Merenungi Hakikat Sujud

Intensitas sujud kita kepada Allah menunjukkan sisi kemuliaan kita di hadapan-Nya.

Lepas isya, Jum’at malam (23/12/2011), hujan mengguyur deras kawasan Masjid Agung Sunda Kelapa. Namun guyuran hujan itu tak menyurutkan langkah lebih dari seribu jama’ah untuk mendatangi masjid yang terletak di jantung kawasan elite menteng itu. Ada yang mereka nantikan, yakni kehadiran Maulana Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani, untuk dzikir bersama dan taushiyah.
Acara diawali dengan pembacaan bait-bait Maulid Ad-Diba’i dan qashidah, hingga kedatangan mursyid Thariqah Naqsyabandiyyah Haqqaniyah asal Amerika Serikat itu bersama rombongan.  Sejurus kemudian jama’ah larut dalam lantunan qashidah yang dibaca dua orang munsyid: Ustadz Safruddin dan Ustadz Fakhruddin.

Setelah senandung qashidah selama lebih dari dua setengah jam, Maulana Syaikh Hisyam Kabbani menyampaikan taushiyah. Dalam taushiyahnya, ulama kelahiran Lebanon mengajak jama’ah untuk merenungkan hakikat sujud, sebagai ibadah yang sarat makna. Berikut cuplikan taushiyahnya:

Kita memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala nikmat-Nya dan selalu berusaha untuk senantiasa mensyukuri segala pemberian-Nya, yang dianugerahkan melalui kekasih-Nya yang juga kekasih kita, Sayyidina Al-Mushthafa Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.

Tidaklah mudah bagi saya untuk memulai sebuah nasihat yang lahir dari hati ke hati yang lain, dari perenungan yang mendalam akan hakikat-hakikat kehidupan, sebagaimana seorang dokter yang akan memberikan nasihat bagi pasiennya, setelah memeriksanya, kira-kira apakah yang ingin dikatakannya, apa obatnya, apa diagnosisnya, demi kesembuhan dan kesehatan si pasien.

Adalah Nabi Muhammad SAW, anugerah terbesar yang Allah Ta’ala berikan kepada kita. Allah Ta’ala memberikan banyak keutamaan kepada Nabi Muhammad SAW, menjadikannya ma’shum dari segala kekurangan diri seorang makhluk, memujinya dengan setinggi-tinggi pujian, rahmat bagi alam semesta, yang tidak ada pujian setinggi itu yang diperoleh oleh Sayyidina Muhammad SAW. Allah Ta’ala juga berfirman, “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS Al-Qalam: 4). Yang memberikan pujian itu pun sampai tak mendefinisikan keluhuran pujian itu bagi kekasih-Nya.

Maka Baginda Nabi Muhammad Shallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan kepada kita bagaimana hakikat yang diperolehnya itu dapat digapai oleh kita, umatnya, yakni dengan mengikuti jalan kehidupan yang beliau jalani, mencintai Allah dengan mengikuti jalan Nabi SAW, sebagaimana firman Allah, “Katakanlah, wahai Muhammad, ‘Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian.” (QS Ali Imran: 31). Untuk menggapai kedudukan di sisi Ilahi, ada tahapan dan perantaraannya, yakni mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW. Sebagai ibarat, orang yang akan menduduki kursi-kursi saat bertemu dengan pembesar, ada protokolernya, yang mana seseorang duduk pada tempat yang sudah diatur.

Salah satu kunci utama dalam menjalani tahapan di hadapan Allah SWT, yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, ialah sujud. Intensitas sujud kita kepada Allah menunjukkan sisi kemuliaan kita di hadapan-Nya. Baginda Rasulullah SAW adalah sosok teladan dalam hal sujud. Beliau begitu intens bersujud, hingga kaki-kakinya membengkak. Tidak ada yang mampu menandinginya dalam hal ibadah sujud ini. Maka kita patut mengikuti jalan beliau dalam upaya menggapai kecintaan Allah ini.

Sebagaimana saat ini kita tengah berkumpul di sini, di Masjid Sunda Kelapa, kita, yang tadi bersujud di dalamnya, sesungguhnya di saat sujud itu ada dua malaikat yang turut mengiringi sujud kita, di bahu kanan dan kiri kita. Malaikat-malaikat yang mengiringi saat sujud ini kelak akan memberi kesaksian di hadapan Allah tentang kesungguhan sujud kita. Demikian pula setiap titik tempat kita meletakkan kening kita saat sujud, tempat-tempat itu pun akan menjadi saksi.

Untuk itu, marilah kita benar-benar menyelami sikap kita saat bersujud. Bagaimana keutamaan bersujud dalam satu kumpulan berjama’ah juga patut kita perhatikan. Sujud berjama’ah, sebagaimana shalat berjama’ah, mengandung fadhilah dan ganjaran yang berlipat ganda.

Satu lagi keutamaan hakikat dalam sujud adalah hubungan sujud dengan rotasi waktu. Bumi mengelilingi matahari, sehingga terjadi putaran waktu sepanjang pagi, siang, dan malam. Berkaitan dengan ibadah sujud, putaran waktu, putaran alam kosmik semesta ini, menjadi saksi dalam detik demi detik sujud kita kepada Yang Mahakuasa. Maka shalat lima waktu, yang di dalamnya ada rukun sujud ini, jika kita berusaha mereka-reka bilangannya, ada berapakah putaran waktu yang mencatat ibadah sujud kita? Subhanallah, tidaklah ada kesia-siaan pada anugerah Allah ini.

Inilah anugerah yang Allah berikan yang mungkin selama ini kita memahaminya secara sederhana saja. Rekaman demi rekaman yang dihubungkan dengan rotasi waktu, perputaran bumi yang tempat kita bersujud atas matahari dan sistem cakrawala dan tata surya yang ada, tercatat rapi atas izin Allah ta’ala. Dan hanyalah Allah yang tahu qudrah-Nya tentang sujud ini.

Ketika kita mengucapkan kalimat Allah, Allah, Allah, beberapa kali saja lalu kita berhenti, jangan disangka apa yang kita ucapkan itu berhenti begitu saja. Suara kita itu terus menggema di balik tata surya yang penuh misteri ini, ke berbagai tempat belahan alam semesta sampai datangnya hari Kiamat.

Dalam hitungan matematis, diameter keliling bumi ada kurang lebih 40.000 kilometer, dan dalam sehari semalam ada 24 jam sehingga jumlahnya ada 3.600 detik. Jika seseorang bersujud pada titik tertentu, umpamanya semenit saja, dibagilah keliling bumi itu terhadap waktu yang tadi kita sujud itu. Satu menit sujud itu ada dalam ukuran putaran bumi atas matahari itu, kira-kira jumlahnya setengah kilometer jarak bumi. Dan waktu serta rotasi alam semesta itu pun terus berlalu. Jadi, bagaimana dengan ibadah-ibadah lainnya yang jika kita rajinkan dalam hidup kita, yang semata-mata hanyalah ditujukan kepada Allah SWT? Allah SWT telah mengaturnya sebagaimana iradah-Nya yang penuh dengan nilai keseimbangan bagi makhluk-makhluk-Nya. Subhanaka ma khalaqta hadza bathila. Mahasuci Engkau, ya Allah, tidaklah yang Engkau telah ciptakan ini ada kesia-siaan.

Marilah kita bersyukur karena menempati belahan buminya ini, yakni Indonesia, negeri yang aman, makmur, dan subur. Janganlah kita menikmatinya dengan suka cita namun di waktu yang bersamaan kita mengacaukannya juga. Pandai-pandailah mensyukurinya dengan penuh ibadah kepada Allah Ta’ala, dekatlah dengan para ulama, habaib, serta orang-orang shalih yang ada di sekitar kita, yang menjadi para pewaris Baginda Nabi Muhammad SAW. Ikutilah para ulama, yang punya otoritas keulamaan, yang punya maqam di sisi Allah SWT, karena itu sebaik-baiknya teladan saat ini. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.

***

Usai taushiyah, Maulana Syaikh Hisyam Kabbani mengajak jama’ah untuk berdzikir ala thariqah yang dipimpinnya.

Malam memang semakin larut dan dingin, namun semakin hangat dengan lantunan qashidah yang diiringi suara jama’ah yang memadati lantai dan serambi atas Masjid Agung Sunda Kelapa.

Maulana Syaikh Hisyam juga sempat membagikan ratusan buah permen kepada jama’ah yang berebutan tabarruk kepadanya.

Tepat pukul 23.00 WIB, acara berakhir dengan penuh kebahagiaan. Jama’ah, yang merasa tenteram setelah mendengarkan siraman ruhani di malam yang penuh berkah itu, pulang dengan membawa bekal berkah dan ghirah taqwa yang mudah-mudahan terbarukan, amin.

Ahmad Baihaqi

One thought on “Merenungi Hakikat Sujud

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s