Makna Religi Dalam Tembang ‘Ilir-Ilir’

Kehidupan di dunia ini hanyalah sebuah persinggahan menuju alam akhirat yang kekal dan abadi.

Hampir sebagian besar masyarakat Jawa, mengenal tembang Ilir-Ilir yang dibuat oleh Raden Ja’far Shadiq atau yang lebih dikenal dengan nama Sunan Kalijaga, salah seorang wali yang tergabung dalam Walisongo (Sembilan Wali) dan menyebarkan Islam di Tanah Jawa. Dalam salah satu riwayat, yang menciptakan tembang ‘Ilir-Ilir’ adalah Sunan Ampel.

Kesembilan wali tersebut adalah Maulana Malik Ibrahim (Gresik), Sunan Ampel (Surabaya), Sunan Bonang (Tuban), Sunan Drajat (Lamongan), Sunan Gunung Jati (Cirebon), Sunan Kudus (Kudus), Sunan Giri (Gresik), Sunan Muria (Gunung Muria) dan Sunan Kalijaga (Demak).

Tembang Ilir-Ilir, adalah salah satu dari sekian banyak tembang yang dibuat oleh Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Islam kepada masyarakat Jawa.

Seperti diketahui, sebelum memeluk Islam sebagian besar masyarakat Jawa pada zaman dahulu memeluk agama Hindu. Karena itu, tak heran bila pengaruh Hindu begitu dalam merasuk pada sanubari masyarakat Jawa. Apalagi, berbagai kesenian dan kebudayaan Hindu hampir telah menjadi keseharian masyarakat Jawa.Agar agama Islam bisa diterima dengan baik di kalangan masyarakat Jawa, maka para Walisongo menyebarkan Islam secara bijaksana, yakni mewarnai pengaruh Hindu itu dengan ajaran-ajaran Islam sesuai petunjuk Alquran dan hadis Nabi SAW. Dengan demikian, maka masyarakat Jawa pun secara perlahan-lahan mengamalkan ajaran Islam sebagaimana tuntunan Alquran dan hadis.

Selain itu, konsep yang ditanamkan para Walisongo dalam menyebarkan ajaran Islam pada masyarakat adalah dengan berdekatan secara langsung dengan kebiasaan masyarakatnya, namun tetap berpegang pada ajaran Islam.

Itulah yang tampaknya dari tembang syair yang terdapat dalam Ilir-Ilir yang dibuat oleh Sunan Kalijaga. Berikut tembang syair Ilir-Ilir tersebut.

Lir-ilir, Lir-ilir,
Tandure wis sumilir,
Tak Ijo royo-royo
Tak sengguh penganten anyar.

Cah angon, cah angon,
Penekno blimbing kuwi,
Lunyu-lunyu penekno,
Kanggo mbasuh dodot iro.

Dodot iro, dodot iro,
Kumitir bedah ing pinggir,
Dondomana jlumatana,
Kanggo seba mengko sore.

Mumpung jembar kalangane,
Mumpung padang rembulane,
Yo surako, surak hayo.

Menurut G Surya Alam, dalam bukunya Wejangan Sunan Kalijaga, tembang ‘Ilir-Ilir’ tersebut mengandung nasehat atau wejangan untuk menjadi seorang Muslim yang baik.

”Bila direnungkan secara mendalam, apa yang tersirat dalam suratan tembang ‘Ilir-Ilir’ tersebut, secara global mengandung empat hal. Pada bait pertama, bertutur tentang bangkitnya iman Islam. Bait kedua, merupakan perintah untuk melaksanakan kelima rukun Islam semaksimal mungkin. Bait ketiga, menganjurkan untuk tobat dan memperbaiki segala kesalahan yang telah dilakukan. Perbaikan itu diharapkan menjadi bekal untuk menuju kehidupan yang abadi, yaitu akhirat. Sedangkan bait keempat, mengajak umat untuk segera memperbaiki diri selagi masih ada kesempatan sebelum datang kesempitan, selagi sehat sebelum datang sakit, selagi mudah sebelum datang kesulitan, selagi muda sebelum datang tua, dan selagi hidup sebelum datang kematian,” tulisnya.

Makna Religi

Secara singkat, dapat diterangkan kandungan makna dari tembang Ilir-Ilir yang sarat dengan pesan-pesan moral.

Kata ‘Lir-Ilir’ maksudnya adalah seseorang yang telah terjaga (bangkit) dari tidurnya. Hendaknya segera bangkit dan segera sadar.
Maksud dari kata tersebut, orang yang belum masuk (memeluk) Islam dianggap masih tertidur. Dengan pengulangan kata ‘Lir-Ilir, Lir Ilir’, maksudnya adalah segeralah bangun dan menuju pemikiran yang lebih segar, yakni agama Islam.

Sedangkan kata ‘Tandure wus sumilir‘ maksudnya adalah bahwa benih yang telah ditanam sudah tumbuh. Yaitu, nilai-nilai iman dalam dada mereka sudah tumbuh. Karena itu, mereka harus menjaganya agar senantiasa bersemi. Dan jika iman atau benih itu terawat dengan baik, maka ia akan melahirkan dan menumbuhkan buah yang baik pula. Misalnya, bila benih iman tadi dirawat dengan baik dan senantiasa disirami dengan air yang jernih (membaca Alquran, zikir, shalawat, dan lainnya), niscaya tumbuhan itu pun akan berkembang dengan subur.

Adapun kata ‘Tak ijo royo-royo’ mengandung arti bahwa tumbuhan yang tumbuh subur itu, maka daunnya akan senantiasa berwarna hijau dan segar. Tampaknya maksud dari kata ini adalah bawah seorang pribadi muslim itu senantiasa memiliki perilaku yang baik, suka menolong dan menyenangkan hati bagi orang lain.

Maka kata ‘Tak sengguh penganten anyar’ lalu bermakna, bahwa pribadi yang baik dan sikap yang sopan, akan disenangi banyak orang. Karena itu, dirinya bagaikan sepasang pengantin baru yang disambut gembira oleh khalayak.

Oleh karena itu, orang yang senantiasa memupuk imannya dengan sikap dan perilaku yang baik, serta menjalankan ajaran Islam dengan sempurna, niscaya dirinya akan hidup berbahagia, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Agar iman tetap baik, tidak berbuat maksiat, mencuri, berzina, dan mabok, serta tumbuhan tetap tumbuh subur sehingga senantiasa berkembang (tak ijo royo-royo), dijauhi dari hama dan penyakit, maka si pemiliknya harus senantiasa memelihara dan merawatnya. Tumbuhan harus disirami dengan air, tanahnya diberi pupuk agar tumbuh subur, dan diberi penghilang hama dan penyakit. Begitu pula dengan iman, ia harus senantiasa dijaga, dipelihara dan dirawat dengan baik dengan perbuatan-perbuatan mulia, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa, berzikir, sedekah, zakat, dan membantu orang yang membutuhkan.

Makna yang dapat dipetik dari tembang Ilir-Ilir pada bait pertama ini adalah, hendaknya setiap pribadi muslim itu bangkit dari ‘tidurnya’. Lalu mengerjakan amal-amal saleh, agar iman dan Islamnya tumbuh subur, sehingga dirinya disenangi orang banyak.

Selanjutnya, pada bait kedua dari tembang ‘Ilir-Ilir’ tersebut mengandung makna yang sangat dalam bagi setiap muslim, dalam membentuk jiwa yang kuat, pemberani, tanpa kenal lelah dan putus asa. Sehingga akan membentuk pribadi-pribadi yang sabar, pantang menyerah demi sebuah cita-cita yang mulia.

Kata ‘Cah angon’ maknanya adalah wahai anak gembala. Disebutkan sebanyak dua kali, yaitu ‘cah angon, cah angon‘ menunjukkan adanya perintah yang harus dilaksanakan.

Apakah perintah yang dimaksud itu? ‘Penekno blimbing kuwi’, artinya panjatlah pohon belimbing itu. Karena kata tersebut menegaskan sebuah perintah, maka yang diperintah adalah seorang bawahan, yang kedudukannya lebih rendah dari yang memerintah. Makanya disebut kata ‘cah’ (nak, anak-anak). Kesannya adalah orang tua memerintahkan anaknya untuk memanjat pohon belimbing.

Kok pohon belimbing dan anak gembala? Maksudnya adalah, cah angon itu seorang anak gembala yang berarti manusia. Yang digembalakan adalah nafsunya dari hal-hal keduniawian. Sebab, nafsu itu bila tidak digembalakan (diarahkan) maka si gembala dapat terjerumus kedalam lubang yang berbahaya. Dirinya bisa melakukan perbuatan maksiat dengan bebas, karena tidak ada yang di-angon (gembalakan).

Lalu apa yang digembalakan? Itulah nafsunya tadi. Lunyu-lunyu penekno, kanggo mbasuh dodot iro. Kendati licin, tetap harus dipanjat, demi membersihkan ‘pakaian batin’ yang kotor. Maksudnya, walaupun perintah itu sulit dilalui, namun ia harus tetap melewati dengan melaksanakannya, demi sebuah cita-cita yang luhur dan mulia.

Mengapa pula Sunan Kalijaga memakai kata ‘Blimbing’ dalam tembangnya ini? Tentu maksudnya adalah rukun Islam harus ditegakkan. Buah belimbing memiliki lima sisi, yang masing-masing sisi itu dimaknai dengan syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji (bila mampu).

Kelima rukun Islam ini harus dilaksanakan oleh setiap pribadi muslim agar dapat membentuk dirinya menjadi insan kamil, yaitu manusia yang sempurna. Menjalankan shalat bagi sebagian orang terasa agak sulit, namun demi sebuah cita-cita, maka hal itu harus terus dikerjakan.

Karena itu, seorang muslim sejati, harus mampu melaksanakan segala apa yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarang oleh agama. Tujuannya agar dirinya menjadi manusia-manusia yang berbudi, berakhlak mulia, disayang orang banyak, dengan sifat-sifatnya yang suka menolong orang lain tanpa kenal pamrih.

Berbagai ujian dan cobaan selalu dihadapinya dengan kesabaran, kepasrahan, dan tawakkal kepada Allah. Dan dia akan senantiasa melalui ujian itu dengan lapang dada, kendati terasa berat, sebab banyak godaannya. Namun, Allah menjelaskan, Dia tidak akan menguji atau membebankan suatu perintah kepada hambanya diluar batas kemampuan yang dimiliki oleh hamba tersebut.

”Laa yukallifullahu nafsan Illa wus’aha,” Allah tidak membenani seseorang itu, kecuali sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. (QS Al-Baqarah : 286). (syahruddin el-fikri)

*****
Persiapkan Bekal Akhirat


”Dodot iro, dodot iro,
Kumitir bedah ing pinggir,
Dondomana Jlumatana,
Kanggo seba mengko sore.

Maksud dari syair ini adalah setiap muslim hendaknya melakukan taubat yang sesungguhnya, mau memperbaiki kesalahannya sebagai bekal kehidupan di akhirat kelak.

Dalam bahasa Jawa, Dodot adalah ”ageman’ (pakaian) dalam menggambarkan agama atau kepercayaan yang dianut. Sedangkan kata Kimitir bedah ing pinggir’ artinya banyaknya robekan-robekan pada bagian tepi pakaian itu, hendaknya segera dijahit. Sebab, pakaian yang cacat dan rusak itu tentunya tidak pantas lagi untuk dipakai. Agar pantas digunakan lagi, maka perbaikilah.

Itulah makna dari Dondomana Jlumatana artinya, jahirlah bagian yang robek itu. Begitulah halnya dengan kepercayaan kita yang telah rusak, hendaknya kita bertobat dan mau memperbaiki kesalahan tersebut serta tidak mengulanginya lagi. Itulah yang dinamakan dengan taubat nasuha (taubat yang sesungguhnya).

Dengan demikian, segala perbuatan yang sudah kita perbaiki tujuannya adalah sebagai bekal kita di kehidupan akhirat kelak. Disinilah makna dari Kanggo seba mengko sore. Perjalanan manusia selama di dunia ini hanyalah sebagai persinggahan sementara. Awalnya dia berangkat, kemudian kembali. Pagi dia kerja, sore sudah kembali.

Jadi, perbuatan yang baik seperti shalat, zakat, puasa, haji, sedekah dan lain sebagainya itu, tujuannya adalah sebagai bekal umat Islam untuk di kehidupan akhirat.

Mumpung Padang Rembulane,
Mumpung Jembar kalangane.

Selagi masih ada waktu, bersegeralah memperbaiki diri. Mumpung terang sinar rembulannya, dan mumpung luas waktunya. Sebab, bila sudah malam hari tanpa sinar rembulan, maka orang tak akan dapat melihat apa-apa. Ini dimaksudkan, di saat gelap orang akan sulit membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Acapkali yang baik dijelekkan, dan yang jelek dibagus-baguskan.

Artinya, selagi masih muda, selagi sinar rembulan masih memancar, segeralah berbuat kebaikan, dan melaksanakan kewajiban yang telah diperintahkan. Waktu yang ada, jangan disia-siakan tanpa guna dan berlalu begitu saja tanpa hasil.

Bila semua itu bisa dilaksanakan dengan baik dan sempurna, maka bergembiralah. Yo surak o, sorak hayo. Sebab, segala kewajiban yang dilaksanakan dengan baik dan sempurna, maka kehidupan di akhirat nanti akan mendapatkan balasan yang baik pula. Karena itu, berbahagialah mereka yang mampu melaksanakan segala kewajiban dengan baik, tanpa cacat sedikit.

Demikianlah kiranya, makna terdalam dari tembang syair ‘Ilir-Ilir’ yang dikarang oleh Sunan Kalijaga sebagai pedoman bagi setiap muslim untuk mencapai kehidupan akhirat yang lebih baik. Wa Allahu A’lamu. (sya)

http://islamdigest.ne

One thought on “Makna Religi Dalam Tembang ‘Ilir-Ilir’

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s