Pengaruh Puasa Terhadap Kesehatan Mental

Oleh: Nurina Anies Al-Habsyi, S.Psi.*

Penelitian yang dilakukan Alan Cott terhadap pasien gangguan jiwa di rumah sakit  Grace Square, New York, menemukan hasil bahwa pasien bisa sembuh dengan terapi puasa.

Puasa erat kaitannya dengan kesehatan. Sebagai ibadah, memang berpuasa harus dijalankan bagi yang wajib menjalankannya. Namun aspek kesehatan pun disebut-sebut, baik dalam Al-Quran maupun hadits. Misalnya, firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah (2) 148, “Maka orang yang sakit di antara kalian atau dalam perjalanan, hendaklah mengerjakan puasanya yang ditinggalkan dalam sakit atau dalam safar di hari-hari yang lain.”

Sebuah hadits juga mengisyaratkan adanya hubungan antara puasa dan kesehatan. “Berpuasalah kamu, maka kamu akan sehat.”
Menurut World Health Organization, sehat adalah suatu keadaan berupa kesejahteraan fisik, mental, dan sosial secara penuh dan bukan semata-mata berupa absensinya penyakit atau keadaan lemah tertentu. Ini menggambarkan kancah yang luas dalam keadaan sehat, mencakup berbagai aspek, sehingga diharapkan dapat mewujudkan kesejahteraan hidup.

Kesehatan Mental

Seiring perkembangan pemikiran dan peradaban manusia, perhatian manusia terhadap kesehatan mental semakin meningkat, karena manusia semakin sadar bahwa kehidupan yang layak adalah ketika seseorang dapat menikmati hidup ini bersama-sama, berdampingan dengan orang lain. Kehidupan seseorang yang mengalami gangguan mental tidak kurang pedihnya dari penyakit jasmani.

Gangguan mental dapat berakar dari tidak terpenuhinya kebutuhan psikis dasar yang berasal dari keikhlasan eksistensi manusia yang harus dipuaskan, tetapi cara memuaskan itu bermacam-macam, dan cara pemuasan kebutuhan tersebut serupa dengan perbedaan tingkat gangguan mental.

Pengetahuan tentang kesehatan mental berkembang secara luas di negara-negara maju, terutama dalam beberapa tahun terakhir ini. Di beberapa negara pembahasannya telah sampai pada tingkat mencari jalan pencegahan (preventive) agar orang tidak menderita kegelisahan dan gangguan jiwa. Meskipun sering digunakan istilah kesehatan mental,  pengertiannya masih kabur dan kurang jelas bagi orang awam.

Daradjat (1995) memberi definisi, antara lain, pertama, terhindarnya seseorang dari gejala gangguan jiwa (neurose) dan dari gejala-gejala penyakit jiwa (psychose).
Kedua, kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan diri sendiri, dengan orang lain, dan dengan masyarakat serta lingkungan tempat ia hidup.

Ketiga, pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan memanfaatkan segala potensi, bakat, dan pembawaan yang ada semaksimal mungkin, sehingga membawa kepada kebahagiaan diri dan orang lain, serta terhindar dari gangguan dan penyakit jiwa.

Keempat, terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi jiwa serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang biasa terjadi, dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya.

Karena itulah, dapat ditarik benang merah bahwa kesehatan mental adalah suatu kondisi yang dialami seseorang yang ia tidak mendapatkan gangguan atau penyakit jiwa sehingga ia mampu menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri serta lingkungannya, serta mampu mengembangkan potensi yang dimiliki secara harmonis dan seimbang.
Dalam pandangan psikologi Islam, penyakit mental yang biasa berjangkit pada diri manusia, antara lain, riya’, hasad dan dengki, rakus, waswas, serta berbicara berlebihan.

Riya’ merupakan penyakit yang mengandung tipuan, sebab menyatakan sesuatu yang tidak sebenarnya. Orang yang berbuat riya’ mengatakan atau melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan hakikat yang sebenarnya.

Hasad dan dengki yaitu suatu sikap yang  melahirkan sakit hati apabila orang lain mendapat kesenangan dan kemuliaan, dan ingin agar kesenangan dan kemulian itu hilang dari orang tersebut dan beralih kepada dirinya.

Rakus yaitu keinginan yang berlebihan untuk makan.

Waswas adalah penyakit sebagai akibat dari bisikan hati, cita-cita, dan angan-angan dalam nafsunya dan kelezatan.
Adapun berbicara berlebihan yaitu berbicara yang tidak sesuai dengan kenyataan dan dibesar-besarkan. Ini merupakan salah satu kualitas manusia yang paling merusak, karena dapat menghantarkannya kepada pembicaraan yang tidak berguna dan berbohong.

Dalam kehidupan modern dewasa ini banyak individu secara lahiriyah tampak sehat, terpenuhi segala macam kebutuhan materiil, tetapi, apabila ditelusuri lebih jauh, menderita penyakit mental yang cukup parah, sehingga pada stadium berikutnya akan menggerogoti ketahanan fisik.
Sebuah fakta menunjukkan, lebih dari separuh tempat tidur di semua rumah sakit di Amerika Serikat terisi oleh pasien-pasien gangguan mental, dan untuk kesembuhan mereka dikeluarkan dana jutaan dolar per tahunnya.
Gangguan mental dapat berakar dari tidak terpenuhinya kebutuhan psikis dasar yang berasal dari kekhasan eksistensi manusia yang harus dipuaskan, tetapi cara memuaskannya itu bermacam-macam, dan perbedaan cara pemuasan kebutuhan tersebut serupa dengan perbedaan tingkat gangguan mental.
Kesehatan mental dicirikan dengan kemampuan mencintai orang lain yang bukan keluarga, klan, tanah air, dengan rasa identitas yang berdasarkan pengalaman akan diri sebagai subyek dan pelaku dorongan-dorongan dirinya dengan menangkap realitas di dalam dan di luar dirinya, yaitu dengan mengembangkan obyektivitas dan akal budi.

Pengaruh Puasa

Dalam Islam pengembangan kesehatan mental terintegrasi dalam pengembangan pribadi pada umumnya, dalam artian kondisi kejiwaan yang sehat merupakan hasil sampingan (by-product) dari kondisi yang matang secara emosional, intelektual, dan sosial, serta matang keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Ini tampak sejalan dengan ungkapan lama the man behind the gun, yang menunjukkan bahwa unsur penentu segala urusan ternyata adalah unsur manusianya juga, atau dalam tulisan ini lebih tepat diganti menjadi the man behind the system.

Dengan demikian, jelas dalam Islam betapa pentingnya pengembangan pribadi untuk meraih kualitas insan paripurna, yang otaknya sarat dengan ilmu-ilmu bermanfaat, bersemayam dalam qalbunya iman dan taqwa kepada Tuhan, sikap dan perilakunya merealisasikan nilai-nilai keislaman yang mantap dan teguh, wataknya terpuji, dan bimbingannya kepada masyarakat membuahkan keimanan, rasa kesatuan, kemandirian, semangat kerja tinggi, kedamaian, dan kasih sayang. Insan demikian pastilah jiwanya sehat.  Suatu tipe manusia ideal dengan kualitas yang mungkin sulit dicapai tetapi dapat dihampiri melalui berbagai upaya yang dilakukan secara sadar, aktif, dan terencana.

Dalam konteks itulah, ditinjau secara ilmiah, puasa dapat memberikan kesehatan jasmani maupun mental. Ini dapat dilihat dari beberapa hasil penelitian yang dilakukan para pakar. Penelitian Nicolayev, seorang guru besar yang bekerja pada lembaga psikiatri Moskow (The Moskow Psychiatric Institute), mencoba menyembuhkan gangguan kejiwaan dengan berpuasa. Dalam usahanya itu, ia menterapi pasien sakit jiwa dengan menggunakan puasa selama 30 hari.
Nicolayev mengadakan penelitian dan eksperimen dengan membagi subyek menjadi dua kelompok sama besar, baik usia maupun berat-ringannya penyakit yang diderita.

Kelompok pertama diberi pengobatan dengan ramuan obat-obatan, sedangkan kelompok kedua diperintahkan untuk berpuasa selama 30 hari. Dua kelompok tadi dipantau perkembangan fisik dan mentalnya dengan tes-tes psikologis.

Dari eksperimen tersebut diperoleh hasil yang sangat bagus: banyak pasien yang tidak bisa disembuhkan dengan terapi medis ternyata bisa disembuhkan dengan puasa. Selain itu kemungkinan pasien tidak kambuh lagi selama enam tahun kemudian ternyata tinggi. Lebih dari separuh pasien tetap sehat.
Penelitian yang dilakukan Alan Cott terhadap pasien gangguan jiwa di Rumah Sakit Grace Square, New York, juga menemukan hasil sejalan dengan penelitian Nicolayev. Pasien sakit jiwa ternyata bisa sembuh dengan terapi puasa.

Ditinjau dari segi penyembuhan kecemasan, dilaporkan oleh Alan Cott bahwa penyakit seperti merasa rendah diri juga dapat disembuhkan dengan puasa.
Percobaan psikologi membuktikan bahwa puasa mempengaruhi tingkat kecerdasan seseorang. Ini dikaitkan dengan prestasi belajarnya. Ternyata orang-orang yang rajin berpuasa dalam tugas-tugas kolektif memperoleh skor jauh lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang tidak berpuasa.

Di samping hasil penelitian di atas, puasa juga memberi pengaruh yang besar bagi penderita gangguan kejiwaan, seperti insomnia, yaitu gangguan mental yang berhubungan dengan kesulitan tidur. Penderita penyakit ini sukar tidur, tetapi dengan berpuasa ternyata penyakitnya dapat dikurangi, bahkan dapat sembuh.

*Alumnus Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Semarang, mahasiswa Magister Profesi Psikologi 

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s