SUDAH SIAPKAH KITA MENGHADAPI PERDAGANGAN BEBAS ASEAN-CINA?

Oleh : Fahad Ahmad Sadat

Sejak 1 januari 2010 ini ASEAN termasuk juga Indonesia memulai Free-Trade Agreement di 14 sektor industri. Perdagangan bebas China – ASEAN ini telah disepakati pada masa presiden Mega, jadi kurang lebih 10 tahun lalu.


Perdagangan bebas ini antara China – ASEAN tidak dikenakan pajak bea masuk alias bea masuk 0 %, konsekuensinya kita bisa mengeksport produk Indonesia ke China dan negara ASEAN tanpa bea masuk dan juga negara China dan ASEAN bisa mengimport barang produksinya ke Indonesia 0 %. Keuntungannya produksi Indonesia akan lebih murah di negara China dan Asean lainnya dan juga sebaliknya.

Enam negara ASEAN utama (Brunei, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand) akan menambah 7.881 jenis tarif yang diturunkan menjadi nol. Dengan demikian, total jumlah pos tarif yang masuk dalam tarif preferensi efektif untuk perdagangan bebas ASEAN menjadi 54.457 atau 99,11 persen dari seluruh jenis tarif perdagangan. Maka, rata-rata tarif yang berlaku di antara enam negara itu akan turun dari 0,79 persen pada tahun 2009 menjadi 0,05 persen pada tahun 2010.


Kendalanya yg ada sekarang adalah apakah Indonesia siap ?
Produk apa saja yang bisa di eksport ?
Sedangkan China bagai raksasa ekonomi yg akan menguasai pasar Indonesia dan apalagi tanpa dikena kan bea masuk, saya rasa raksasa naga ini akan mengusai pasar Indonesia, produk yg murah akan menghantam pangsa pasar komoditas Indonesia.
Inilah realita yang harus dijalankan tanpa bisa ditunda ?
Bagaimana kondisi perekonomian Indonesia mendatang ?
Bagaimana dengan tenaga kerja yg ada, sedangkan pabriknya akan berkompetisi dengan China dan ASEAN ?

Menurut perkiraan, beberapa industri nasional akan hancur begitu kesepakatan pasar bebas ini berjalan pada bulan Januari 2010. Industri nasional tersebut antara lain dari industri tekstil, baja, dan mesin. Hal ini tentunya disebabkan industri nasional di bidang tersebut tidak dapat bersaing dengan industri Cina di bidang tekstil, mesin, dan baja.. Namun tentunya dampak dari kesepakatan pasar bebas ini bukan hanya terkait pada 3 bidang industri itu saja, namun akan berdampak pada keseluruhan industri nasional Indonesia.

Dengan demikian, perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China amat jelas bakal lebih menguntungkan China daripada negara-negara ASEAN, dan sangat jelas terutama sangat merugikan Indonesia. Data resmi dari Badan Pusat Statistik menunjukkan saat ini saja ekspor kita ke China hanya 5,91%, sedangkan impornya mencapai 8,55%.

Kelak, ketika perdagangan bebas sudah dijalankan, diprediksi ekspor kita hanya naik 2,29% menjadi 8,20%. Tapi, sebaliknya impor kita dari China bakal naik 2,81% menjadi 11,37%.
Merebaknya pesimisme itu lebih disebabkan belum mantapnya industri dalam negeri. Industri kita masih dibebani rupa-rupa masalah yang menyebabkan daya saing kita rendah.
Infrastruktur yang buruk, suku bunga bank yang masih tinggi, kurs rupiah yang tidak stabil, serta birokrasi yang berbelit-belit dan korup, semua itu menyebabkan produk Indonesia tidak bisa berbicara banyak.

Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan sudah ada 200 langkah antisipasi untuk menghadapi perjanjian perdagangan bebas (FTA) ASEAN-China. Salah satunya standarisasi.

“Menteri perdagangan tentu mengeluarkan notifikasi ada beberapa inventaris yang bisa kita bicarakan. Ada 200-an, saya tidak bisa sebutkan satu persatu yang jelas kita melakukan sesuatu juga agar agreement ini tidak menyebabkan injury bagi industri-industri kita,” ujar Hatta kepada di Jakarta.

Pemerintah juga telah menyiapkan tim dengan pengarahnya langsung menteri keuangan dan menteri terkait, dengan pelaksanaan dilakukan oleh para dirjen masing-masing departemen. Tim itu, lanjut Hatta, bekerja keras melihat, memastikan bahwa tidak ada suatu unfair trade.

“Kalau terjadi potensi injury, kita bisa melakukan sesuatu. Kita harus melakukan tindakan yang adil, rujukan yang sesuai dengan standar kita,” tukasnya.

“Tim sedang bekerja. Selalu rapat. Langkah antisipasi sudah banyak, tetapi kita tidak bisa sebutkan, ada tindakan yang kita publikasikan karena nanti dikira orang kita melakukan barrier,” tukas Hatta

Sri Mulyani mengatakan kekhawatiran banyak pihak dalam penerapan FTA, Asean-China, memang bukan tanpa alasan. Namun demikian bahwa Bea Cukai sebagai instansi pemerintah tetap harus menjalankan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Untuk itu jajaran Bea dan Cukai diminta agar bisa menyesuaikan kebijakan baru itu.

“Asean 5 tahun dari sekarang akan menjadi komunitas ekonomi. Negara ini akan semakin kurang wilayah perbatasannya dengan 9 negara lain,” ujar Sri Mulyani. “Kita telah merintis National Single Window, mungkin itu bisa membantu. Tapi tantangan di lapangan lebih pelik dari program NSW itu,” ujar Sri Mulyani.

Sri Mulyani pun menekankan bagaimana meski kebijakan dibuat, tapi menerjemahkan untuk bisa dikerjakan sesuai rambu-rambu itu tidak mudah. Ia mencontohkan bagaimana penegakan di kawasan FTZ (free trade zone) Batam, Bintan dan Karimun.

“Ini tantangan ke depan bagaimana dipecahkan,” katanya. Seperti dititipkan oleh Presiden bagaimana jajaran Ditjen Bea dan Cukai bisa menyelenggarakan pelayanan cepat, mudah, murah dan efisien dan reliabel.

Tapi hemat saya walaupun sdh memberi jaminan, tp tetap harus dipikirkan kembali, Kita tidak punya basis yang kuat masuk ke pasar China. Kita juga tidak punya daya tahan yang hebat untuk membendung serbuan produk China. Sejujurnya Indonesia memaksakan diri masuk implementasi perdagangan bebas ASEAN-China.

Belum terlambat bagi pemerintah untuk menegosiasikan kesepakatan itu. Dengan melihat masih compang-campingnya industri manufaktur kita, ada baiknya bila Indonesia menunda implementasi perdagangan bebas dengan China itu. Modal nekat yang hanya mengandalkan semangat menghormati perdagangan bebas sama saja dengan menyerahkan tubuh kita untuk digebuki hingga babak belur.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s