[breaking news] Wafatnya Kiai Besar, Pemimpin Tarekat Terbesar di Indonesia

kh-asrori-al-ishaqi1

Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Kita kembali kehilangan seorang kiai besar, pemimpin umat, dan sosok panutan yang dibutuhkan zaman sekarang. Dialah KH Ahmad Asrori Al Ishaqi, imam dan guru Thariqah Qodiriyah wan Naqsabandiyah serta pimpinan Pondok Pesantren Al Fitrah, Kedinding, Surabaya.

Kiai berusia 52 tahun itu menghembuskan nafas terakhirnya kemarin setelah menderita kanker darah sejak tiga tahun lalu. Selama tiga tahun itu pula, kiai dengan jutaan jamaah dari seluruh penjuru tanah air ini tetap berusaha menyapa umat meski dalam keadaan sakit. Kadangi-kadang, ia memimpin istighosah dengan infus di tangan dan tabung alat bantu pernafasan di sampingnya.

Terakhir, sang kiai masih memimpin haul akbar siang dan malam di Ponpes Al Fitrah. Seperti biasa, haul itu dihadiri ratusan ribu jamaah. Tidak hanya dari dalam negeri, tapi juga dari Singapura, Malaysia, Brunei, dan Thailand. Para jamaah itu sebagian besar ditampung penginapannya di rumah warga sekitar pondok pesantren.

Kepemimpinan Kia Asrori dalam thariqat dengan jamaah terbesar di Indonesia ini tergolong singkat. Ia harus mewarisi kepemimpinan ayahnya, Kiai Usman Al Ishaqi pada tahun 1984. Pada usia Kiai Asrori yang masih muda itulah ia harus menjadi mursyid thariqat. Mursyid adalah imam tertinggi sekaligusa guru yang sangat dihormati dan ditaati oleh seluruh jamaah thariqat.

Karena itu, pengaruh pimpinan thariqat seperti Kiai Asrori sangat luar biasa. Apalagi, kiai dengan dua orang putra dan tiga orang putri ini tergolong jenius. Pada umur belasan, ia sudah menguasai kitab Ihya’ Ulumuddin, kitab tasawuf karangan Imam Ghazali. ”Kalau saja Asrori bukan anakku, saya akan ngaji kepadanya,” kata Kiai Usman seperti ditirukan KH Mohammad Hilmy Basyaiban, ipar dan sahabat Kiai Asrori.

Sebagai seorang imam besar, Kiai Asrori tidak hanya memikirkan masalah- masalah agama. Ia juga ikut memikirkan masyarakat luas, termasuk masalah-masalah pembangunan kota. Ketika ada tiga rumah di Jalan Kenjeran yang masih belum bisa dibebaskan untuk jalan dalam waktu lama, ia memanggil saya. Kiai menawarkan beberapa solusi, termasuk bantuan pembiayaan tambahan kalau diperlukan agar dua rumah itu bisa dibebaskan pemerintah.

Pandangannya terhadap kepentingan publik juga sangat luar biasa. Suatu ketika saya bertanya tentang hukumnya orang berjualan di jalan dan trotoar. ”Itu dzalim,” kata kiai tegas. Disebutkan bahwa berdagang di jalan dan trotoar itu tidak boleh karena melakukan sesuatu tidak pada tempatnya.

Kalau pedagang tidak boleh jualan di jalan dan trotoar, lantas di mana mereka harus mencari nafkah?

”Nah, kewajiban pemerintah untuk menyediakan sarana dan prasarana bagi pedagang untuk tempat berjualan. Pemerintah harus membangunkan pasar untuk mereka,” tambahnya.

Kiai Asrori juga punya pandangan menarik tentang hubungan kiai dengan pejabat. Menurutnya, sudah seharusnya antara pemerintah dan ulama itu saling bekerja sama. Kiai yang kebih dekat dengan umat bisa menyampaikan tentang isi hati dan keinginan rakyat kepada pemerintah, sebaliknya kiai berkewajiban untuk membantu pemerintah dalam mengkomunikasikan kebijakan-kebijakan yang telah diambil dan diputuskan. Singkatnya, ada kebutuhan yang saling bersinggungan antara ulama dan pemerintah.

Saya sering berdiskusi mengenai berbagai hal menyangkut masayarakat dan pemerintahan ketika beliau masih sehat, tiga tahun lalu. Hampir setiap habis salat Jumat, bersama para santri khususnya dijamu makan siang di kediaman Kiai Asrori. Selain menu khas Arab, juga disediakan masakan kesukaan sejumlah santri kesayangan beliau. Setelah itu, kami masih mendapatkan ilmu dan wejangan-wejangan yang disampaikan dengan gaya guyonan maupun serius.

Sebagai mursyid thariqat, Kiai Asrori tidak hanya ditaati dan dicintai jamaahnya. Kecintaannya kepada santri dan jamaahnya juga sangat luar biasa. Terkadang, ia sampai mengorbankan dan tidak memperhatikan kesehatan dirinya demi jamaah. Ini ditunjukkan beberapa kali dengan menghadiri acara dzikir akbar maupun istighosah walau pun dalam keadaan sakit.

Ketika berlangsung acara dzikir akbar dalam rangka Hari Jadi Kota Surabaya ke 714 dua tahun lalu, ia hadir meski dalam keadaan sakit keras. Ia memaksa menemui jamaah meski harus diusung dngan kursi roda dan infus di tangan. ”Kasihan jamaah. Mereka datang jauh-jauh untuk ketemu saya dan berharap barokah doa dari saya. Karena itu, saya harus menemuinya,” kata Kiai kepada salah santri terdekatnya. Ia pun hadir di majelis itu untuk berdoa dan setelah selesai berdoa langsung pamit karena merasa sudah tidak kuat akan sakitnya.

Kiai Asrori juga sangat pasrah dengan sakit yang dideritanya. Suatu ketika –dengan agak nekat– saya minta kiai untuk memohon kepada Allah agar disembuhkan sakitnya. Dalam pikiran saya, sebagai kekasih Allah, permintaannya pasti dikabulkan. Apalagi Kiai Asrori masih sangat dibutuhkan para jamaahnya. Terhadap permintaan ini, ia menjawab :”Saya malu meminta sesuatu untuk diri saya sendiri. Sudah terlalu banyak kenikmatan yang diberikan kepada saya. Masak masih minta minta lagi.”

Kini, Kiai Asrori telah meninggalkan kita semua dalam usia yang belum terlalu tua. Ia wafat di saat jutaan jamaah maupun santrinya selalu berharap akan tuntunan, fatwa, maupun barokah doanya. Tentu Tuhan telah punya skenario terbaik untuk Kiai dan santrinya. (*)

* Arif Afandi adalah Wakil Walikota Surabaya dan salah satu santri Kiai Asrori.


Ribuan Orang Berdesakan Mensalatkan Kiai Asrori ,Pemimpin aliran tarekat terbesar di Indonesia, Qadiriyah wan Naqsyabandiyah, yakni KH Ahmad Asrori El-Ishaqi RA, berpulang ke hadirat Allah SWT, Selasa (18/8) pukul 01.30 WIB dini hari, setelah lama berjuang melawan berbagai penyakit.

Berita kematian itu begitu cepat menyebar. Sejak subuh, lautan manusia terus mengalir ke Kedinding Lor 99, Surabaya. Itu alamat rumah sekaligus pondok pesantren (ponpes) milik sang kiai. Karangan bunga duka cita juga terus mengalir ke kompleks seluas 3 hektare itu. Bahkan ucapan bela sungkawa dalam karangan bunga juga datang dari Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono dan hampir seluruh menterinya. Juga Gubernur Jatim Soekarwo, Kapolda Jatim Irjen Pol Anton Bachrul Alam, hingga Kapolda Sumut Irjen Pol Badrodin Haiti.

Bentuk bela sungkawa lain juga terlihat di kompleks Ponpes Assalafi Al-Fithrah. Orang-orang datang dengan meneteng beras dan gula. Di depan pintu ponpes, beras dan gula itu ditumpuk. Hingga tengah hari, jumlah beras itu sudah sampai sekitar 5 karung besar. Ini belum termasuk gula.

Puluhan ribu orang berdesak-desakan mengalir masuk ke masjid gagah yang ada di tengah kompleks ponpes. Jamaah berpakaian putih-putih ini antre menjadi makmum salat jenazah berjamaah yang nyaris tidak pernah putus. Semua berlomba berdiri di barisan paling depan –barisan yang dekat dengan jenazah. Semua menangis haru bahkan sampai jenazah dimakamkan.
Jenazah dikubur di tengah-tengah masjid lama kompleks ponpes. Masjid ini sekarang jarang terpakai karena sejak 15 tahun lalu dibangun masjid yang lebih besar di bagian timur kompleks ponpes.
Semakin siang masjid besar itu tidak mampu menampung jamaah. Tempat parkir kendaraan meluber sampai sekitar dua kilometer. Lihatlah plat nomornya, mobil yang kebanyakan bus dan bak terbuka itu datang dari Malang, Lamongan, Banyuwangi, Kedu, Semarang, Jogjakarta, Cirebon, bahkan dari Jakarta.
Direktur Pendidikan Ponpes Al Fitrah, Wisjnu Broto, mengatakan KH Asrori meninggalkan seorang istri bernama Hj Sulistyowati, dan lima orang anak (2 laki, 3 putri). Yakni, Siera Annadia, Sefira Assalafi, Ainul Yaqien, Nurul Yaqien dan Siela Assabarina.
”Kiai sudah empat tahun sakit. namun tidak pernah dirasakan,” ujar Wisjnu.
Sakit itu kambuh lagi ketika ponpesnya mengadakan Haul Akbar pada 25-26 Juli 2009 lalu. Kesehatan kiai menurun karena kelelahan. Pada 29 Juli Asrori dilarikan ke RS Graha Amerta RSU dr Soetomo Surabaya. Namun pada 16 Agustus 2009, Asrori meminta pulang. Namun sehari kemudian malaikat maut menjemputnya.
Sampai Asroti meninggal, tidak ada yang tahu berapa usia pastinya. Banyak orang hanya mereka-reka bahwa usianya antara 58, 59 tahun hingga 60 tahun. Wisjnu sendiri mengaku tidak tahu.
“Beliau sebenarnya belum begitu tua, karena usianya tidak terpaut terlalu jauh dengan usia Ketua Umum PBNU K.H. Hasyim Muzadi. Namun Kiai Asrori telah mampu menyatukan umat dari seluruh Jawa hingga Jakarta dan Asia Tenggara lewat tarekat. Kalau ceramah, beliau sangat menyejukkan,” kata Wakil Katib Syuriah Pengurus Wilayah (PW) NU Jatim, KH Abdurrahman Navis Lc yang didampingi Wakil Sekretaris PW NU Jatim, HA Sujono di sela-sela melayat, Selasa (18/8) kemarin.
“Kami kehilangan ulama dan guru yang aktif mengembangkan ajaran ‘Ahlussunnah wal Jamaah’ melalui tarekat,” imbuh Navis.
Gubernur Jatim Soekarwo, yang melayat siang kemarin, juga mengaku kehilangan. “Saya mengenal beliau begitu tulus dalam beribadah. Sepertinya sulit mencari penggantinya,” katanya.
Asrori begitu kharismatik, dia dipercaya menjadi pemimpin atau mursyid aliran tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah, yang merupakan aliran tarekat terbesar di Indonesia.
Asrori adalah putra Kiai Utsman Al-Ishaqy. Nama Al-Ishaqy dinisbatkan kepada Maulana Ishaq, ayah Sunan Giri, karena Kiai Utsman masih keturunan Sunan Giri.

Semasa hidup, Kiai Utsman adalah guru/mursyid Tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah.
Dalam dunia Islam, tarekat Naqsyabandiyah dikenal sebagai tarekat yang penting dan memiliki penyebaran paling luas. Diyakini, tarekat ini sebagai pengawal Islam sufi.

Jamaahnya sampai ratusan ribu dan menyebar hingga di Brunei Darussalam, Singapura hingga Malaysia.
Kiai Asrori mendirikan pesantren Al-Fithrah di Kedinding Lor pada tahun 1990-an. Ponpes itu dijalankan dengan sistem klasikal, yang kurikulum pendidikannya menggabungkan pengetahuan umum dan pengajian kitab kuning.

Kata Wisjnu, para santri Al-Fithrah yang tinggal di asrama saat ini sebanyak 1.800 dan yang berada di luar asrama sampai ratusan ribu.
Asrori menggagas Al-Khidmah, sebuah jamaah yang sebagian anggotanya adalah pengamal tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah. Bahkan pengaruh jamaah itu menembus batas negara.
Jamaah dan sang kiai ini begitu disegani karena sifatnya yang inklusif. Ia tidak pernah bersinggungan dengan dukung mendukung politik praktis. Padahal, kediaman Kiai Asrori kerap dihadiri tokoh- politik dan pejabat negara, termasuk Presiden SBY./Kuncarsono Prasetyo

15 thoughts on “[breaking news] Wafatnya Kiai Besar, Pemimpin Tarekat Terbesar di Indonesia

  1. aisy Maret 5, 2010 / 5:50 am

    ingin download lagu qosidah Al fitrah….
    gimana caranya?.

  2. ham Desember 19, 2009 / 3:37 am

    innalillahi wainna ilaihi rajiun….

    kami sangat kehilangan pemimpin…yang membimbing hati dan jalan kami

    andai hari telah berakhir….

    harapan saya…bisa mengucapkan salam pada beliau…aamiiin

  3. jemi Desember 4, 2009 / 4:07 pm

    saya salah seorang ikhwan thoriqot dari tasikmalaya turut merasa kehilangandan bela sungkawa sebesar besarnya atas wafatnya panutan kita semua yakni pangersa guru kiyai ahmad asrori al-ishaqi.

  4. MHF Desember 3, 2009 / 5:54 pm

    Ini kiamat bagi saya, dgn diangkatnya Beliau, satu demi satu Pasak bumi telah diangkat,,,

  5. MHF Desember 3, 2009 / 5:53 pm

    Ini kiamat bagi saya, dgn diangkatnya Beliau, satu demi satu Pasak bumi telah hilang,,

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s