(Laporan Khusus) Haul Habib Ali, Mereka Datang Karena Cinta

Selain cinta, siapakah yang menggerakkan langkah dan hati ribuan muslim dari berbagai penjuru Tanah Air itu ke kompleks Masjid Ar Riyadh di Pasar Kliwon, Solo? Mereka datang tanpa undangan, tanpa pengumuman, dan tanpa pamrih apapun setiap tanggal 20 Rabiultsani berdasarkan kalender Islam, saat aacra haul Habib Ali Bin Muhammad Al Habsyi.

Masjid Ar Riyadh sebenarnya terlalu luas dan tak juga megah. Di sisi utara kompleks masjid, terdapat zawiyah, sebuah ruangan besar di mana Habib Alwi bin Ali memedarkan keteladanan akhlak Nabi Muhammad. Zawiyah sendiri dahulu dikenal para sufi sebagai tempat menempa diri untuk menuju kesempurnaan akhlak seperti yang diajarkan Rasulullah Muhammad SAW.

”Dari tempat itulah, Habib Anis bin Alwi setiap hari tekun mengajarkan berbagai kitab kepada masyarakat sekitar. Salah satunya ialah Ihya’ Ulumuddin,” ujar keluarga almarhum Habib Anis, Musthofa Mulachela, di kompleks Ar Riyadh Pasar Kliwon, Solo, Senin (5/4).

Akhlak, di mata para habib keturunan Habib Ali bin Muhammad Al Habsy adalah puncak pendakian dari risalah mulia para Nabi. Ia adalah ukuran kesalehan, bukti keimanan, dan harkat seseorang. Ia melingkupi kejujuran, integritas, keteguhan, amanah, kebijaksanaan, dan keadilan yang bersemai dalam keutuhan manusia. ”Setinggi apapun ilmu seseorang, jika akhlaknya tak mulia maka tak sempurnalah keimanannya,” lanjut Musthofa.

Lemah lembut

Menurut kesaksikan Musthofa, Habib Anis sepanjang hidupnya tak pernah memerintah kepada siapapun. Bahkan, kepada keluarga atau santri-santrinya, Habib Anis tetap berlaku lemah lembut. ”Beliau memilih memberi contoh ketimbang memerintah. Ia ingin memberi teladan, seperti yang diajarkan Nabi Muhammad,” paparnya.

Sejarah dimulainya silsilah Habib Anis dirintis dari orangtuanya yakni Habib Alwi bin Ali, putra seorang ulama Hadramaut Yaman, Habib Ali Bin Muhammad Al Habsyi. Habib Alwi yang merantau hingga ke Tanah Solo akhirnya meneruskan tradisi orangtuanya untuk mengajarkan kemuliaan akhlak bagi seorang muslim. Lambat laun, murid-murid Habib Alwi kian bertambah banyak.

Pengaruhnya kian bertambah luas ke berbagai daerah di Indonesia. ”Salah satu tradisinya yang masih kental hingga sekarang ialah makan satu loyang untuk bersama-sama. Ajaran ini sederhana, namun dalam maknanya karena mengajarkan kebersamaan dan kebersahajaan,” urainya.

Kini, meski para habib itu telah tiada, namun ajaran akhlaknya terus bersemai di setiap hati para pengikutnya. Ribuan manusia yang berbondong-bondong memperingati hari kelahirannya, seakan menjadi bukti bahwa mereka tetap hidup di tengah-tengah umat yang terus mendamba air kesejukannya. – Oleh : Aries Susanto

sumber : http://edisicetak.solopos.com/zindex_menu.asp?kodehalaman=h29&id=62768

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s