكُ�… ا�’لأَرض] [سورة ال�…لك : 16

    Pakar tafsir, al Fakhr ar-Razi dalam tafsirnya dan Abu
    Hayyan al Andalusi dalam tafsir al Bahr al Muhith mengatakan: “Yang
    dimaksud �…ن في الس�…اءِ (man fissama-i atau yang dilangit) dalam ayat tersebut adalah malaikat”. Ayat tersebut tidak bermakna bahwa Allah bertempat di langit.

    Banyak hadis dan ayat yang menyebutkan man fissamawati (yang dilangit), penduduk langit dan sebagainya, tapi itu semua adalah para malaikat. Seperti dalamsurat al-ra’du ayat 15 (ayat sajadah) :
    “walillahi yasjudu man fissamawati wal’ardhi thau’an wa karhan wa dhilaaluhum bil ghuduwwi wal aashaal”

    artinya : “Apa yang di langit dan Bumi, semuanya tunduk kepada Allah, mau atau tidak mau, demikian juga bayang-bayang mereka diwaktu pagi dan petang (QS arra’du ayat 15)

    Dalam Tafsir jalalain (halaman 201, darul basyair, damsyik) :
    “Apa yang di langit (man fisamawati) dan Bumi, semuanya tunduk kepada Allah, mau” (adalah seperti orang beriman) “atau tidak mau” (sperti orang munafiq dan orang yang ditakut-takuti (untuk sujud) dengan pedang).

    Dalam kitab ihya ulumuddin (jilid I, bab Kitab susunan wirid dan uraian menghidupkan malam) ayat ini merupakan salah satu wirid yang dibaca pada pada waktu petang.

    2. MAKNA LAFADZ “WAJAH-NYA (WAJHAHU)”

    [كُل�’ُ شىءٍ ه�

    artinya : “Segala sesuatu akan hancur kecuali wajah-Nya”

    Maknalafadz illa wajhahu (kecuali wajah-Nya)

    al Imam al Bukhari berkata: [ ِإلا�’َ وجهه ] “kecuali sulthan
    (tasharruf atau kekuasaan-) Allah”.

    Al Imam Sufyan ats-Tsauri mengatakan: “…Kecuali amal shaleh yang dilakukan hanya untuk mengharap ridla Allah”.

    3. Makna Hadits Jariyah (fissama-i)

    Sedangkan salah satu riwayat hadits Jariyah yang zhahirnya memberi
    persangkaan bahwa Allah ada di langit, maka hadits tersebut tidak
    boleh diambil secara zhahirnya, tetapi harus ditakwil dengan makna
    yang sesuai dengan sifat-sifat Allah, jadi maknanya adalah Dzat yang sangat tinggi derajat-Nya sebagaimana dikatakan oleh ulama
    Ahlussunnah Wal Jama’ah, di antaranya adalah al Imam an-Nawawi
    dalam Syarh Shahih Muslim. Sementara riwayat hadits Jariyah yang
    maknanya shahih adalah:

    ة
    سوداءَ وقاَلَ: يا ر  سولَ اللهِ ِإن�’َ علَ  ي رقَبةً �…ؤ�…نةً فَِإن�’ كُنت ترى
    َأتش  هدين َأن�’ لاَ ِإلَه :r  هذه �…ؤ�…نةً َأعتق�’تها، فَقَالَ َلها ر  سو ُ ل اللهِ
    ِإلا�’َ اللهُ قَالَت: نع�…، قَالَ: َأتش  هدين َأني ر  سو ُ ل اللهِ؟ قَالَت: نع�…،
    قَالَ: َأتؤ�…نِين ِبا�’لبعث بعد ال�’�…وت؟ قَالَت: نع�…، قَالَ: َأعتق�’ها .
    Al Imam Malik dan al Imam Ahmad meriwayatkan bahwasanya salah seorang sahabat Anshar datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam dengan membawa seorang hamba sahaya berkulit hitam, dan berkata: “Wahai Rasulullah sesungguhnya saya mempunyai kewajiban memerdekakan seorang hamba sahaya yang mukmin, jika engkau menyatakan bahwa hamba sahaya ini mukminah maka aku akan memerdekakannya, kemudian Rasulullah berkata kepadanya: Apakah engkau bersaksi tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah? Ia (budak) menjawab: “Ya”, Rasulullah berkata kepadanya: Apakah engkau bersaksi bahwa saya adalah Rasul (utusan) Allah? Ia menjawab: “Ya”, kemudian
    Rasulullah berkata: Apakah engkau beriman terhadap hari kebangkitan setelah kematian? ia menjawab : “Ya”, kemudian Rasulullah berkata: Merdekakanlah dia”.

    Al Hafizh al Haytsami (W. 807 H) dalam kitabnya Majma’ az-
    Zawa-id Juz I, hal. 23 mengatakan: “Hadits ini diriwayatkan oleh Imam
    Ahmad dan perawi-perawinya adalah perawi-perawi shahih”. Riwayat
    inilah yang sesuai dengan prinsip-prinsip dan dasar ajaran Islam,
    karena di antara dasar-dasar Islam bahwa orang yang hendak masuk
    Islam maka ia harus mengucapkan dua kalimat syahadat, bukan yang
    lain.

    4. lafadz mutasyabihat biaidin (dengan tangan)

    [ [وال  س�…اءَ بنيناها ِبأَيد وِإنا َل�…وسعونَ] [سورة الذاريات : 47

    Artinya : ” Dan langit, kami membinanya dengan Tangan(Kekuasaan) Kami….” (Qs adzariyat ayat 47)

    Ibnu Abbas mengatakan: “Yang dimaksud lafadz  ِبأَيد (biaidin) adalah
    “dengan kekuasaan”, bukan maksudnya tangan yang merupakan
    anggota badan (jarihah) kita, karena Allah maha suci darinya.

    Lihat rujukan dalam kitab Tafsir mu’tabar :

    Allah SWT telah berfirman dalam Adzariyat : 47

    وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ

    nah bagaimana tafsir Qurtuby atas hal ini :

    لَمَّا بَيَّنَ هَذِهِ الْآيَات قَالَ : وَفِي السَّمَاء آيَات وَعِبَر تَدُلّ عَلَى أَنَّ الصَّانِع قَادِر عَلَى الْكَمَال , فَعَطَفَ أَمْر السَّمَاء عَلَى قِصَّة قَوْم نُوح لِأَنَّهُمَا آيَتَانِ . وَمَعْنَى ” بِأَيْدٍ ” أَيْ بِقُوَّةٍ وَقُدْرَة . عَنْ اِبْن عَبَّاس وَغَيْره .

    kemudian bagaiman ia dalam tafsir Thobary sbb :

    الْقَوْل فِي تَأْوِيل قَوْله تَعَالَى : { وَالسَّمَاء بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ } يَقُول تَعَالَى ذِكْرُهُ : وَالسَّمَاء رَفَعْنَاهَا سَقْفًا بِقُوَّةٍ . وَبِنَحْوِ الَّذِي قُلْنَا فِي ذَلِكَ قَالَ أَهْل التَّأْوِيل . ذِكْرُ مَنْ قَالَ ذَلِكَ : 24962 – حَدَّثَنِي عَلِيّ , قَالَ : ثنا أَبُو صَالِح , قَالَ : ثني مُعَاوِيَة , عَنْ عَلِيّ , عَنِ ابْن عَبَّاس , قَوْله : { وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ } يَقُول : بِقُوَّةٍ.

    kemudian dalam surat Al-Fath : 10

    يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ

    Al-Qurthubi telah menukil pendapat Ibn Kisan sbb :

    قِيلَ : يَده فِي الثَّوَاب فَوْق أَيْدِيهمْ فِي الْوَفَاء , وَيَده فِي الْمِنَّة عَلَيْهِمْ بِالْهِدَايَةِ فَوْق أَيْدِيهمْ فِي الطَّاعَة . وَقَالَ الْكَلْبِيّ : مَعْنَاهُ نِعْمَة اللَّه عَلَيْهِمْ فَوْق مَا صَنَعُوا مِنْ الْبَيْعَة . وَقَالَ اِبْن كَيْسَان : قُوَّة اللَّه وَنُصْرَته فَوْق قُوَّتهمْ وَنُصْرَتهمْ

    kemudian seperti mana pula yang dinukil dalam At-Thobary

    وَفِي قَوْله : { يَد اللَّه فَوْق أَيْدِيهمْ } وَجْهَانِ مِنْ التَّأْوِيل : أَحَدهمَا : يَد اللَّه فَوْق أَيْدِيهمْ عِنْد الْبَيْعَة , لِأَنَّهُمْ كَانُوا يُبَايِعُونَ اللَّه بِبَيْعَتِهِمْ نَبِيّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ; وَالْآخَر : قُوَّة اللَّه فَوْق قُوَّتهمْ فِي نُصْرَة رَسُوله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , لِأَنَّهُمْ إِنَّمَا بَايَعُوا رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى نُصْرَته عَلَى الْعَدُوّ.

    5. Makna surat al fajr 22
    Begitu juga Imam Ahmad bin Hanbal yang merupakan ulama Salaf telah mentakwilkan ayat 22, Surah al-Fajr seperti yang diriwayatkan secara bersanad yang sahih oleh Imam Bayhaqiyy dalam kitab Manaqib Ahmad dari Imam Ahmad mengenai firman Allah:

    “Dan telah datang Tuhanmu”

    ditakwilkan oleh Imam Ahmad dengan: “Telah datang kekuasaan Tuhanmu”.

    6. hadith al-dhahik (ketawa)

    berkata: “Al-Bukhariyy telah mentakwilkan hadith al-dhahik (ketawa) dengan erti rahmat dan redha.”

    7. Hadis tentang isra mi’raj dan “Langit ” sebagai Kiblat Do’a Bukan “Tempat bersemayam dzat Alah”

    As-Salaf ash-Shalih Mensucikan Allah dari Hadd, Anggota badan, Tempat, Arah dan Semua Sifat-sifat Makhluk

    الْموُلود سنةَ 227 ه t  16 . قَالَ اْلإِمام َأبو جعفَرٍ الطَّحاوِي
    والْمتوفَّى سنةَ 321 ه : “تعالَى (يعنِي الله) عنِ الْحدود
    والْغايات والأَركَان والأَعضاءِ والأَدوات لاَ تحوِيه الْجِهات
    الست كَسائرِ الْمبتدعات”.
    Al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi -semoga Allah meridlainya- (227-321 H) berkata: “Maha suci Allah dari batas-batas (bentuk kecil maupun besar, jadi Allah tidak mempunyai ukuran sama sekali), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar (seperti wajah, tangan dan lainnya) maupun anggota badan yang kecil (seperti mulut, lidah, anak lidah, hidung, telinga dan lainnya).
    Dia tidak diliputi oleh satu maupun enam arah penjuru (atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang) tidak seperti makhluk-Nya yang diliputi enam arahpenjuru tersebut”.
    Perkataan al Imam Abu Ja’far ath-Thahawi di atas merupakan Ijma’ (konsensus) para sahabat dan Salaf (orang-orang yang hidup pada tiga abad pertama hijriyah).

    Diambil dalil dari perkataan tersebut bahwasanya bukanlah maksud dari mi’raj bahwa Allah berada di arah atas lalu Nabi
    Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam naik ke atas untuk bertemu dengan-Nya, melainkan maksud mi’raj adalah memuliakan Rasulullah shalalllahu ‘alayhi wasallam dan memperlihatkan kepadanya keajaiban makhluk Allah sebagaimana dijelaskan dalam al Qur’an surat al Isra ayat 1. Juga tidak boleh berkeyakinan bahwa Allah mendekat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam sehingga jarak antara keduanya dua hasta atau lebih dekat, melainkan yang mendekat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam di saat mi’raj adalah Jibril ‘alayhissalam, sebagaimana diriwayatkan oleh al Imam al
    Bukhari (W. 256 H) dan lainnya dari as-Sayyidah ‘Aisyah -semoga Allah meridlainya-, maka wajib dijauhi kitab Mi’raj Ibnu ‘Abbas dan Tanwir al Miqbas min Tafsir Ibnu ‘Abbas karena keduanya adalah kebohongan belaka yang dinisbatkan kepadanya.
    Sedangkan ketika seseorang menengadahkan kedua tangannya ke arah langit ketika berdoa, hal ini tidak menandakan bahwa Allah
    berada di arah langit. Akan tetapi karena langit adalah kiblat berdoa dan merupakan tempat turunnya rahmat dan barakah. Sebagaimana apabila seseorang ketika melakukan shalat ia menghadap ka’bah. Hal ini tidak berarti bahwa Allah berada di dalamnya, akan tetapi karena ka’bah adalah kiblat shalat.

    Penjelasan seperti ini dituturkan oleh para ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah seperti al Imam al Mutawalli (W. 478 H) dalam kitabnya al Ghun-yah, al Imam al Ghazali (W. 505 H) dalam kitabnya Ihya ‘Ulum ad-Din, al Imam an-Nawawi (W. 676 H) dalam
    kitabnya Syarh Shahih Muslim, al Imam Taqiyy ad-Din as-Subki (W.756 H) dalam kitab as-Sayf ash-Shaqil dan masih banyak lagi.
    Perkataan al Imam at-Thahawi tersebut juga merupakan bantahan terhadap pengikut paham Wahdah al Wujud yang berkeyakinan bahwa Allah menyatu dengan makhluk-Nya atau pengikut paham Hulul yang berkeyakinan bahwa Allah menempati
    makhluk-Nya. Dan ini adalah kekufuran berdasarkan Ijma’ (konsensus) kaum muslimin sebagaimana dikatakan oleh al Imam as-
    Suyuthi (W. 911 H) dalam karyanya al Hawi li al Fatawi dan lainnya, juga para panutan kita ahli tasawwuf sejati seperti al Imam al Junaid al Baghdadi (W. 297 H), al Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H), Syekh Abdul Qadir al Jilani (W. 561 H) dan semua Imam tasawwuf sejati, mereka selalu memperingatkan masyarakat akan orang-orang yang berdusta sebagai pengikut tarekat tasawwuf dan meyakini aqidah Wahdah al Wujud dan Hulul.

    8. Ayat mutasyabihat tentang “Nur” atau Cahaya (Ayat 35 Surat an-Nur)

    Dan begitulah seluruh ayat-ayat mutasyabihat harus dikembalikan kepada ayat-ayat muhkamat dan tidak boleh diambil secara zhahirnya. Seperti firman Allah ta’ala dalam surat an-Nur: 35
    [ [ َاللهُ نور ال  سموات والأَرضِ ] [سورة النور :

    tidak boleh ditafsirkan bahwa Allah adalah cahaya atau Allah adalah sinar. Karena kata cahaya dan sinar adalah khusus bagi makhluk. Allah-lah yang telah menciptakan keduanya, maka Ia tidak menyerupai keduanya. Tetapi makna ayat ini, bahwa Allah menerangi langit dan bumi dengan cahaya matahari, bulan dan bintang-bintang. Atau maknanya, bahwa Allah adalah pemberi petunjuk penduduk langit, yakni para malaikat dan pemberi petunjuk orang-orang mukmin dari golongan manusia dan jin, yang berada di bumi yaitu petunjuk kepada keimanan. Sebagaimana yang dikatakan oleh ‘Abdullah ibn Abbas –semoga Allah meridlainya- salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam. Takwil ini diriwayatkan oleh al Bayhaqi dalam al Asma’ Wa as-Shifat. Dengan demikian kita wajib mewaspadai kitab Mawlid al ‘Arus yang disebutkan di dalamnya bahwa “Allah menggenggam segenggam cahaya wajah-Nya kemudian berkata kepadanya: jadilah engkau Muhammad, maka ia menjadi Muhammad”. Ini adalah kekufuran wal ‘iyadzu billah karena menjadikan Allah sebagai cahaya dan nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam bagian dari-Nya. Kitab ini merupakan kebohongan yang dinisbatkan kepada al Hafizh Ibn alJawzi, tidak seorangpun menisbatkannya kepada al Hafizh Ibn al Jawzi kecuali seorang orientalis yang bernama Brockelmann.

    9. Hadis mutasyabihat tentang Jiwa anak adam dan “Jari-jari Arrahman”

    Makna Hadis mutaysabihat : ” Hati anak adam berada dalam jari-jari Arrahman”

    Makna sebenarnya : Hati atau jiwa anak Adam di bawah qudrah (kekuasaan) Allah Ta’ala, jika Allah mahu memberi hidayah
    kepadanya maka dia akan mendapat hidayah dan jika Allah mahu sesatkannya dia akan sesat

    Dalilnya :

    Hadis:
    Maknannya: ” Dialah Allah yang mengubah mengikut kehendakNya”.
    Dan hadis Nabi:

    Maksudnya: Hati Manusia dibawah pengaturan Ar-rahman”. (H.R Tarmizi)
    Maksud hadis ini ialah hati-hati anak Adam di bawah kuasa Allah Ta’ala.

    Kesesatan wahaby :

    wahaby artikan jari dalam makna dhahir katakan, Buktinya :

    Usaimin berkata: “hati anak-anak Adam itu semuanya berada diantara dua jari dari jari-jari Ar Rahman dari segi hakikinya dan

    ianya tidak melazimi penyentuhan dan penyatuan” (Kitab: Qawa’idul Mithly, Karangan Usaimin, m/s : 51, Riyadh).

    10. Hadis “Berjalan dan Berlari”

    Allah berfirman dalam hadis qudsi : “Jika hambaku datang mendekatiku dengan berjalan, makaAku akan mendekatinya dengan berlari” (hadis riwayat tabrani, al bazzar, al baihaqi, ibnu majah, ibnu hibban dan lainnya)

    maksud hadis tersebut adalah :

    Jika hambaku datang mendekatiKu dengan berjalan, maka Aku akan mendekatinya dengan berlari, yakni jika seseorang hamba menuju kepada Allah swt, maka rahmat Allah akan lebih cepat kepadanya dan ia melimpahi kekurniaanya padanya . (Syaikhul Hadis Muhammad Zakariya, Fadhilah dzikir, keterangan hadis ke 1, halaman 28, Era ilmu kuala lumpur).

    11. Hadis Nuzul (turun kelangit pertama)

    “Pada sepertiga malam terakhir Allah akan turun kelangit pertama…..”

    “Pada hari arafah Allah akan turun kelangit pertama…..”

    makna hadis tersebut adalah rahmat Allah yang begitu dekat pada waktu-waktu tersebut, sehingga waktu tersebut menjadi lebih utama untuk berdo’a.jadi Bukan dzat Allah yang turun (Fadhilah Haji, Syaikhul hadis Muhammad Zakariya)
    http://salafytobat.wordpress.com/wp-admin/comment.php?action=editcomment&c=524

    BERSAMBUNG………!!!

    Disadur oleh sahabat : http://ummatiummati.wordpress.com/

5 thoughts on “Dan Yang Merasa Paling Benar Itupun Bertaubat. Alhamdulillah..

  1. Sancoko Maret 4, 2014 / 11:15 am

    habis membaca blog yg ingin benar benar menghabisi tradisi tradisi yg dianggap bid’ah lalu membaca blog ini.
    Nampaknya perang opini akan berlanjut sampai kiamat. Tinggal kelak siapa nanti yg benar dan yg salah akan di putuskan oleh Allaah.
    Atau bisa jadi kedua duanya diputuskan benar atau kedua duanya diputuskan salah.
    Wallaahu a’lam..
    Semoga saja yg anti tradisi memang benar benar memang takut melanggar ketentuan yg ada shg berbuah dosa.
    Yang melestarikan tradisi karena berprinsip masih dlm koridor sunnah sehingga disitulah lahan utk beramal sebanyak banyaknya demi menutupi kurangnya taqwa semoga istiqomah dlm ikhlash.
    Biarlah nanti Allaah yg mendamaikan 2 macam golongan yg saling berseteru ini di surga nanti.
    Di surga kan rasa dendam dan dengki dicabut oleh Allah (15:47 dan 7:43).

  2. Jersey Bola September 26, 2013 / 5:07 am

    Magnificent beat ! I wish to apprentice while
    you amend your website, how could i subscribe for a blog site?
    The account aided me a acceptable deal. I had been a little bit acquainted of this your broadcast offered bright clear idea

  3. vadly Agustus 18, 2011 / 2:01 pm

    GILA ORG SUFI NIH APA BEDANYA SM AGAMA SYIAH…!!!!! MEMFITNAH AJARAN NABI MUHAMMAD DENGAN AJARAN HABIB2 YG MENYESATKAN…!!!!!

  4. majelis fathul hidayah Oktober 13, 2008 / 8:59 am

    Hi too… thanks for a comment!

  5. Mr WordPress Oktober 8, 2008 / 10:12 am

    Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s