Memburu Lailatul Qadr

“Sungguh Aku telah menurunkannya (Alquran) pada Malam Qadr (Lailatul Qadar) dan tahukah kau apa itu Malam Qadr? Malam Qadr itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu malaikat-malaikat, termasuk Malaikat Jibril turun dengan izin Tuhan mereka untuk segala urusan. Penuh kedamian malam itu hingga terbitnya fajar”.

Di atas adalah terjemahan bebas saya atas surat Al-Qadr. Rangkaian kata lailatul qadar diulang tiga kali dalam tiga ayat dan dua yang terakhir tidak diganti dengan kata ganti sebagaimana lazimnya dalam bahasa Arab. Ini “sama dengan pengulangan lafal Allah dalam surah Al-Ikhlas”. Menurut ahli tafsir menunjukkan penting dan agungnya malam itu. Apalagi ada shieghah atau gaya pertanyaan, “Tahukah kau apa itu Malam Qadr?” di situ.

Kemudian pertanyaan itu dijawab sendiri oleh Alquran dengan firman berikutnya, Malam Qadr lebih baik dari seribu bulan. Dari banyak riwayat hadis, dapat diketahui bahwa “lebih baik dari seribu bulan” artinya, amalan-amalan ibadah yang dilakukan pada malam itu lebih afdal dan lebih bernilai daripada amalan-amalan ibadah yang dilakukan pada seribu bulan yang tak ada Malam Qadar. Dengan istilah lain dalam ayat lain (Q. 44: 3) , malam itu disebutkan sebagai malam penuh berkah.

Bermula dari surah ke-97 Alquran inilah istilah lailatul qadar menjadi sangat populer, termasuk pada kita ini. Hampir setiap bulan Ramadan, khususnya saat memasuki paro keduanya, orang (Islam) selalu membicarakannya sebagai semacam “buruan” atau tumpuan berbagai harapan.

Bagi mereka yang suka “potong kompas”, tentu sangat tertarik membicarakan pendapat ulama tentang kapan tepatnya malam itu.

Kebetulan sejak dulu, ulama sudah membicarakan dan dari kalangan mereka muncul banyak versi. Ada yang mengatakan, Lailatul Qadar itu terdapat pada malam 10 terakhir Ramadan. Ada yang mengatakan pokoknya pada malam tanggal ganjil: 21, 23, 25, 27, atau 29. Ada lagi yang memastikan tanggal 21. Ada yang memastikan tanggal 27.

Tentu saja yang paling beruntung dan pasti menjumpai lailatul qadar adalah mereka yang “memburu”-nya pada setiap malam di seluruh bulan Ramadan. Berbahagialah mereka yang pada malam istimewa itu sedang berbuat atau beramal baik. Karena mereka akan mendapatkan pahala senilai beramal baik 1.000 bulan. Sayang, akhir-akhir ini banyak orang yang memburu dan berharap menemukan lailatul qadar hanya sebagaimana orang menunggu-nunggu pembukaan undian dan menganggap sebagai anugerah tiban yang dibayangkan berupa materi atau keberuntungan duniawi lainnya.

Keuntungan Materi

Kita misalnya, sering mendengar orang mengatakan, “Wah, saya baru saja mendapat lailatul qadar”. Kemudian ternyata yang dimaksud orang tersebut tak lain adalah keuntungan materi .

Boleh jadi hal itu terjadi karena kondisi kita yang sudah terbiasa dengan kehidupan yang didominasi kepentingan materi dan perhitungan untung-rugi, ditambah kentalnya budaya instan yang melekat. Surah Al-Qadr yang menjelaskan keiistimewaan malam pada saat mana Alquran itu turun, telah membuat banyak orang Islam “termasuk mereka yang sangat jarang membaca Alquran” sibuk memburu lailatul qadar. Sementara itu, Alquran sendiri yang diturunkan pada saat istimewa itu terus diperlakukan tidak semestinya.

Padahal bila orang lebih cermat menyimak, insya Allah akan melihat bahwa Surah Al-Qadr itu “wallahu a’lam bish-shawab” meski berbicara tentang keistimewaan malam, tidak terlepas kaitannya dengan keistimewaan Alquran.

Oleh banyak pemiliknya, kaum muslim, Alquran lebih sering diperlakukan sebagai azimat. Ditaruh dalam almari kaca agar terlihat indah dan sekaligus tidak tersentuh. Kalaupun dibaca, dibaca dengan semangat sebatas agar memperoleh berkah dan ganjaran membaca. Banyak sekali orang Islam yang membaca kitab sucinya itu dengan ekspresi untuk memenuhi target khatam sebulan atau setahun sekian kali. Dan, mungkin lebih banyak lagi yang sama sekali tidak membaca Alquran.

Sudah demikian, semua orang Islam selalu mengatakan bahwa Alquran adalah kitab suci dan pedoman hidupnya. Sungguh musykil orang yang memiliki kitab suci dan diakui sebagai pedoman hidupnya, ternyata tidak memahami kitabnya itu; apalagi tidak membacanya.

Maka, herankah kita bila melihat banyak kaum muslim yang perilakunya seperti mereka yang tidak mempunyai pedoman hidup sama sekali? Herankah kita bila di negeri kita yang mayoritas muslimin ini, pergaulan hidupnya seperti yang kita saksikan sampai sekarang ini?

Ataukah, seperti kebiasaan kita berspekulasi, kita hanya akan mengadang lailatul qadar dan tanpa mempersiapkan diri dalam laku Qurani?

http://www.gusmus.net

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s