Ujian Demi Ujian Sampai Bertemu Allah (1)

Ujian Demi Ujian Sampai Bertemu Allah

Ayah dan Ibu kami kerapkali menuturkan kepada kami bahwa mereka tidak pernah lupa mendoakan kami.  Ibu juga sering bercerita bahwa jika bangun pada malam hari ia tidak lupa mendoakan putra-putrinya yang berjumlah 12 orang itu satu per satu (tidak lupa menyebut nama-namanya) agar selalu mendapat hidayah Allah dan diberikan keselamatan dunia dan akhirat. Namun tampaknya Allah menjawab doa itu dengan cara yang Ia kehendaki. Saat itu Allah memberikan cobaan demi cobaan di keluarga kami. Saudara kami yang paling tua, bang Haji Ali (begitu kami memanggilnya),  mendapatkan cobaan harta benda.

Sebelumnya, bang Haji Ali dikenal sebagai pengusaha yang terbilang sukses di Pulau Kijang. Namun, seketika bang Haji mengalami kebangkrutan.

Abang kami yang kedua, bang Haris, sudah sejak lama membandel dan membebani orang tua dengan berbagai permasalahan yang membuat orang tua kami “murka”.  Bahkan abang kami ini pernah menjadi tidak waras. Sejauh ini sudah dicarikan berbagai cara untuk “mengobati” Abang kami yang kami cintai ini. Namun hasilnya nihil. Akan tetapi dengan kegagalan ini, kami menjadi sadar bahwa hidayah bukanlah tugas kami. Abang kami yang ketiga, bang Kasim, juga mengalami depresi karena masalah ekonomi dan keluarganya.
Bang Udin,  abang kami yang keempat, sempat terjebak dengan obat-obatan dan berada dalam ujung tanduk perceraian. Bahkan, abang kami ini sempat cuek dengan orang tua, bahkan tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di rumah orang tua kami. Namun, ada hal yang lebih memprihatinkan lagi yang terjadi pada saat itu. Adik kami, Ani, ditalaq oleh suaminya, ketika ia sedang hamil besar.

Januari 2006. Yang paling memprihatinkan adalah kondisi ayah kami. Pada masa-masa kritis ini, beliau sedang sakit keras karena sakit jantung dan sesak nafas. Sedangkan saat itu aku sedang siap-siap berangkat ke Australia untuk melanjutkan studi. Sejak saat itu, ayah sering “ngelantur”. Beliau sering mengingatkanku kalau aku pergi jauh beliau takut tak bisa lagi menjumpaiku dan aku tak akan bisa lagi melihatnya tatkala ia akan menghebuskan nafas terakhirnya. Bahkan, ayahku sering menanyakan ke ibuku tentang dimana ia akan dikuburkan.

Saat itu kami menganggap ayah kami hanya bercanda, karena memang ia hobi guyon. Setibanya di Melbourne, aku menelpon ayahku sekadar menanyakan kabar beliau dan mengatakan bahwa aku sudah sampai dengan selamat. Akupun kemudian dapat kabar bahwa ada kemajuan dalam kesehatan beliau. Bahkan, walaupun dalam keadaannya yang lemah itu, ketika adik kami  akan melahirkan di sebuah rumah bersalin, ayah kami yang lemah itu sanggup menemani dan menunggu proses kelahiran Ani (yang tidak ditemani suaminya) dari awal hingga akhir. Aku pun lega mendengarnya.

April 2006. Akupun bisa dengan tenang memulai kuliahku. Namun itu tidak berlangsung lama. Baru saja selesasi aku menolehkan kepalaku ke kiri dan ke kanan dan mengucapkan Salam pada saat duduk tasyahuud akhir shalat subuh, HP ku berdering. Ternyata bang Kasim yang nelpon dari Jakarta. Pikirku tumben nih bang Kasim nelpon, soalnya pasti mahal pulsanya. Perasaanku jadi tidak enak, jangan-jangan ada berita penting. Dan dugaanku tidak meleset. Dengan suara berat bang Kasim mengatakan: “Sabar ya Gus, Fuang (panggilan untuk ayah kami) sudah tidak ada lagi!”  Aku tersungkur seketika. Tidak disangka, ternyata percakapanku dengan ayahku via telepon tadi merupakan percakapan terakhirku dengan beliau.

Aku baru sadar, bahwa sehari sebelum ayahku meninggal, perasaanku tidak menentu. Aku tidak bisa belajar, tidak nafsu makan, dan rasanya ingin di rumah saja.  Ternyata kata-kata ayahku (bahwa ia takut tak dapat lagi menjumpaiku kalau aku pergi kuliah ke Australia) bukanlah “ tong kosong yang nyaring bunyinya”.

Dari seluruh saudaraku, hanya aku yang tidak sempat melihat ayahku untuk terakhir kalinya. Seluruh saudaraku dengan berbagai kesibukannya dan di tempat yang terpisah-pisah (sebagian ada yang di Jakarta), pada hari ayah kami meninggal diberikan Allah kemudahan untuk berkumpul di Pulau Kijang, sebuah kampung di Riau tempat kami lahir dan Ayah kami meninggal. Namun empat hari setelah ayahku meninggal, aku akhirnya dapat tiket pesawat untuk pulang. Alhamdulillah selama perjalanan, Allah mempermudahkan perjalanan ku.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s