Ahlan Habib Umar Bin Hafidz: Makna Moderatisme

Moderat bukan sekadar bersikap lunak atau sekadar bersikap proporsional dalam berinteraksi dengan kelompok-kelompok lain. Pengertian moderat lebih luas dari itu.

Dari berbagai penuturannya dalam berdakwah, orang mengenal Habib Umar Bin Hafidz sebagai ulama yang moderat. Dalam kitabnya,Qubsatunnur, Habib Abubakar Al-Adni bin Ali Al-Masyhur menggambarkan sosoknya dengan mengatakan, “Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh, yang, dengannya dan dengan semangatnya, Allah menjaga ruh dakwah dan sirr thariqah yang berkah ini, terutama pada episode gelap dalam sejarah Hadhramaut. Para pengikut manhaj salaf bersatu di sekelilingnya.

Melalui dakwahnya, hakikat pemahaman yang sempurna akan kemuliaan dakwah dan dalam mengikuti metode salafush shalih tertanam dengan kuat pada generasi masa kini. Ia telah mengembalikan cahaya kemilau madrasah Hadhramaut di berbagai bidang.”

Seperti biasa, di bulan Muharram, ulama kecintaan umat ini datang ke Indonesia, di antaranya untuk menghadiri peringatan Haul Syaikh Abu Bakar bin Salim di daerah Cidodol, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, yang tahun ini akan jatuh pada tanggal 26 Desember.

Menyambut kehadirannya yang tak berapa lama lagi, kali ini kami suguhkan di hadapan pembaca pandangannya tentang kemoderatan dalam Islam, sebagaimana yang ia ungkap dalam kitabnya, Al-Wasathiyah fil Islam: “Moderat bukan sekadar bersikap lunak atau sekadar bersikap proporsional dalam berinteraksi dengan kelompok-kelompok lain. Pengertian moderat lebih luas dari itu. Moderatisme harus ditempatkan sebagai sebuah pemahaman yang benar terhadap hakikat syari’at dalam setiap kedudukannya. Ia merupakan hakikat dari petunjuk-petunjuk Ilahiyah yang telah diterima Rasulullah SAW dari Tuhannya, yang kemudian diamanatkannya untuk disampaikan kepada segenap manusia.

Tidaklah kemaslahatan itu terlepas dari risalah syari’at yang dibawa Rasulullah SAW, baik kemaslahatan di Barat maupun di Timur, bagi orang Arab maupun non-Arab, Eropa, Australia, Amerika, ataupun Afrika. Syari’at Rasulullah SAW memuat semua apa yang dibutuhkan oleh semua mereka, tanpa kecuali, dengan segala pola pikir mereka yang berbeda-beda.

Dengan demikian, keteguhan seseorang terhadap agamanya, kedalamannya dalam memahami agamanya, serta upayanya untuk mengamalkan ajaran-ajaran agamanya, merupakan gambaran dari hakikat kemoderatan dan perilaku beragama yang lurus.

Pemahaman yang buruk dan ekstrem berada di luar jalan yang lurus dan moderat, demikian pula sikap lalai dan ceroboh, tidak peduli dengan hukum-hukum Tuhan, Yang Mahabenar. Sehingga, sikap moderatharus terlepas dari dua kutub yang sama-sama tercela, yaitu sikap ekstrem dan keterlaluan atau sikap lalai dan ceroboh.

Bila kemoderatan hilang, hilang pulalah pemahaman yang benar terhadap hakikat-hakikat agama.” Masih banyak lagi kalimat yang menarik yang ia ungkapkan untuk memperkuat penjelasannya akan makna moderat (Selengkapnya baca alKisah edisi 26/2010 dalam rubrik Ahlan).

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s