Mbah Wahab Chasbullah dan Rekruitmen Kader NU dari Mimpi

14141686_1074986349258703_6939995718257919075_n
Oleh: Rijal Mumazziq Zionis (Ketua PC LTN NU Kota Surabaya, alumus Pascasarjana UIN Sunan Ampel)

Seorang pemuda berusia 23 tahun mendirikan sebuah madrasah. Dia bercita-cita madrasah ini menjadi pelita bagi tanah airnya. Karena itu dia menamakannya Misbahul Wathan. Masykur, nama pemuda ini adalah alumni Pondok Pesantren Jamsaren, Solo; dan Tebuireng, Jombang. Dia mendirikan madrasah ini di Singosari, Malang, kampung kelahirannya.

Pada tahun 1923, mendirikan sebuah lembaga pendidikan bukan urusan mudah. Prosedurnya sangat ribet, apalagi untuk mendirikan sebuah sekolah Islam. Tambah rumit. Tapi Masykur tidak menyerah. Mula-mula dia menerima beberapa murid.

Di saat jumlahnya mulai bertambah, gangguan mulai datang. Pihak asisten wedana mulai mempersoalkan legalitas kelembagaan madrasah Misbahul Wathan itu. Demikian juga mengenai materi pelajaran yang diajarkan. Hampir setiap hari Masykur dikerjai. Dipanggil ke kantor wedana, ditanya ini-itu, lalu disuruh pulang. Otomatis aktivitas belajar-mengajarnya terganggu.

Beberapa wali murid juga menarik anaknya agar tidak lagi belajar di Misbahul Wathan. Mereka takut berurusan dengan hukum. Hanya tersisa beberapa murid saja. Kelak mereka inilah yang menjadi kader loyal saat Masykur menjadi salah satu tokoh penting negara ini.

Kondisi madrasah yang mulai tidak stabil membuat Masykur bersedih. Lembaga pendidikan yang dia dirikan terancam layu sebelum berkembang akibat gangguan pemerintah kawedanan. Satu hal yang senantiasa dia lakukan: bermunajat kepada Allah di akhir malam.

Hingga pada dinihari usai tahajjud, Masykur terlelap. Dalam mimpinya, dia merasa berada di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Ketika itu ada seorang laki-laki asing yang mempersilakannya menaiki perahu kecil lalu mengantarkannya ke tengah laut mendekati sebuah perahu besar layaknya kapal haji.

Setelah berada di kapal besar itu, dia melihat di sebuah ruangan ada dua orang sedang asyik bermusyawarah, masing-masing duduk di atas kursi menghadap meja bulat di bawah lampu yang sangat terang benderang. Terhadap satu sosok, Masykur tidak asing. Sebab dialah KH. M. Hasyim Asy’ari, gurunya saat mondok di Tebuireng dulu.

Satu sosok lagi memperkenalkan diri, “Nama saya Wahab, lengkapnya Abdul Wahab Chasbullah.” Kiai muda berperawakan kecil itu segera menjabat tangan Masykur dengan erat sambil tersenyum. Masykur terbangun dari tidurnya. Dia termenung memikirkan makna mimpinya tersebut.

Kehadiran Kiai Hasyim dalam mimpinya bukan pertama kali dan selalu membawa makna tersirat di dalamnya. Karena penasaran, keesokan harinya Masykur memutuskan sowan ke kediaman pengasuh Pondok Tebuireng tersebut. Menanyakan makna bahtera besar di tengah samudera dan sosok kiai muda misterius yang menjabat tangannya.

Kiai Hasyim Asy’ari tidak menjelaskan panjang lebar makna mimpi Masykur, melainkan malah menyuruhnya mendatangi Kiai Wahab Chasbullah, yang saat itu tinggal di kediaman mertuanya, Kiai Musa, di daerah Kertopaten, tak jauh dari kawasan Makam Sunan Ampel, Surabaya. Tak menunggu waktu lama, Masykur lekas bertolak menuju Surabaya. Dia langsung menuju ke kediaman Kiai Wahab.

Benar, sosok kiai muda yang lincah dengan sorot mata yang memantulkan watak cermat inilah yang menemuinya via mimpi. Kiai Wahab merangkul hangat Masykur lalu melibatkannya dalam obrolan mengasyikkan. Beragam tema dibicarakan hingga pada akhirnya Masykur curhat soal nasib madrasah rintisannya yang diganggu orang-orang dari kawedanan.

“Tenang saja, nanti saya bantu. Sekarang ayo Sampeyan saya ajak mampir-mampir.”

“Ke mana, Kiai?”

“Sudah. Ikut saya saja. Ayo naik…” ajak Kiai Wahab sambil membuka pintu mobilnya.

Tahun 1923, saat jumlah mobil masih bisa dihitung dengan jari, Kiai Wahab sudah memilikinya. Keuntungan dari usaha perdagangannya dan statusnya sebagai biro haji sudah bisa dipakai membeli mobil. Kedua aktivis pendidikan itu pun mampir ke beberapa tempat. Di Sekolah Nahdlatul Wathan, Masykur berdiskusi tentang pendidikan dan tantangannya dengan beberapa aktivis, antara lain Kiai Mas Alwi bin Abdul Aziz, yang kelak menjadi pengusul nama “Nahdlatul Ulama”.

Selesai dari madrasah yang didirikan Kiai Wahab bersama KH. Mas Mansoer itu, pada keesokan harinya Masykur diajak berpindah ke sebuah pertemuan: Tashwirul Afkar. Sebuah wadah diskusi kaum santri yang cukup dinamis di zaman itu. Banyak topik didiskusikan di sini oleh para kiai muda yang menjadi anggotanya. Rasanya, saat itu Masykur memperoleh tenaga yang tak habis. Semangat dan kelincahan Kiai Wahab seolah menulari dirinya.

Keesokan paginya, Masykur diminta pulang ke Malang. Adapun Kiai Wahab yang sudah berjanji membantu menyelesaikan masalah madrasah Misbahul Wathan milik Masykur menyusulnya beberapa hari kemudian.

Pada suatu pagi, beberapa hari setelah kunjungan Masykur, Kiai Wahab dengan mengendarai mobilnya meluncur ke Malang. Tepatnya di daerah Singosari, di kediaman Masykur. Tak mau menunggu terlalu siang, Kiai Wahab segera mengajak Masykur meluncur ke kantor kawedanan. Setelah berbasa-basi dengan wedana, Kiai Wahab segera mengeluarkan berbagai berkas dari tas kulitnya. Dokumen dan berkas izin pendirian Nahdlatul Wathan di Surabaya sekaligus izin dari pemerintah kolonial perihal status madrasah Misbahul Wathan milik Masykur.

“Tuan wedana. Mulai beberapa hari yang lalu, madrasah yang didirikan Kang Masykur sudah lengkap legalitasnya dan secara resmi menjadi bagian dari Nahdlatul Wathan Surabaya. Dengan demikian tidak ada lagi masalah legalitas dan sudah berkekuatan hukum. Demikian yang ingin kami sampaikan.” Kiai Wahab segera memberikan salinan berkas kepada wedana yang hanya bisa manggut-manggut.

Sebelumnya, surat izin penyelenggaraan pendidikan diurus oleh Kiai Wahab bersama Sidiq Sugeng Yudhodiwiryo, seorang santri yang menguasai seluk beluk hukum Belanda, dan kelak menjadi Sekretaris PBNU di kepengurusan awal. Sejak saat itu, Misbahul Wathan milik Masykur berada di bawah naungan Nahdlatul Wathan di Surabaya yang dikelola Kiai Wahab, Kiai Mas Alwi Abdul Aziz, dan Kiai Abdul Halim (ayah KH. Asep Saifuddin Chalim, Pengasuh PP. Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet).

Misbahul Wathan menjadi cabang Madrasah Nahdlatul Wathan Surabaya yang sebelumnya sudah memiliki cabang di berbagai daerah seperti Nahdlatul Wathan Sidoarjo, Akhul Wathan Malang, Far’ul Wathan dan Hidayatul Wathan di Jagalan-Surabaya, Khitobatul Wathan di Pacarkeling-Surabaya, dan Ahlul Wathan di Wonokromo Surabaya. Sejak saat itu, proses belajar-mengajar di Misbahul Wathan berjalan tiada hambatan. Tak ada lagi gangguan dari orang-orang kawedanan. Sehingga beberapa wali murid kembali memasrahkan anaknya dididik di sini.

Setelah NU berdiri pada 1926, atas ajakan Kiai Wahab, Masykur terlibat menjadi pengurus di organisasi ini sejak 1928. Saat itu dirinya sering bolak-balik Malang-Surabaya untuk berkantor di PBNU. Untuk memenuhi kebutuhan ekonominya, Masykur memelihara tiga ekor kuda. Dua ekor menarik dokar, yang dikusiri orang lain, dan satu ekor lagi dia gunakan untuk trasportasi dakwah di berbagai pelosok Malang.

Pada tahun 1943, Kiai Masykur terlibat dalam kursus ulama yang diinisiasi Jepang. Di kemudian hari, manakala Kiai Wahab dan Kiai Wahid Hasyim berhasil melobi Pemerintah Militer Jepang agar membentuk milisi santri bernama Hizbullah, Kiai Masykur terlibat dalam pendirian Hizbullah di beberapa daerah.

Manakala ulama mempertahankan kemerdekaan, mereka membentuk Barisan Sabilillah dimana Kiai Masykur disepakati menjadi panglimanya. Di level yang lebih muda, Laskar Hizbullah dipimpin oleh KH. Zainul Arifin. Keduanya berasal dari unsur NU.

Di era revolusi fisik, Kiai Masykur menjadi Menteri Agama Indonesia pada tahun 1947-1949 dan 1953-1955. Ia juga pernah menjadi anggota DPR RI (1956-1971) dan anggota Dewan Pertimbangan Agung pada 1968.

Siapa sangka jika rekrutmen kader NU yang dilakukan oleh Kiai Wahab melalui mimpi ini bisa menghasilkan kader berkualitas seperti Kiai Masykur. Kader terbaik yang bukan hanya membawa manfaat bagi NU melainkan juga untuk Bangsa Indonesia. Diolah dari “KH. Masykur” karya Soebagijo I.N (Jakarta: Gunung Agung, 1982), dan “KH. A. Wahab Chasbullah: Hidup dan Perjuangannya” karya Choirul Anam (Surabaya: Duta Aksara Mulia, 2015).

(Diedit ulang dari: http://www.halaqoh.net/)

 

 

 

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s