Mendahulukan Bagian Yang Kanan

عن عائشة رصي الله عنها: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ، فِي تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ، وَطُهُورِهِ، وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ،

(صحيح البخاري)

Dari Aisyah Ra: Bahwa Nabi SAW menyukai memulai dengan bagian yang kanan, dalam memakai sandalnya, dalam menyisir rambutnya, dalam bersucinya, dan dalam gerak-geriknya” (Shahih Bukhari)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبـَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَفِي هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي الْجَلْسَةِ الْعَظِيْمَةِ نَوَّرَ اللهُ قُلُوْبَنَا وَإِيَّاكُمْ بِنُوْرِ مَحَبَّةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَخِدْمَةِ اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَاْلعَمَلِ بِشَرِيْعَةِ وَسُنَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang Maha melimpahkan kebahagiaan dan Maha mencabutnya, Yang Maha Memiliki dan Memberi kenikmatan serta Maha berhak mengambilnya. Dialah Allah subhanahu wata’ala dimana semakin mendekat seorang hamba kepadaNya maka semakin dekatlah ia kepada Sang Maha Memilki segala ketentuan dan kejadian, dan semakin seorang hamba memiliki niat untuk mendekat kepadaNya maka niat tersebut menjadi bekal untuk tumbuhnya kasih sayang dan ridha Allah untuknya, semoga niat-niat luhur itu senantiasa tumbuh di dalam sanubari kita di setiap hari-hari kita, apalah arti kehidupan ini jika di hati tidak ada keinginan untuk mendekat kepada Allah subhanahu wata’ala . Sebagaimana firmanNya dalam hadits qudsi :

مَنْ أَحَبَّ لِقَائِيْ أَحْبَبْتُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَائِيْ كَرِهْتُ لِقَاءَهُ

“Barangsiapa yang rindu perjumpaan denganKu, maka Aku rindu perjumpaan dengannya, dan barangsiapa yang membenci perjumpaan denganKu maka aku membenci perjumpaan dengannya”

Beruntunglah mereka yang ingin berjumpa dengan Allah hingga lewatlah hari-harinya dengan kerinduan, dan dalam catatan amalnya tercatat bahwa ia dalam kerinduan kepada Allah di siang dan malamnya, meskipun sesekali ia terjebak di dalam perbuatan dosa, namun Sang Maha Penyelamat mampu dan siap menyelamatkannya di setiap waktu dan kejap, serta siap mengampuni dosa-dosanya di setiap waktu, dan pengampunan itu akan didahulukan untuk hamba-hambaNya yang senantiasa ingin mendekat kepadaNya. Sebaliknya manusia akan terlewat hari-harinya dalam kehinanaan meskipun berada dalam kebahagiaan atau kenikmatan namun tidak ada keinginan dalam dirinya untuk mendekat kepada Allah subhanahu wata’ala, maka setiap nafas mereka akan terus mendekatkan mereka kepada kemurkaan Allah dan siksa Allah yang pedih, wal’iyadzubillah. Kehadiran kita di majelis ini merupakan undangan kasih sayang Allah subhanahu wata’ala kepada kita untuk mendekat kepadaNya dan mencapai pengampunanNya, mencapai keridhaanNya. Sebagaimana di saat ini kita berada dalam kebahagiaan dan kenikmatan, tersenyum karena berada dalam anugerah Allah subhanahu wata’ala, namun kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada diri kita di hari esok. Banyak diantara kita yang saat ini berada dalam keluasan harta dan dalam keadaan sehat, namun dalam beberapa detik hal itu bisa saja berubah dan sirna sebab penyakit stroke yang dengan sekejap Allah subhanahu wata’ala mencabut kebahagiaan dan harta yang dimilikinya. Maka beruntung bagi yang dekat kepada Sang Maha Pemilik kenikmatan, yang barangkali mereka mendapatkan musibah atau dalam kesedihan, namun karena ia dekat dekat Yang Maha Mampu menyelesaikan setiap musibah dan kesedihannya, maka mereka akan segera mendapatkan kemudahan dan pertolongan atas musibah atau permasalahanya lebih dahulu dari mereka yang tidak dekat denganNya. Sebagian orang berkata jika seseorang semakin dekat kepada Allah subhanahu wata’ala, maka akan semakin banyak mendapatkan musibah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِذَا أَحَبَّ اللهُ عَبْدًا اِبْتَلاَهُ

“ Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia (Allah) akan menimpakan cobaan baginya”

Namun cobaan tidak senantiasa berupa kesedihan atau musibah, akan tetapi meskipun cobaan tersebut berupa musibah atau kesediahan namun kenikmatan yang Allah berikan kepada mereka jauh lebih mulia dari cobaan tersebut. Sebagaimana kita ketahui bagaimana dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hidupnya disakiti dan dikejar-kejar untuk dibunuh, beliau juga mengikat perutnya dengan batu karena tidak makan selama beberapa hari, serta banyak peristiwa-peristiwa sulit yang dulu dihadapi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun disamping itu beliau lah satu-satunya manusia yang diberi kemapuan oleh Allah untuk mengalirkan air dari jari-jari mulia beliau shallallahu ‘alaihi wasallam disaat manusia kehausan dan tidak mendapatkan air, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan sahabat untuk membawa bejana besar, kemudian beliau meletakkan tangan beliau di dalam bejana tersebut dan mengalirlah air dari jari-jari tangan mulia beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau memerintah semua orang untuk minum dan berwudhu dari air tersebut, dimana jumlah mereka di saat itu adalah 1500 orang dan teriwayatkan dalam hadits :

لَوْ كُنَّا مِائَةَ أَلْفٍ لَكَفَنَا

“ Jika ketika itu (jumlah) kami 100.000, niscaya mencukupi kami”

Dan ketika beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dihina dan dilempari batu oleh musuh-musuhnya hingga kaki beliau berlumur darah, maka Allah subhanahu wata’ala mengutus malaikat untuk menolong beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengangkat gunung dan menimpakan kepada ummat yang telah menyiksa beliau shallalahu ‘alaihi wasallam, sehingga musnahlah semua umat tersebut namun beliau menolak hal itu dan memilih bersabar, dan beliau berkata jika mereka tidak beriman barangkali kelak ada diantara keturunan mereka yang akan beriman, adakah manusia yang bersabar dan berlemah lembut terhadap musuh melebihi beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan masih memikirkan kebaikan untuk anak-anak dan keturunan musuh-musuhnya, hal yang tidak pernah dilakukan oleh seorang makhluk pun di muka bumi ini selain beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian mulia dan indahnya akhlak beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hadirin yang dimulikan Allah
Selanjutnya hadits yang kita baca di malam hari ini, yang tampaknya adalah hal yang ringan dan biasa akan tetapi hal tersebut justru menunjukkan mukjizat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam banyak hal dan perbuatan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, namun yang akan kita bahas adaalah secara ilmu kesehatan, dimana menunjukkan bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah nabi yang mana tuntunan-tuntunan beliau sesuai dengan ilmu kesehatan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam banyak perbuatannya senantiasa mendahulukan bagian anggota yang kanan, Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani menyebutkan dengan menukil ucapan Al Imam An Nawawi bahwa ucapan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam “ وفي شأنه كله (dalam segala perbuatannya)” menunjukkan kalimat ‘aam makhsuus (kalimat umum yang dikhususkan), yang mana tidak semua perbuatan yang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam kerjakan dimulai dari anggota yang kanan, sebagaimana banyak perbuatan yang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mulai dengan anggota yang kiri, seperti ketika masuk ke dalam kamar mandi, atau ketika keluar dari masjid, dan lainnya. Namun kebanyakan dari perbuatan-perbuatan yang beliau mulai dengan anggota yang kanan, mengapa hal tersebut beliau lakukan?. Dijelaskan dalam ilmu kedokteran bahwa darah dari jantung yang mengalir ke seluruh tubuh terlebih dahulu mengalir di bagian anggota yang kanan, lalu mengalir ke bagian tubuh yang kiri kemudian kembali ke jantung. Sehingga darah yang mengalir pada anggota tubuh bagian kiri telah melewati anggota tubuh bagian kanan dan membawa kotoran atau racun-rancu untuk kemudian dibawa ke jantung. Hal ini menunjukkan jika seseorang melakukan perbuatannya dengan mendahulukan anggota yang kiri, maka keadaan kesehatan tubuhnya akan menjadi buruk karena kekuatan tubuh lebih kuat di anggota yang kanan, dikarenakan darah mengalir terlebih dahulu di anggota tubuh bagian kanan, meskipun posisi jantung terletak di sebelah kiri. Oleh sebab itu anggota sebelah kiri seharusnya lebih diberi kesempatan untuk beristirahat daripada bagian tubuh yang sebelah kanan, karena anggota bagian kiri mendapatkan pasokan darah yang telah bercampur dengan banyak kotoran yang dibawa dari anggota bagian kanan. Dan jika diteliti aliran darah yang mengalir di anggota bagian kanan mengalir sangat deras, namun aliran darah di anggota sebelah kiri mengalir lambat dan warna telah berubah karena telah bercampur dengan kotoran yang dibawa dari anggota bagian kanan. Dari sini kita fahami sungguh indah dan modern tuntutan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hadirin yang dimuliakan Allah
Saat ini kita telah memasuki bulan Dzulqa’dah, dan bulan ini mengingatkan kita pada peristiwa yang terjadi pada tahun 5 H yaitu kejadian perang Khandaq atau perang Ahzab.Dimana di saat itu Madinah dikepung oleh qabilah-qabilah sekitar Madinah yang dipimpin oleh kuffar quraisy, yang bertujuan untuk memerangi muslimin dan membunuh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Disebutkan dalam kitab Sirah bahwa jumlah mereka yang mengepung Madinah adalah 10.000 orang, dan 100 orang dari mereka adalah para tentara handal yang mempunyai keahlian dan dengan persenjataan yang lengkap, dan jumlah kaum muslimin di saat itu adalah 300 orang pria dan yang lainnya adalah kaum wanita, anak-anak, dan orang-orang tua yang lemah. Ketika mengetahui hal tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintah kaum muslimin untuk menggali parit atau seperti saluran aliran, yang mana hal itu adalah perintah dari Allah subhanahu wata’ala. Maka disaat penggalian parit itu, terdapat sebuah batu yang tidak dapat dihancurkan meskipun dengan segala kekuatan yang dimiliki seluruh penduduk Madinah. Kemudian mereka menyampaikannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil martil dan memukulkannya pada batu tersebut, namun hanya berpijar cahaya dan tidak bergerak dari posisi semula, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memukulkan palu itu untuk kedua kalinya, akan tetapi terjadai hal yang sama dan hanya memancarkan cahaya yang kuat dari batu itu, kemudian palu itu dipukulkan lagi untuk yang ketiga kalinya hingga batu pun hancur. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata bahwa pijaran cahaya yang pertama beliau diperlihatkan anugerah-anugerah Allah subhanahu wata’ala dan pijaran cahaya yang kedua beliau diperlihatkan kekuatan-keuatan romawi dan kemenangan muslimin. Hal itu diperlihatkan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk menenangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sampaikan kepada para shabat untuk menenangkan diri mereka, bahwa kemenangan akan diraih oleh kaum muslimin. Maka para sahabat pun menenangkan diri mereka sambil melantunkan qasidah, sebagaimana teriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari:

نَحْنُ الَّذِيْنَ بَايَعُوْا مُحَمَّدًا عَلَى الْإِسْلاَمِ مَا بَقِيْنَا أَبَدََا

“ Kamilah yang telah membai’at Muhammad (berpegang) kepada Islam sepanjang hidup kami”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :

اَللّهُمَّ إِنَّ الْعَيْشَ عَيْشُ الْآخِرَةِ فَاغْفِرْ لِلْأَنْصَارِ وَالْمُهُاجِرَةِ

“ Wahai Allah, sesungguhnya kehidupan yang sejati adalah kehidupan akhirat, ampunilah kaum Anshar dan Muhajirin”

Maka membaca qasidah dengan bersautan adalah hal yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sejak tahun 6 H yang silam. Kemudian di saat itu, datanglah seorang sahabat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang mana sahabat tersebut terkenal dengan seorang yang memiliki strategi yang handal dan pandai mempengaruhi, berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “Wahai Rasulullah, izinkalah aku untuk mendatangi kaum Yahudi dan qabilah-qabilah yang akan mengepung Madinah”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengizinkannya karena beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahui bahwa ia tidak akan terpengaruhi oleh orang quraisy dan qabilah-qabilah lainnya. Setelah ia menemui kelompok yahudi ia berkata : “ Wahai kaum Yahudi, apa yang akan diberikan kaum quraisy kepada kalian sehingga kalian bergabung dengan mereka untuk memerangi nabi Muhammad?”, maka mereka menjawab : “Kami tidak mendapatkan apa-apa dari kaum quraisy”, ia kembali berkata : “Ketahuilah, bukan harta yang harus kalian minta dari orang quraisy, akan tetapi mintalah beberapa orang quraisy untuk dijadikan jaminan kepada kaum muslimin agar kalian dibebaskan dan tidak dibantai dan dijadikan budak oleh kaum muslimin jika ternyata kaum quraisy kalah”, mendengar hal tersebut, orang yahudi pun mulai berfikir sehingga mereka pun meminta kepada orang quraisy beberapa orang dari kaum mereka untuk dijadikan jaminan. Akhirnya ucapan itu pun tersebar dikalangan Yahudi yang lainnya, sehingga mulailah orang Yahudi berpecah belah dan memisahkan diri dari kaum quraisy serta tidak memerangi kaum muslimin bersama kaum quraisy. Namun masih banyak qabilah dan kelompok yang masih bertahan untuk tetap memerangi nabi Muhammad dan pengikut beliau shallallahu ‘alaihi wasallam, sehingga pengepungan berlangsung dan kaum muslimin dalam keadaan yang sangat sulit karena pasokan sandang pangan tidak dapat masuk ke Madinah. Di sore harinya seorang terkuat dari kalangan quraisy yaitu ‘Amr bin Abd Wud berteriak dan memanggil penduduk Madinah serta menantang kaum muslimin untuk mengeluarkan orang terkuat kaum muslimin agar beradu dengannya sebelum peperangan di mulai, maka di saat itu sayyidina Ali bin Abi Thalib berdiri untuk menghadapinya, dan ketika itu usia beliau masih sangat muda, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menahannya agar tidak terbawa amarah dan mengingatkan sayyidina Ali bin Abi Thalib bahwa laki-laki itu adalah ‘Am bin Abd Wud, orang terkuat kaum quraisy, bukan berarti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam takut untuk menghadpainya, akan tetapi beliau shallallahu ‘alaihi wasallam meminta sayyidina Ali untuk tidak terbawa emosi, kemudian Amr bin Abd Wud kembali berteriak dan menantang kaum muslimin, maka sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk menghadapinya”, setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat sayyidina Ali bin Abi Thalib merasa tenang dan tidak dalam emosi, maka beliau pun mengizinkan sayyidina Ali bin Abi Tahlib. Namun ketika sayyidina Ali bin Abi Tahlib keluar dan akan menghadapi Amr bin Abd Wud, ia berkata : “Wahai Ali engkau adalah anak muda dan ayahmu adalah temanku maka aku tidak mau beradu denganmu, biarkan orang lain yang melwanku”, lalu sayyidina Ali berkata : “Demi Allah, aku akan membunuhmu jika engkau tidak mau masuk Islam”, mendengar hal itu ‘Amr bin Abi Hud pun marah dan mulailah pertarungannya dengan sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib, yang mana tidak beberapa lama Amr bin Abd Wud dikalahkan dan terbunuh oleh sayyidina Ali bin Abi Thalib. Adapun di saat itu pemimpin quraisy adalah Abu Sufyan yang merupakan orang terkuat di kalangan quraisy serta memiliki banyak tentara perang yang kuat dan juga memiliki harta yang banyak. Maaka di saat itu, di malam harinya Allah subhanahu wata’ala mengirim angin dahsyat yang bertiup di sekitar kota Madinah, namun angin tersebut tidak turun di Madinah. Melihat angin kencang yang tiada berhenti, Abu Sufyan mulai merasa risau dan kebingungan, sebab dia adalah orang yang mempunyai onta dan harta terbanyak, jika angin kencang itu tidak berhenti dan onta-onta akan terlepas dari ikatannya kemudian kabur, maka bagaimana ia akan membawa harta-hartanya. Kemudian ia memutuskan untuk memerintah para prajuritnya membongkar kemah-kemah dan kembali ke Makkah untuk menyelamatkan harta-hartanya. Dan ketika pagi menjelang tidak seorang pun dari kaum quraisy tersisa di Madinah Al Munawwarah. Demikian pertolongan Allah untuk hamba-hambaNya yang senantiasa dalam ketabahan dan kesabaran.

Selanjutnya kita bermunajat bersama semoga Allah subhanahu wata’ala menjaga kota Jakarta dan penduduk muslimin di wilayah ini selalu dalam kedamaian, serta dijauhkan dari gangguan-gangguan tangan yang ingin merusak dan merubah wilayah ini dan semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan kemenagan kepada kaum muslimin sebagaimana kemenangan yang terjadi pada kaum muslimin di perang Ahzab , amin allahumma amin.

فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا

Ucapkanlah bersama-sama

يَا الله…يَا الله… ياَ الله.. ياَرَحْمَن يَارَحِيْم …لاَإلهَ إلَّاالله…لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ اْلعَظِيْمُ الْحَلِيْمُ…لاَ إِلهَ إِلَّا الله رَبُّ اْلعَرْشِ اْلعَظِيْمِ…لاَ إِلهَ إلَّا اللهُ رَبُّ السَّموَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ وَرَبُّ اْلعَرْشِ اْلكَرِيْمِ…مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ،كَلِمَةٌ حَقٌّ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالَى مِنَ اْلأمِنِيْنَ. 

http://majelisrasulullah.org

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s