Gus Mus: Mengikuti Kanjeng Nabi itu Mudah

Jakarta, NU Online
Nabi Muhammad adalah manusia yang paling manusia. Manusia yang mengerti manusia. Manusia yang memanusiakan manusia. Manusia yang berprilaku manusia. Ia diperintahkan Allah untuk menjelaskan jati dirinya bahwa ia manusia sebagaimana umatnya. Karena itulah kita sangat mudah mengikutinya; karena manusia mengikuti manusia.

Hal itu disampaikan KH A. Mustofa Bisri di pengajian rutin komunitas Mata Air pada Rabu, (26/10), di Jalan Mangunsarkoro, Menteng, Jakarta, pukul 19.30 WIB. Sebelumnya, KH. Luqman Hakim menjelaskan muqadimah kitab Minhajul Abidin karya Hujjatul Islam, Imam Ghazali.

“Bandingkan kalau Anda mengikuti kuda misalnya, itu bisa sakit nggak karu-karuan. Apalagi mengikuti kera, misalnya; sebentar loncat sana, sebentar loncat sini, sebentar gelantungan,” ungkap Wakil Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini, disambut tawa hadirin yang berjumlah 40 orang.

Lebih lanjut kata Musthofa, kuncinya hanya satu, asal tetap manusia, tentu lebih enak mengikuti kanjeng Nabi. Kalau kesulitan, maka mestinya curiga pada diri sendiri.

“Jangan-jangan kita setengah buaya. Jangan-jangan kita seperti ular saja, kadal segala macam,” terang  Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah, yang biasa disapa Gus Mus ini.

Kyai yang penyair dan pelukis ini menambahkan, makanya sepanjang mengimami jamaahnya, Nabi Muhammad tidak pernah diprotes jemaahnya. Tidak pernah ada yang mengeluh karena kelamaan bacaan sembahyang atau khotbahnya.

“Wah, ini kelamaan sembahyangnya, nih, khotbahnya bertele-tele. Nggak pernah! Sebaliknya, nggak ada jemaah yang mengeluh, ini cepet sekali. Kenapa? Karena Nabi tahu dan faham siapa yang ada di “belakangnya”, tambah penulis cerpen “Lukisan Kaligarafi” yang mendapat penghargaan dari Majlis Asia Tenggara (Mastera) ini.

Sahabat karib Gus Dur berusia 68 tahun ini pun mengisahkan salah seorang juru dakwah Nabi, Mu’adz bin Jabal. Dia dikirim ke Yaman. Tapi suatu ketika, jemaahnya mendatangi Nabi. Mereka protes karena Mu’adz membaca surat yang panjang saat mengimami sembayang.

Lalu, Nabi memanggil Mu’adz dan menasihatinya. Bahwa hal yang demikian itu bisa menimbulkan fitnah. Kalau sembahyang sendirian, menamatkan al-Quran pun tidak jadi soal.

http://nu.or.id/

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s