Habib Lutfie: Cinta Rasulullah, Tiru Akhlaknya

Brebes, NU Online
Kemuliaan akhlak Rosulullah SAW mampu mengubah dunia yang gelap gulita menjadi terang benderang. Bahkan jalan terang itu dapat kita nikmati hingga akhir zaman. Untuk mengetahui kemuliaan akhlak Rosul, dapat dibaca dalam sejarah Rosul yang antara lain tertuang dalam kitab Barzanji.

“Aneh, kalau ada pihak-pihak lain yang melarang peringatan Maulid yang didalamnya ada pembacaan kitab Al Barzanji dengan dalih bid’ah,” kata Ra’is ‘Am jam’iyah Ahlu Thariqah al Mu’tabarah an Nahdliyah Habib Lutfie bin Yahya saat menyampaikan mauidlotul khasanah di Masjid Al Munawaroh Kaligangsa Kulon Brebes, Selasa dini hari (28/2).

Upaya tersebut, disinyalir oleh habib sebagai upaya membenturkan umat Islam. Namun dia berpesan agar Nahdliyin (warga NU) yang selalu memperingati Maulid Nabi jangan terpengaruh. “Kita tanggapi saja dengan santun, umat Islam akan berwibawa kalau selalu santun,” ajaknya.
Termasuk memperingati Maulid Nabi yang tanpa henti, meskipun sudah melebihi dari bulan Rabiul Awal, Habib justru menganjurkan untuk diteruskan. Mencontoh akhlak Nabi SAW harus terus menerus.

“Kebanggaan, kecintaan kepada Nabi harus terpatri dengan mengejawantahkan nilai akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya.

Habib malah bertanya, bagaimana kalau peringatan Kemerdekaan RI pengibaran bendera merah putih hanya pada 17 Agustus saja? “Tentu tidak, bendera merah putih harus terus dikibarkan,” tandasnya.

Jangan hanya melihat dua warna yang disatukan saja. Tetapi harus menelusuri latar belakang bagaimana perebutan Sang Merah Putih itu bisa berkibar menandai kemerdekaan Indonesia. “Dalam perang, kalau bendera kita sudah direbut lawan, berarti kalah,” terang Habib.

Lagi-lagi Habib Luthfie merasa aneh, kalau hormat bendera dikatakan syirik. Bendera Merah Putih, adalah perlambang harga diri dan kehormatan bangsa. Bendera kita berkibar tidak dengan sendirinya, tapi di tebus dengan nyawa para syuhada. “Hormat bendera bukan sirik, bukan mitos,” tandasnya.

Menurut Habib, mereka yang melarang-larang Maulid Nabi, melarang hormat bendera adalah golongan yang tidak melewati fase sejarah dan tidak berterimakasih.  “Mereka mengertinya Indonesia sudah merdeka, tinggal santap menikmati kemerdekaan. Namun wataknya anti Indonesia. Enyah saja dari Bumi Pertiwi,” jelasnya.

Habib mengajak kaum Muslim untuk berterima kasih pada Nabi Muhammad SAW, pada para Syuhada yang telah mendirikan Indonesia. Jangan sampai mudah dibenturkan. “Bila akan dibenturkan, kita harus tetap ingat akhlak Nabi. Jangan sampai memalukan. Memalukan. Memalukan!” pungkasnya.

Menurut Ketua Panitia Imam Muhammad, peringatan Maulid Nabi digelar jamaah Masjid Al Munawaroh Kaligangsa Kulon. Sekaligus Khaul Kiai Anwar bin Kiai Munawar yang ke-23. Sebelumnya, warga setempat membaca tahlil di maktabaroh kiai Anwar dan pembacaan Al-Qur’an 30 Juz.

Turut menyampaikan ceramah, Wakil Wali Kota Tegal Habib Ali bin Zenal Abidin dan KH Dirjo Abdul Hadi. http://nu.or.id

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s