PIDATO KETUA UMUM PBNU Pada Hari Lahir Nahdlatul Ulama Ke-85

Bismillahirrahmanirrahiem

Alhamdulillah kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Salawat serta salam kita sampaikan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW,  yang membawa risalah Islam yang memberi petunjuk kepada kita sampai hari ini.

Peringatan Hari Lahir NU ke-85  yang dirayakan hari ini, sebagai ungkapan rasa syukur ke hadirat Allah SWT. Sekaligus juga merupakan perwujudan dari perjuangan NU selama ini yang telah berhasil muwujudkan komunitas Islam yang taat beragama, memiliki kejujuran tinggi dan ketekunan luar biasa serta memiliki komitmen yang sangat tinggi terhadap bangsa bahkan umat manusia sedunia. Semuanya itu ditempuh dengan sukses karena menggunakan paradigmanya sendiri yaitu mabadi tawassuth, tawazun dan tasamuh, sehingga bisa menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis. Dengan sikap dan pengorbanannya semacam itu NU tidak pernah berbuat onar apalagi memberontak pada negara dan Pemerintah yang sah.

NU hadir untuk memelihara dan mempertahankan Islam ala ahlussunnah wal jamaahmaupun untuk mengemban tanggungjawab kultural untuk menyangga tradisi. Selain itu juga untuk menjaga keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila yang oleh almaghfurlah KH. Achmad Shiddiq pada Muktamar ke-27 tahun 1984 dirumuskan sebagai “Hasil Final Perjuangan Umat Islam.”

Segenap jajaran NU baik dari unsur kepengurusan organisasi mulai tingkat nasional sampai ranting-ranting pedesaan di seluruh Nusantara maupun di lapisan budaya terutama pesantren, para kiai pengasuh dan kalangan ulama, jaringan tariqah, serta jaringan-jaringan budaya NU lainnya senantiasa menjaga dan memelihara pengamalan ajaran Islam ahlussunnah wal jamaah dan terus mencermati perkembangan dan tegaknya NKRI.

NU merupakan organaisasi yang terus berkembang dan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat tidak lain karena memiliki mabda yang tepat. Di tengah munculnya ekstrem ideologi dan gaya hidup, NU akan tetap mengambil jalan tengah (ummat wasathan), karena ini merupakan jalan Islam yang sesungguhnya, sebagaimana Firman Allah.

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Dan demikianlah aku menciptakanmu sebagai umat yang (moderat, adil), agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas perbuatanmu.” (QS: Al Baqarah 143).

Ajaran ahlussunnah ini berpegang teguh pada Sunnah Nabi secara, qaulan wa fi’lan wa taqriran (sabda, tindakan dan kesepakatan). Sebagai pembawa misi kenabian makaAhlussunnah selalu berpegang pada prinsip jamaah yaitu bersama dan membela kepentingan masyarakat banyak.

Menghadapi tanggung jawab agama, negara dan bangsa ini NU perlu menyingsingkan lengan baju, karena hanya dengan demikian akan bisa mengemban peran besar sebagaisyuhud hadhari (penggerak peradaban) bangsa, tetapi juga berperan sebagai syuhud tsaqafi (penggerak intelektual) dalam membangun dan menyangga bangsa ini. Komitmen NU pada bangsa ini tidak bisa ditawar, karena NU terlibat dalam mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini sehingga ketaatan NU pada Bangsa dan negara ini bersifat mutlak. Dalam negara ini bukan sekadar berperan sebagai stake holder (pemangku kepentingan) yang tidak memiliki peran apapun, sebagaimana sering disebut orang. NU turut mendirikan negara ini dengan pengorbanan harta dan nyawa, karena itu NU duduk sebagai share holder (pemilik saham) dalam NKRI ini, sehingga posisinya kuat dan memiliki tangung jawab terhadap negara ini.

Dengan mengacu kepada Khittah Nahdliyah yang menegaskan NU sebagai gerakan dakwah dan sosial keagamaan, di masa mendatang akan meneguhkan NU sebagai  syuhud tsaqafah atau gerakan kebudayaan.  Dengan strategi itu, dalam kesempatan ini perlu kami tegaskan bahwa  kelanjutan perjuangan pengabdian NU terhadap bangsa dan negara ini di masa mendatang akan terus ditingkatkan untuk mendorong peneguhan persatuan bangsa dan penguatan kedaulatan negara di tengah benturan kepentingan antar-bangsa yang belekangan telah melahirkan kolonialisme (baru), terutama di bidang ekonomi,  serta ikut mengupayakan perdamaian dunia sebagaimana diamanatkan Pembukaan UUD 1945.

Sekali lagi ingin kami sampaikan, bahwa dalam konteks itu, peran NU diletakkan sebagai kekuatan ketiga di luar lembaga-lembaga politik dan lembaga-lembaga penyelenggara negara. Kekuatan NU bertumpu pada tiga tataran. Yakni pahamahlussunnah wal jamaah (di dalamnya antara lain ada fikrah Nahdiyah yang melahirkan Islam moderat), nilai-nilai/tradisi dan lembaga-lembaga budaya mulai dari pesantren, jaringan thariqah, dll, serta jaringan struktur sebagai infrastrukur organisasi yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Jaringan kekuatan tersebut sejauh ini efektif memainkan peran sebaga penyangga bangsa di luar lembaga-lembaga politik dan penyelenggara negara yang belakangan ini mengalami kemerosotan legitimasi karena lemah dalam menjalankan fungsi pokoknya.

Sementara di antara partai-partai politik di Dewan Perwakilan Rakyat kerapkali menunjukkan terjadinya benturan kepentingan dan saling memanfaatkan kelemahan yang amat menentukan dalam proses pembuatan kebijakan negara yang hasilnya  pada umumnya jauh dari kepentingan rakyat. Sebaliknya, atas nama kebebasan rakyat pun cenderung  mengartikulasikan kepentingannya dengan cara esktra parlementer.

Semua ini menunjukkan tidak terjadinya pelembagaan politik dalam memenuhi aspirasi rakyat baik oleh partai maupun lembaga perwakilan rakyat. Sementara itu, Pemerintah sendiri belum bisa berbuat banyak untuk memenuhi hak-hak dasar, hajat hidup  dan berbagai aspirasi rakyat tanpa dukungan penuh dari  Dewan Perwakilan Rakyat. Sangat memprihatinkan  bahwa  demokratisasi dalam dua belas tahun terakhir ini hanya menghasilkan kehidupan yang serba liberal, baik di bidang politik, ekonomi maupun kebudayaan.

Dalam hal ini NU mengetengahkan beberapa prinsip tentang demokrasi. Pertama, demokrasi haruslah mampu menjaga keutuhan bangsa. Kedua, mampu menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Ketiga, demokrasi harus mampu menjaga kebersamaan dan kebhinekatunggal-ikaan. Keempat, demokrasi harus memperhatikan prinsip musyawarah. Kelima, demokrasi harus mampu menjamin kepercayaan pada Tuhan yang Maha Esa.

Perbaikan demokrasi ini tidak hanya di bidang politik, tetapi sekaligus di bidang ekonomi dan kebudayaan. Ketiganya haruslah dibangun berdasarkan prinsip kedaulatan, kebangsaan dan kerakyatan. Sistem ekonomi inilah yang akan mampu menyelamatkan kita dari berbagai goncaangan krisis ekonomi dunia.

Alhamdulillah Indonesia selamat dari krisis ekonomi dunia yang terjadi beberapa tahun yang lalu sehingga posisi ekonomi kita saat ini cukup kuat, baik cadangan devisa kita terus meningkat.

Penguatan fundamental ekonomi ini sangat membutuhkan sistem politik yang stabil sebagai penopangnya. Karena itu kita perlu terus mengkonsolidasi demokrasi ini, sesuai dengan yang digariskan Pancasila, yaitu demokrasi kerakyatan dan berketuhanan. Demokrasi ini yang diharapkan mampu menciptakan stabilitas politik nasional baik di bidang eksekutif maupun legislatif. Mengingat pentingnya dua hal tadi maka sebagai tanggung jawab moral dari organisai keulamaan ini, maka NU akan selalu bersinergi dengan pemerintah. Dalam arti, kalau kebijakan pemerintah pro rakyat dan berpihak pada kepentingan bangsa akan kami dukung. Sebaliknya bila kebijakan pemrintah mengingkari aspirasi rakyat dan kepentingan nasional NU akan melakukan kritik. Perlu saya tegaskan lagi bahwa kesetiaan NU pada negara itu mutlak, tetapi kesetiaan pada Pemerintah bersifat kondisional, kalau benar didukung kalau salah dikritik, berdasarkan prinsip amar ma’ruf nahi munkar.

Sikap dasar NU ini belum banyak diketahui orang, sehingga kesalahpahaman terhadap NU terus terjadi. Hal itu tidak lain ada orang yang memang tidak tahu NU, tetapi ada yang pura-pura tidak tahu, celakanya ada orang yang memang tidak mau tahu tentang NU, karena itu meremehkan eksistensi NU yang berarti pelecehan terhadap elemen penting dari bangsa ini. Kata sebuah pepatah bahwa al-insanu ‘aduwwu ma jahil(manusia membenci apa yang tidak diketahui). NU tidak mereka kenal karena itu mereka benci. Karena itulah Harlah Ke-85 NU ini dilaksanakan dengan tema besarMeneguhkan Kemandirian dan Persatuan untuk Perdamaian Dunia ini untuk kembali memperkenalkan peran-peran kesejarahan NU.

Bagi NU kedaulatan bangsa dan negara itu sangat penting, hanya dengan kedaulatan itulah kita bersatu dan bisa mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan. Atas nama kemandirian atau kedaulatan itulah NU dulu berjuang melawan penjajah untuk mendirikan republik ini.

NU telah banyak berbuat untuk negeri ini sejak dalam merebut kemerdekaan, menyiapkan konstitusi serta mengisinya. Hingga saat ini NU tetap mandiri dalam mengelola pendidikan, saat ini NU memiliki 22.000 pesantren dan 400. 000 madrasah. Selain itu mandiri dalam mengelola ekonomi. Hingga saat ini NU memiliki banyak BPR dan micro finance, NU menghimpun ribuan petani dan nelayan. Sejak dahulu NU juga mandiri dalam membina sosial, dalam hal ini NU memiliki puluhan ribu jamaah tarekat, jamaah pengajian, jam’iyatul qurra wal huffadz dan sebagainya belum lagi barisan pemuda dan remaja. Semuanya dikelola secara mandiri baik dari segi teknik maupun dana. Pendeknya, NU telah berbuat banyak terhadap negara ini. Karena itu sudah selayaknya semua pihak, terutama negara mendukung seluruh agenda NU agar peran NU dalam menegakkan bangsa ini semakin besar.

Usulan perbaikan sistemik ini perlu ditegaskan, mengingat bahwa tanpa sistem yang baik tidak mungkin perbaikan bisa dilaksanakan. Sebagaimana sebuah pepatah mengatakan bahwa faqidusy-syai’i la yu’thihi (barang siapa tidak memiliki sesuatu maka tidak akan bisa memberi). Bagi orang yang tidak adil, tidak mungkin menegakkan keadilan, bagi yang tidak memiliki kejujuran tidak mungkin berlaku jujur dan seterusnya. NU menginginkan dengan adanya sistem yang baik semua bisa dimungkinkan untuk berjalan dengan baik, adil, jujur dan benar. Karena tidak mungkin pemerintah yang tidak adil bisa memperjuangkan keadilan bagi rakyatnya. Dan tidak mungkin pula pemerintah yang tidak jujur bisa memberantas korupsi dan berbagai macam ketidakjujuran.

Sebagai organisasi keulamaan yang berorientasi kerakyatan dan sebagai wujud dariahlusunnah wal jamaah yang selalu bersama sawadil a’dzom (kelompok mayoritas), NU akan terus menerus memperjuangkan kepentingan rakyat, dengan cara tarbiyatur ruhiyah (mendidik dan menyirami rohani mereka) serta tazkiyatun nafs (menyucikan jiwa mereka). Karena itu di NU terdapat berbagai macam aliran tarekat mu’tabarah, yang baru saja mengadakan Multaqas Shufi al-Alamy (Pertemuan Sufi Sedunia) di Jakarta dalam rangkaian acara Harlah ini. Kita harapkan pencerahan jiwa dan kebersihan hati itu tercermin dalam perilaku sosial, perilaku politik dan dalam kerja ekonomi sehari-hari.

NU memiliki pengelaman sejarah yang panjang termasuk dalam menghadapi berbagai peristiwa besar. Pengalaman sejarah itu yang ingin dipejari orang lain termasuk dari luar negeri. Termasuk banyak ahli tarekat yang ingin belajar pada pengalaman Indonesia, demikian juga para aktivis dan politisi dunia, termasuk dari Afghanistan berusaha mencoba bertukar pengalaman dengan kita bagaimana sebuah agama dan organisasi keulamaan bisa menjadi perekat bagi keutuhan bangsa.  Pengalaman berbangsa dan bernegara itu yang ingin dibagi bersama bangsa lain terutama dalam menegaskan hubungan agama dengan negara, dan menerapkan ideologi negara Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Indonesia yang multi etnis, multi agama dan ideologi tetapi kerukunan sosial bisa terjaga, hal itu tidak lain karena kita memiliki ikatan spiritual yang mendalam, serta memiliki ikatan ideologi yang kokoh yaitu Pancasila. Secara kontras bisa bandingkan dengan Timur Tengah, merka relatif homogen secara agama, tetapi mereka sulit bersatu bahkan selalu dalam ketegangan, hal itu tidak lain karena spiritualitas mereka keropos, sehingga tidak memiliki kemampuan beradaptasi  ketika tidak ada lagi sikaptawasuth, tawazun dan tasamuh. Karena itu merek ingin belajar pada kita. Dan kita siap berdialog dan tukar pengamalam dengan mereka.

Itulah beberapa pokok pikiran yang perlu kami samapaikan dalam Harlah NU ini, sebagai pegangan dan sekaligus sebagai pijakan dalam melakukan aktivitas selanjutnya. Karena itu sekali lagi kami ucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada semua pihak atas partisipasinya dalam pelaksanaan Harlah ini.

Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, MA

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama

Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, 17 Juli 2011

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s