In Memoriam : Gus Dur

Gambar : Presiden Terong Gosong: Gus Yahya Staquf memimpin tahlilan

Seorang cendekiawan muda Aswaja, Drs. Sururi Arrumbani, M.Kub mengatakan: “Salah satu orang yang dikenal luas sebagai penelusur situs-situs makam ulama (wali) adalah Gus Dur”. Apa yang dilakukannya tidak sekedar ziarah, berdo’a dan untuk kepentingan diri sendiri. Tetapi apa yang dilakukan selama ini telah meninggalkan jejak bertebaran dan menjadi inspirasi banyak orang.

Dalam kitab primbon literatur Sarkub (Sarjana Kuburan), beliau disebut sebagai Presiden Sarkub, satu-satunya presiden yang kerap nyarkub ziarah ke makam-makam auliya. Dan juga gelar Profesor Sarkub  telah dikukuhkan oleh Universitas Menyan Indonesia.

Baca lebih lanjut

Iklan

Gus Mus: Sederhana, Gus Dur Tak Punya Dompet

Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH A Mustofa Bisri menyatakan, salah satu sikap dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang patut diteladani bangsa Indonesia adalah kesederhanaan. Kepribadian inilah yang menguatkan Gus Dur secara total melayani masyarakat tanpa menuntut pamrih apapun.

Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini menyampaikannya dalam peringatan seribu hari wafatnya Gus Dur di Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Kamis (27/6) malam. Ia didampingi, antara lain, oleh Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf, Prof Dr Quraish Shihab, Mahfud MD, dan puluhan pejabat, kiai dan habaib dari berbagai daerah.
Baca lebih lanjut

1000 Hari Gus Dur : Getaran Shalawat Habib Syech

Jakarta, NU Online
Wajah Ny Sinta Nuriyah tiba-tiba memerah. Matanya mulai berkaca-kaca. Sekejap kemudian tisunya pun basah oleh air mata. Istri almarhum KH Abdurrahman Wahid ini tak kuasa menahan tangis saat Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf mengawali senandungnya dengan Syi’ir Tanpo Waton.

Pesan lirik Syi’ir ini diakui sangat dalam sehingga mempesona banyak kalangan, termasuk Habib Syech. “Waktu saya mendengar Syiir itu, saya katakan, saya harus bisa niru,” tuturnya saat memimpin shalawat pada Peringatan 1000 Hari Kewafatan Gus Dur di Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Kamis (27/9).
Baca lebih lanjut

Hakikat Wali – Fikih Keseharian Gus Mus

Dalam tradisi keilmuan Nusantara, dikenal istilah wali. Diantara kata wali yang paling populer adalah ‘walisanga’ yang berarti wali sembilan sebagai penyebar Islam pertama di Nusantara. Wali juga biasa diidentikkan dengan seseorang yang memilki kelebihan (karomah). Sebagian dari masyarakat muslim mempercayai keberadaan dan ‘kelebihan’ yang dimiliki para wali dan sangat menaruh hormat kepada mereka. Kepercayaan itu diungkapkan dalam bentuk mengunjungi maqbaroh untuk bertawassul kepada mereka. Akan tetapi sebagian masyarakat yang lain tidak percaya dengan keberadaan wali bahkan menganggap para wali sebagai sarang ke-bid’ah-an. Hal ini terjadi karena miskinnya pengetahuan atau seringnya pemaknaan kata wali yang merujuk pada hal-hal negatif.
Baca lebih lanjut