Ansor Protes Adegan Banser Film Karya Hanung Bramantyo

Jakarta (gp-ansor.org): Film terbaru karya sineas Hanung Bramantyo berjudul “?” (tanda tanya) ternyata mengangkat kisah heroisme Banser (Barisan Serbaguna Ansor). Namun Gerakan Pemuda Ansor tampaknya keberatan atas sejumlah adegan yang dapat menimbulkan salah persepsi masyarakat tentang Banser.

“Kami apresiasi konten film secara keseluruhan yang mengangkat tema keberagaman. Ini tema bagus. Tapi khusus menyangkut Banser, perlu ada yang diluruskan agar masyarakat tidak salah persepsi tentang Banser,” kata Ketua Umum PP GP Ansor, Nusron Wahid, usai nonton bareng bersama Hanung Bramantyo di Gedung Kineforum Taman Ismail Marzuki (TIM), Senin (4/4) malam.

Hanung Bramantyo sengaja mengundang jajaran pengurus PP GP Ansor untuk menyaksikan preview film tersebut sebelum tayang secara umum pada 7 April 2011 di bioskop secara nasional. Film Hanung tersebut sejak awal sudah berbau kontroversial lantaran berlatar belakang Muhammadiyah tapi mengangkat Banser.

Nusron menjelaskan, dalam film itu, tokoh Soleh dikisahkan sebagai seorang pemuda yang kesulitan mencari kerja. Lalu dia masuk Banser. Kepada istrinya dia menyatakan, “Alhamamdulillah… saya sudah dapat kerja.” Sang istri tanya, “Kerja apa?”, “Jadi Banser….”.

Menurut Nusron, menjadi anggota Banser bukan pekerjaan melainkan pengabdian tulus pemuda NU kepada masyarakat. Dikatakan, Banser bukanlah profesi sehingga menjadi anggota Banser tidak menerima gaji. “Ini bisa menimbulkan salah pengertian,” katanya.

Catatan lain, kata Nusron, saat adegan Soleh ngamuk di restoran milik majikan istrinya. Meski ngamuknya bermotif cemburu, namun seorang Banser tidak boleh bertindak anarkis. “Menjadi anggota Banser itu melalui tahapan-tahapan pengkaderan, seperti diklatsar Banser. Termasuk dilatih untuk tidak melakukan tindakan anarkis dengan alasan apa pun. Banser kok ngamukan. Gambaran dalam film ini perlu diluruskan. “Banser tidak pernah diajarkan untuk anarkis,” tegas anggota DPR dari Fraksi Golkar ini.

Namun Nusron bisa memahami sikap Hanung. “Itulah Hanung, kadang-kadang memang suka mendiskreditkan di filmnya. Ini menandakan bahwa dia tidak paham dan dangkal pemahamannya terhadap Banser. Lain kali supaya film ini tidak terkesan buru-buru sebaiknya melakukan riset terlebih dahulu,” imbuhnya.

Namun demikian Ansor tidak sampai meminta film tersebut ditarik dari peredaran karena Indonesia negara demokrasi. Ansor hanya meminta pertanggungjawaban proses kreatif dari sang sutradara dan penulis skenario atas kreasinya yang menurutnya tidak sesuai dengan realitas sosial sesungguhnya itu.

“Dalam negara demokrasi orang boleh menulis, melukis dan mendiskripsikan apapun atas yang dia lihat dan amati.Namun dalam kontek Banser, Dia (Hanung, red) membaca dan menuangkan dalam film tandatanya tentang Banser tidak utuh dan tidak memahami yang sebenarnya,” tegasnya.

Sementara itu, Hanung Bramantyo mengatakan, pihaknya sudah mengantisipasi film tersebut akan kontroversial. Menurutnya, dia hanya ingin menuangkan gagasan pluralisme dan keberagaman melalui film. Jika nantinya film tersebut pro dan kontra dan mendapat penolakan dari para kiai, hal itu sebuah kewajaran. “Ya jangankan film saya. Gus Dur, yang tokoh NU, toh gagasan pluralismenya juga kontroversial. Tidak semua gagasan Beliau diterima kiai-kiai,” tukasnya.

Hanung sendiri juga tidak merasa bahwa Nusron Wahid, sebagai pimpinan organisasi pemuda terbesar di Indonesia itu, keberatan atas dua adegan dalam film tersebut. “Mas Nusron cukup terpelajar, terbuka dan memahami bahasa semiotika,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Hanung juga memberi sumbangan kepada Banser berupa uang. Namun Nusron menolak dan meminta bantuan dalam bentuk seragam Banser. Selain itu, Hanung juga akan memberi bantuan kepada keluarga Riyanto, Banser asli yang telah mengorbankan nyawanya demi pluralisme.

Bom Natal

Film “?” mengangkat kisah Soleh, anggota Banser Nahdlatul Ulama (NU) yang mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan sebuah gereja dari serangan bom Natal. Kisah ini dicomot sang sineas dari sebuah kejadian nyata yang menimpa anggota Banser di Mojokerto bernama Riyanto. “Kejadian itu sekitar tiga atau empat tahun lalu, saat Indonesia sedang gempar oleh bom Natal,” kata Hanung.

Selain tokoh Soleh, tokoh Rika dan Surya dalam film itu diakui Hanung terispirasi sosok yang juga nyata. Film Tanda Tanya bisa disaksikan di bioskop mulai 7 April 2011. Film yang diproduksi Dapur Film Production dan Mahaka Entertainment ini menampilkan akting Enditha, Agus Kuncoro, Reza Rahardian, Revalina S. Temat, dan Hengky Supit.

Film itu memaparkan kisah Rika, Tan Kat Sun, Menuk, Hendra, dan Soleh, yang mewakili masalah rumit kehidupan beragama yang beragam di negeri ini. Film itu mengisahkan Rika, yang baru bercerai, menemukan Tuhan dalam agama berbeda. Ia melepas jilbabnya dan menambatkan kepercayaannya pada ajaran Katolik. Meski begitu, anak semata wayangnya, Abi, tetap dibiarkannya menjadi seorang muslim. Rika menjalin kedekatan dengan Surya, seorang figuran film yang frustasi dengan karirnya. (ful)

Film “Tanda Tanya” Dikecam Banser

Surabaya (gp-ansor.org): Banser Nahdlatul Ulama Cabang Kota Surabaya mengecam penayangan film berjudul Tanda Tanya dengan sutradara Hanung Bramantyo, yang serentak diputar di bioskop-bioskop mulai Kamis (7/4/2011), karena dinilai mendiskreditkan sosok Banser.

Sekretaris Satkorcab Banser Kota Surabaya, M Hasyim As’ari, Rabu, mengatakan, protes tersebut dilakukan karena dalam film tersebut Hanung menukil peran Soleh sebagai sosok Banser dengan beragam perannya sesuai fakta di masyarakat.

“Untuk mencegah peredaran film tersebut sangat tidak mungkin lantaran besok (7/4) sudah mulai diputar,” katanya.

Dalam film tersebut, Banser versi Hanung digambarkan sebagai sosok yang mudah cemburu dan dangkal pengetahuannya.

Menurut dia, pihaknya sangat menyayangkan langkah Hanung yang tertutup dalam menggarap film dengan bahan mengambil kelompok-kelompok tertentu.

”Mestinya, Hanung konfirmasi kepada tokoh-tokoh Banser sebelum membuat skenario sehingga tidak membuat ketersinggungan. Hanung sutradara top, namun pengetahuannya soal NU, terutama Banser, saya nilai nol besar. Terbukti sosok Banser yang dimunculkan sebagai tokoh sentral dalam filmnya justru mendiskreditkan Banser,” katanya.

Hasyim dan semua anggota Banser Surabaya pada Rabu menggelar rapat sehubungan dengan rencana pemutaran film tersebut dan meminta masyarakat yang menyaksikan film tersebut untuk tidak menanggapi serius.

Sebab, kata dia, tidak semuanya yang dituangkan Hanung benar adanya. ”Saya yakin masyarakat sudah paham, siapa Hanung sebenarnya, bahkan dalam film Sang Pencerah yang mengusung tokoh Muhammadiyah dia juga berusaha memunculkan orang NU di dalamnya, meski lagi-lagi tidak sesuai kepribadian orang Nahdliyin, itulah Hanung,” katanya.

Menurut Hasyim, Hanung harus meminta maaf kepada para tokoh Banser sekaligus merevisi film tersebut. ”Banyak yang tidak terima penggunaan seragam Banser yang tanpa meminta izin itu,” kata dia.

Sebelumnya, Ketua PP GP Ansor, Nusron Wahid, juga tidak sepakat dengan isi film Tanda Tanya karya Hanung yang cenderung mendiskreditkan Banser di mata umum.

”Masa ada Banser digambarkan suka mengamuk dan menganggap Banser adalah pekerjaan. Ini, kan, tidak benar. Banser itu pengabdian sebab tidak digaji,” ujar Nusron.

Sumber : antara , dutamasyarakat.com

5 thoughts on “Ansor Protes Adegan Banser Film Karya Hanung Bramantyo

  1. Ibnu Lahm Juni 25, 2011 / 2:22 pm

    Setahu saya Banser itu orang2 yg ngamuk tebangin pohon untuk mengganggu jalan, kebal golok dan pasang badan di gereja pas Natal.

  2. vickybanser Juni 1, 2011 / 10:19 am

    saya calon banser 2011, do’a kan diklatsar july nanti saya sukses dan lancar. amin ya robbal alamin. GP ANSOR PONOROGO

  3. mursalin Mei 21, 2011 / 10:51 pm

    BANSER kok bingungan, yo latihan gawe filmeee dewe. lha kan apik. wong sing dadi kethophrak kan banyak, jadikanlah film mandiri. pasarkan lewat youtobe. contoh Gus Dur, duwe ati iku sing samodra thik keno najis tetep suci.
    Wong orang lain bikin film wis ben-kene gawe filme dewe yo wis ben (GITU AJA KOK REPOOT). Lihatkan Banser pada dunia lewat karya Banser sendiri. Banser itu harus bisa begini begitu hati tetap patuh guru.
    Perkoro bentuk Ansor lan Banser wis bingung koyok enthung. Ansor lan Banser iku podho sing bedo iku Diklat-e. Roto-roto Ansor ora gelem Diklat Banser karepe senengane ngongkon Banser dadi centhenge Ansor. Lha iki marah-marahi lakon cerito thok ora mergawe. Wis delokno wae adminstrasi Ansor lan Banser koyok opo. Lihatlah pakianmu kalau kamu ingin berwibawa. Ada pepatah toTonen pakaianmu lan sandalmu iku podo karo latihan noto atimu.
    Amirika iku negara gede, iso gede ora mungsuhi sing gede tapi golek kerpekane sing gede.
    Wis lah Banser diklumpukno latihan opo sing iso masuk akal, sing ora masuk akal di imbangi sing masuk akal. Yah ono yah ene kok dienggo bal-balan ae. Ngaji ndhisik marang Guru Mursyid.

    Untuk Mas Hanung, warahi carane gawe filme biar jos!!! Nggawe film iku yo barokah nggo dandani dalan-dalan deso kok!

    Allaaahuma sholi’alaa Sayidina Muhammad.

  4. ngkus April 11, 2011 / 2:28 pm

    Kenapa ya si mas yg satu ini suka bikin film yg kontroversial ditengah emosi yang mudah di sulut dan isu adu domba di kalangan kaum muslimin???

    • kangendik April 24, 2011 / 10:39 pm

      Mas Hanung yang budiman dan kami banggakan, kenapa pula suka bikin kontroversi. Kecemerlangan ide-ide Mas Hanung memang patut diacungi jempol setiap orang, tapi tolong tengoklah hati anda sekali lagi untuk merasakan (seandainya Mas Hanung) menjadi orang yang “terpalsukan jatidirinya” dalam tokoh film. Sakit, Mas! Kami sebagai kader BANSER yang selalu diwanti-wanti oleh para orangtua untuk senantiasa berhati-hati dengan “hati” kami mana mungkin berani bertindak anarkis (yang siapapun tidak mungkin membenarkan tindakan tersebut). –“Maaf, bahkan dalam perangpun ada aturannya.”– Kami taat hukum, Mas!

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s